Moscow Declaration: Rasionalitas Turki atas Syria

Moscow Declaration: Rasionalitas Turki atas Syria
by Arief Masdi*

lavrov

Menteri Luar Negeri Russia Sergei Lavrov (Tengah), Menteri Luar Negeri Turkey, Mevlut Cavusoglu (Kanan)  and Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menghadiri deklarasi Moskow, Russia December 20, 2016

Setelah kejatuhan Aleppo ke tangan Pemerintah Syria yg sah dan berdaulat, pada awal Desember yg lalu. Turki sbg salah satu pendukung oposisi syria (rebels)  nampaknya mulai bersikap realistis. Tdk ada lagi keinginan memaksakan jatuhnya Bashaar Assad dan tdk ada lagi sentimen sunni-syiah spt yg diproduksi sebelum dan selama perang oleh corong media Amerika dan Sekutunya.

Rusia, Turki, Iran sepakat menandatangani kesepakatan bersama untuk pemulihan syria dalam proposal Moscow Declaration yg ditandatangani tgl 20 Des 2016 lalu. Artinya, syria akan dipulihkan dari dampak perang, pengungsi ditangani, dan syria dijaga keamanannya termasuk menjaga dari serangan para teroris – kelompok militan seperti ISIS, Syrian Al Qaedah dan Jahbat Al Nusra.

Walaupun upaya kesepakatan kubu Moscow ini coba diganggu oleh aksi Mevkut Mert Altintas, seorang aktivis garis keras sunni yg menembak mati *Dubes Rusia, Andrei Karlov* di Turki pada tgl 19 Des 2016 atau sehari sebelum penandatanganan moscow declaration. Hehe… kaki tangan CIA dan Israel memanfaatkan kelompok garis geras islam. Betapa menggelikan.

Langkah Turki tsb, praktis meninggalkan sakit hati dan membuat berang pihak oposisi syria (rebels) yg diotaki oleh Amerika, negara2 NATO, Arab Saudi dan Qatar, karena Turki sendiri sebelumnya adalah bagian dari kubu pendukung opisisi, sampai kejatuhan kota Aleppo.

baca selanjutnya >

Advertisements

Aleppo : Tamparan untuk Erdogan dan Salman

Aleppo : Tamparan untuk Erdogan dan Salman
by : Subbhan A, blogger

Pada awal perang Syria, seorang pejabat Irak menemui komandan NATO dan bertanya : “Apa yang membedakan antara perang Syria dan perang Libya?”. Komandan NATO menjawab dengan jawaban pendek dan menggambarkan situasi secara tepat : “Russia is back”.

Ya Russia telah kembali memainkan peran pentingnya di Timur Tengah dan mengubah jalannya pertempurannya Syria secara dramatis. 3-Februari-2016, Tentara Arab Syria atau dikenal Syrian Arab Army (SAA) dengan dibantu milsi Badr Iraq, Hizbullah Lebanon, National Defence Force (NDF) dan didukung penuh Angkatan Udara Russia (RuAF) berhasil membebaskan pengepungan kota Nibbul dan Azzahra –dua kota di utara Aleppo- yang telah berjalan selama lebih dari 3 tahun.

CaTwF95WAAASNw9

[gambar : peta Aleppo yang terkepung tentara arab Syria, 4-Feb-2016]

Keberhasilan operasi militer SAA dan sekutunya di kedua kota penting ini melengkapi kisah heroik lain-nya : Pembebasan penjara Aleppo yg selama 13 bulan dikepung para teroris dan pembebasan Pangkalan militer Kweireis yang dikepung selama hampir 2 tahun.

[dan seandainya Syria merupakan Negara aliasinya USA, bukan tidak mungkin semua kisah perang di Syria akan mendapatkan tempat di perfilman Hollywood, mengingat betapa hebatnya dan heroiknya SAA dalam mengarungi perang Syria yang memakan waktu hamper 5 tahun]

Tidak berhenti sampai disitu, gabungan aliasi SAA, Hizbullah, NDF, Milisi badr Irak dan RuAF pada hari berikutnya malah berhasil menguasai kota Azaz yang menghubungkan kota Aleppo dan seluruh kota di provinsi Idlieb yang berbatasan dengan Turki. 35 ribu teroris Wahhabi saat ini terkepung total di Aleppo dan mengalami masalah supply senjata dan makanan yang biasa didapatkan dari Turki. Satu-satunya jalan bagi teroris untuk terbabas dari cengkraman SAA dan aliansinya cuma satu : NERAKA!

Dan jika Aleppo benar-benar terjatuh ke tangan pemerintahan Syria, maka perang Syria secara teknis selesai karena wilayah Syria di barat, timur maupun selatan, dan cepat atau lambat akan jatuh ke tangan pemerintahan Syria karena jalur supply dari utara (Turki) terputus. Perang hanya akan menyisakan wilayah utara Syria yang melibatkan Turki, Kurdi dan pasukan tentara Syria. Dan bukan tidak mungkin, perang yang tadinya hanya terjadi di wilayah Syria akan meluas ke wilayah Turki.

Apa artinya? Artinya semua cita-cita para pendonor perang Syria, untuk menjatuhkan Dr Bashar Assar dari tampuk presiden Syria akan gagal. Cita-cita Saudi dan Qatar untuk menguasai Syria, kandas. Cita-cita Erdogan membentuk imperium Ottoman yang meliputi wilayah Aleppo, Syria Utara dan Iraq Utara juga kandas. Cita-cita eropa untuk terlepas dari ketergantungan gas Russia juga kandas. Cita-cita Amerika untuk memotong salah satu kaki Russia di timur tengah juga kandas. dan yang paling penting, cita-cita Israel untuk menyingkirkan Syria yang pada akhirnya mengisolasi Iran dan Hizbullah juga kandas.

Inilah yang membuat Saudi, Turki dan Aliasinya marah. Di Riyadh, pasca jatuhnya Nibbul dan Azzahra ketangan SAA, Brigjend Ahmad Asiri yang juga juru bicara Koalisi Arab dalam perang Yaman, mengancam bahwa Saudi siap menerjunkan pasukan darat sebagai bagian dari koalisi international dibawah pimpinan Amerika Serikat untuk melawan Isis.

Beberapa hari kemudian, PM Turkey, Ahmet Davutoglu, didepan pejabat2 partai AKP bersumpah akan membayar hutang sejarah Turkey kepada saudara2nya di Aleppo yang membantu membela Turkey pada awal abad 20 :

“Kita akan membayar hutang sejarah kita. Dahulu, saudara kita di Aleppo bertempur bersama kita membela kota Sanliurfa, Gazintep dan Kahramanmaras dan sekarang kita akan membela Aleppo. Kita bangsa Turki akan berdiri bersama rakyat Aleppo”

Apa yang dimaksud oleh Asiri dan Davutoglu adalah jelas mereka tidak sedang mencoba memerangi Isis dan membela Aleppo. Karena jika mereka berniat memerangi Isis mereka akan melakukan jauh-jauh hari. Mereka hanya sedang kalap dan marah melihat para teroris dukungannya sedang menuju kekalahan memalukan. Dan niat sebenarnya keduanya adalah mencoba melakukan segala upaya yang mereka bisa untuk membantu para teroris keluar dari masalah dan kematian dan  lalu dapat meneruskan cita-cita mereka untuk menjatuhan Dr Bashar Assad dari kursi Presiden Syria dan menghancurkan Syria.

Tapi Keinginan Saudi dan Turki, ditanggap sinis dan skeptis oleh PM Russia, Dmitri Medvedev :

“Amerika serikat dan partner kita di Arab harus berpikir ulang : Apakah mereka menginginkan perang yang permanen? Apakah mereka berpikir akan memenangkan perang (Syria) secara cepat? Itu tidak masuk akal, khususnya ketika perang itu terjadi di Timur Tengah. Setiap orang bertempur dengan semua orang disana” (rt.com)

Russia sendiri sepertinya sama sekali tidak mau mundur. Bahkan ketika perundingan perdamaian di genewa diadakan, Russia masih memborbardir para teroris. Walaupun Amerika Serikat dan sekutunya berulang-ulang berbohong mengatakan bahwa Russia, Syria dan Iran lebih concern untuk memborbardir oposisi moderate daripada Isis, Russia bergeming. Russia sebenarnya bersikap moderate dalam menanggangi isu oposisi moderate. Tapi jika oposisi bersenjata itu terkait dengan Isis, Jahbat Nusra/Alqoida, Jaysh AlMujahidin, Harakat Nuruddin AlZinki, dan Harakat Ahrar Al-Syam, para pemimpin Russia berulang kali mengulang-ngulang statement bahwa mereka tidak akan mundur dan menghentikan bombardement sampai semua teroris Wahhabi tersebut terbunuh atau tertangkap. Inilah kenapa serangan massive Russia terhadap kelompok2 teroris tersebut terus dilakukan bahkan ketika perundingan perdamaian di Genewa dilakukan.

Akhirnya, kurang dari 5 bulan sejak keterlibatan Russia dalam perang Syria, tentara Arab Syria yang dibantu pasukan udara Russia, Hizbullah, NDF, IRGC dan milisi badr Irak telah dapat mengubah peta pertempuran, memaksa para teroris meninggalkan sarang dan benteng mereka di barat dan selatan Syria, membebaskan banyak daerah Syria dan memungkinkan rakyat Syria untuk kembali ke kota-kota dan desa yang telah dihancurkan teroris, dan menggagalkan konspirasi paling busuk yang ingin menghancurkan bangsa Syria.

Perang mungkin masih belum akan selesai, tapi pihak pemenang dan pecundang telah terlihat.

Apa yang diperoleh Syria dan sekutunya pasca konflik ini selesai? Syria akan memiliki ratusan ribu tentara yang terlatih di medan perang dan mental bertarung yang tak terkalahkan. Hizbullah akan bermetamorfosis menjadi milisi dengan mesin perang terbaik di dunia. Milisi shia Badr akan mendapatkan training dan pengalaman perang yang tidak mereka dapatkan di Irak karena pemerintah Irak lebih senang berkoalisi dengan USA, dan akhirnya Iran akan memiliki pemimpin masa depan dengan pengalaman tempur di medan perang yang sesungguhnya.

Last but not least, Russia dapat menguji coba semua peralatan militernya dari paling sederhana sampai yang paling canggih di medan perang ganas Syria, melatih para pilotnya dalam medan perang sesungguhnya, mengubah dan memperbaiki taktik militer sesuai perang modern, perang kota dari pintu ke pintu, dari sudut jalan ke sudut jalan lainnya. Kita akan menjadi saksi sejarah lahirnya Negara dengan kekuatan militer terbaik dalam hal peningkatan peralatan militer, strategi perang dan efisiensi serta kesiapan perang. Sebuah karakteristik mesin perang yang sempurna.

Tidak perlu dikatakan kesalahan besar yang dilakukan NATO, USA, Israel, Saudi Arabia, Turki dan seluruh Negara teluk yang mendukung perang ini : mereka semua -sadar atau tidak sadar- telah berhasil menciptakan musuh yang dalam jangka panjang akan menjadi musuh tangguh dalam perang yang berkepanjangan.

Apa yang didapat para teroris Wahhabi terlibat dalam perang kotor ini? Tidak ada, kecuali kekalahan yang memalukan dan kampanye yang gagal dalam jangka panjang. Mungkin awalnya, stragegi mereka terlihat mulus dengan membawa isu penegakan syariat islam dan kekhalifahan. Ditambah isu dengan shia-sunni, mereka mampu menipu ratusan ribu pemuda-pemuda cekak berpikir seluruh dunia untuk bergabung bersama mereka. tapi kini tidak lagi.

Telah timbul kesadaran global di arab khususnya dan dunia umumnya, bahwa musuh sejati kemanusiaan adalah radikalisme atas nama agama yang bernama Wahhabi. Perang Syria telah berhasil membuka kedok Wahhabi. Di masa depan, Wahhabi akan kesulitan untuk menipu manusia dengan slogan-slogan kosongnya mengenai syariat islam dan kekhalifahan. Karena faktanya, yang mereka perjuangkan adalah kepentingan mereka sendiri. Mereka memusuhi dan membunuh siapapun yang mereka temui : sunni, shia, sufi, Kristen, yezidi, kurdi, Armenia, alawi, druze dan semua kaum minoritas.

Maka jangan heran, jika di awal-awal konflik syria, para teroris terlihat begitu mudah menguasai wilayah Syria-Iraq, mereka kini harus berdarah-darah bahkan hanya untuk mempertahankannya.

sumber :
1. Russian hands-off warning to US, Saudis, Turks amid crucial Aleppo battle

2. Russian PM warns US, Saudis against starting ‘permanent war’ with ground intervention in Syria

3. Syria: The winners and losers are becoming clear in this war

4. JUBILATION ERUPTS IN NIBBUL AND AL-ZAHRAA` AS SYRIAN ARMY ENTERS TO EXTERMINATE SAUDI CANNIBAL TERRORISTS

5. The Aleppo Pocket: Turkey Running Out of Time for Its Plans to Invade Syria

Kemajuan Kampanye Militer Putin di Syria, Pusingkan Koalisi USA

Lebih dari 13 bulan koalisi USA membombardir militan pemberontak di syria dan Irak. Koalisi USA melakukan 9000 serangan mendadak selama kampanye militernya.

Hasilnya: ISIS malah mengusai provinsi Anbar Irak, Mosul Irak,  Palmyra Syria, Yarmouk Syria, sebagian Aleppo dan banyak pedesaan Syria. Belum lagi kemajuan faksi teroris syria lainnya di banyak kota syria.

Padahal, ketika USA menyerbu Irak, USA melakukan 9000 serangan mendadak hanya dalam waktu 48 jam. Dan hanya dalam tempo 2 minggu, pasukan koalisi USA sudah sampai didepan gerbang istana Saddam di Baghdad.

Dan jika sampai hari ini masih banyak simpatisan teroris mengkhayal betapa hebatnya para teroris wahhabi dalam melawan koalisi USA, saya cuma bisa bilang: Fuck!

Kalian mungkin bisa membodohi makhluk-makhluk cingkrang otak, tapi jangan coba-coba bodohi kami. Idola kalian -para teroris wahabi- tidak sehebat yang kalian pikirkan, dan jika bukan karena dukungan tanpa batas Turki, Saudi, Qatar, USA dan Nato, maka sejak lama tentara arab Syria dapat mengusir bahkan menghabisi para teroris.

Dan kebohongan kampanye militer USA dan dukungan diam-diam kepada para teroris mulai terekspose ketika Russia memulai operasi militer di syria, 30-september-2015.

Hanya dalam waktu sebulan, tentara Arab Syria (SAA) dibantu Hezbollah dapat mengambil kembali wilayah syria seluas 500 km2. Dan 3 bulan setelah kampanye militer Russia, SAA dan hezbollah dapat merebut Homs sepenuhnya, membebaskan kuwaeres yg telah dikepung teroris wahabi selama lebih dari 2 tahun, membebaskan banyak desa di selatan dan barat aleppo (dan hanya soal waktu utk merengsek hingga kota Aleppo), membebaskan banyak kota di syria utara yg berbatasan dengan Turki, Lattakia hampir bebas sepenuhnya dan mengalami banyak kemajuan di Damaskus Timur, Daraa, Idlieb, Hama dan Palmyra.

Dan jika Russia, SAA dan hezbollah dapat menjaga momentum ini, paling tidak sampai pertengahan tahun depan, mereka dan rakyat syria dapat mengusir para teroris wahabi  dari bumi tercinta Syria. Allahu Akbar! Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad.

Amerika tahu hal ini, Obama tahu hal ini, Kerry mengetahui dengan jelas fakta ini dan para Elite Amerika yang mengendalikan perang syria, juga tahu hal ini.

Karena itu, mereka tergopoh-gopoh mendatangi Putin meminta gencatan senjata untuk menyelamatkan para teroris wahabi dukungannya. Sangat aneh jika Amerika meminta gencatan senjata, sementara yang sedang Russia dan Syria perangi adalah para teroris dan bukannya sebuah negara. Kecuali karena alasan Amerika mengkuatirkan kekalahan para teroris binaanya, maka tidak alasan lainnya.

Untuk itu, saya sertakan artikel dari Mike Whitney, seorang kontributor “AK-Press” dan berbasis di Washington. Mike Whitney dengan sangat bagus membongkar motif sebenarnya Kerry dan pemerintahan Obama ketika menemui Putin.

Selamat menikmati!

Kemajuan Kampanye Militer Putin di Syria, Pusingkan Koalisi USA
oleh : MIKE WHITNEY

kerryputinmoscow-510x321

Sangat luar biasa bahwa pemimpin Barat hanya ingat mengenai gencatan senjata ketika para teroris (wahhabi) kehilangan banyak wilayah (di syria). Kenapa mereka tidak membawa perdamaian di tanah syria sebelum operasi militer Russia dimulai?

-Iyad Khuder, analyst politik Damaskus

Bayangkan jika rakyat Amarika memilih presiden yang jauh lebih buruk dari George W Bush atau Barack Obama. Seorang diktator tulen. Apakah hal tersebut cukup untuk menjustifikasi bagi seseorang seperti Vladimir Putin mempersenjantai dan melatih para tentara bayaran Kanada dan Meksiko untuk menginvasi Amerika, membunuh rakyat sipil, menghancurkan kota dan infrastrukture, menguasai ladang minyak dan pipa gas, menyembelih pegawai pemerintahan dan para tawanan yang ditangkap, mendeklarasikan negara sendiri dan melakukan segala cara untuk menjatuhkan presiden terpilih?

Tentu tidak, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan bodoh. Tidak peduli seberapa buruknya presiden Amerika, itu bukanlah alasan untuk menginvansi amerika menggunakan tentara bayaran asing. Dan ya, kebijakan bodoh itulah yang dipertahankan John Kerry, sekretaris Negara USA, didepan sidang PBB jumat 18-Desember-2015. Dengan alasan omong kosong “Jalan menuju perdamaian”, Kerry diam-diam mempertahankan kebijakan USA di syria yang menyebabkan kematian lebih dari 250 ribu rakyat syria dan menghancurkan negara syria.

Dan ingat, Kerry tidak membawa kasus ini ke Sidang PBB karena Amerika serius untuk mencapai perdamaian. Itu omong kosong. Apa yang Kerry inginkan adalah sebuah resolusi yang dapat melindungi para teroris wahhabi dari kekalahan akibat gempuran Russia. Pemerintahan Obama melihat dengan jelas akan kekalahan para teroris wahhabi dukungannya dan kemenangan Russia, jadi mereka berupaya merancang rencana untuk melindungi para teroris dilapangan. Karena itu mereka begitu ngotot untuk meminta gencatan senjata. Itulah alasan kenapa Kerry menginginkan “Perpanjangan waktu” agar diantara para teroris wahabi yang bertikai dapat bersatu membentuk group yang lebih kuat atau mundur.

Mari kita lihat ringkasan keputusan PBB dan anda akan melihat maksud dari keinginan Kerry:

Resolusi pertama akan memfokuskan pada upaya politik untuk mengakhiri perang yang telah berjalan selama 5 tahun, maka Dewan Keamanan hari ini akan memberikan peran lebih kepada PBB untuk mengawal pihak oposisi berunding mengenai transisi politik, penjadwalan gencatan senjata, konstitusi baru dan pemilu dibawah naungan PBB.

(Dewan Keamanan) mengakui hubungan erat antara gencatan senjata dan proses politik secara paralel, dan memberlakukan sesegera mungkin bagi semua pihak untuk memulai langkah awal menuju transisi politik di bawah naungan PBB

Resolusi itu meminta kepada Ban Ki-Moon melalui kantor Utusan Khusus, Staffan de Mistura, untuk menentukan segala hal yang berkaitan dengan gencatan senjata dan rencana untuk mendukung pelaksanaannya, sementara mendesak negara-negara anggota, khususnya anggota ISSG, untuk mempercepat semua upaya untuk mencapai gencatan senjata , termasuk menekan semua pihak yang terkait untuk mematuhinya.

[baca : Dewan Keamann berikan peran lebih kepada PBB]

Untuk memastikan keperluan monitoring gencatan senjata dan mekanismenya, Dewan akan meminta Ban Ki-Moon untuk melaporkan kembali hasil opsi tersebut dalam satu bulan dan meminta negara2 anggota untuk memberikan ‘pengalamannya sebagai bentuk kontribusi’ untuk mendukung mekanisme tersebut’. “

Lihat apa yang saya maksudkan: gencatan senjata, gencatan senjata dan gencatan senjata. Semuanya tentang gencatan senjata. Kerry ingin gencatan senjata. Obama ingin gencatan senjata. Pihak Elite Amerika Serikat ingin gencatan senjata. Bukan, bukan neokon, bukan intervensi liberal dan bukan petualang politik seperti Ash Carter di Pentagon, tapi sejumlah Elite puncak (the Elite) -yang mengendalikan amerika- yang sejak awal merancang krisis syria  dan mengetahui ke arah mana krisis akan berjalan. Mereka sekarang beralih ke plan B yang mana mereka fokus menekan kerugian akibat kalah perang dan menyelamatkan sebanyak mungkin para teroris yang mereka dukung. Biasanya, mereka yang mendanai, mempersenjatai, melatih dan mengirim para teroris wahhabi akan merasa bertanggung jawab akan keselematan mereka sehingga para Elite akan melakukan apapun yang dirasa perlu untuk menyelamatkan mereka.

Itulah kenapa ada Kerry. Tugas Kerry adalah terbang menuju Moskow, memberitahu Putin bahwa Obama mengubah pendiriannya mengenai perubahan Rezim (Syria) dan membawa hasil pertemuan dengan pihak Kremlin ke dewan PBB. Tujuan utama semua kebohongan ini adalah menggalang dukungan internasional untuk menjadikan kelompok teroris wahhabi sebagai “oposisi moderat” dan bergerak ke arah gencatan senjata dibawah mandat PBB yang dapat menghentikan serangan Rusia terhadap para teroris!

Tapi bukankah itu yang diinginkan semua orang, mengakhiri permusuhan?

Sama sekali tidak. Perang melawan teroris sangat berbeda dengan perang antar negara atau perang saudara. Sebuah kelompok teroris seperti Jabhat al-Nusra atau Ahrar al-Sham, misalnya, tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama sebagaimana mempelakukan oposan politik. Mereka adalah kaum fanatik agama yang bertekad mendirikan kekhalifahan dengan menggunakan segala cara. Kita tidak bisa berdialog dengan para teroris seperti ini; mereka harus ditangkap atau dilenyapkan. Inilah yang Rusia sedang lakukan. Rusia sedang melakukan pembersihan secara progresif dari ancaman teroris di Syria yang beresiko mengancam kepentingan Russia dan kepentingan sekutu Russia – Iran, Hezbolah dan Tentara Arab Syria.

Apa yang Kerry lakukan adalah sebuah bentuk kampanye untuk menggagalkan dan menghambat kemajuan anti-teror yang dikomandoi Rusia. Dan Kerry bersedia berbohong untuk melakukannya.

Inilah yang Kerry katakan di Moskow, Selasa 16-Desember-2015:

“Saya tekankan sekarang bahwa Amerika Serikat dan sekutu kami tidak menginginkan apa yang disebut perubahan Rezim (Syria)”

Dan persis sehari setelahnya, Kerry mengulang kembali perubahan dramatis dari kebijakan Obama:

“Kita tidak mencoba melakukan perubahan rezim. Kita tidak terlibat dalam revolusi berwarna (Syria). Kita tidak sedang mencoba mengintervensi negara lain. Kita sedang mencoba membuat perdamaian”

Okay, sampai disini apakah Amerika benar-benar tulus mengenai Syria?

Tidak. Kerry berbohong seperti biasanya. 24 jam kemudian, terjadi perubahan dramatis dalam kata-kata Kerry:

Rusia tidak dapat menghentikan perang bersama Assad karena Assad adalah alasan semua pejuang asing datang (ke Syria). Assad adalah magnet para teroris karena mereka datang untuk memerangi Assad. Jadi jika kalian ingin menghentikan perang di Syria dan kita juga, jika kalian ingin memerangi Isis dan menghentikan berkembangnya teroris, anda harus menyelesaikan masalah terkait Assad. Itu tidak berarti kita ingin mengganti semua aspek dari pemerintahan (Syria)

[baca: USA tidak meminta perubahan rezim Syria tapi Assad harus pergi]

Dapat idenya? Jadi, Amerika tidak mendukung perubahan rezim Syria tetapi pada saat yang sama bersikukuh dengan pendapat: Assad harus pergi.

Kemunafikan yang luar biasa.

Kebenarannya adalah tujuan pemerintahan Obama hanyalah menjatuhkan Assad. Kerry berniat membohongi Putin, mendapatkan persetujuannya dan membawa hasilnya untuk mendukung resolusi bodohnya di PBB. Dan sebagai hasilnya, nama Assad tidak pernah disebutkan sekalipun dalam semua resolusi. Kerry berpikir bahwa ini adalah kemenangan besar bagi Amerika Serikat. Tapi itu bukan kemenangan. Faktanya, semua permintaan Russia dikabulkan melalui resolusi PBB nomer 2254 yang berisi semua permintaan Putin yang pernah diajukan pada Komunike Genewa 2012.

Assad tidak pernah disebut dalam resolusi 2254 karena penyebutan nama presiden  tidak diperlukan untuk menetapkan kondisi:

1. pemerintahan transisi
2. pembentukan konstitusi baru dan negara sekuler syria
3. pemilu yang bebas dan adil untuk memastikan rakyat Syria dapat mengontrol masa depan mereka sediri.

Pada 2012, pemerintah USA menolak semua kondisi ini kecuali Assad dikeluarkan dari partisipasi dalam pemerintahan transisi. Sekarang USA mengubah posisinya terhadap Assad yang berarti semua permintaan Moskow telah disetujui. Resolusi 2254 merupakan bentuk kapitulasi pemerintahan USA. Ini adalah kekalahan diplomatik memalukan yang tidak ada satupun orang di media bersedia mengakui.

Jadi apa yang Kerry dapatkan dengan semua kebohongan dan manuver liciknya?

Tidak ada. Bahkan, ia menyerahkan semua yang dia punya dengan membuat sejumlah konsesi demi mendapatkan dukungan Russia.

Apa “konsesi” yang kita bicarakan?

Berikut adalah daftar singkat-nya:

Kerry bertemu dengan Putin di Moskow pada 15 Desember 2015. Pada tanggal 16 Desember, IMF memutuskan mendukung Rusia atas klaimnya sebesar $3 milyar melawan Ukraina:

“Dewan eksekutif IMF telah mengakui bahwa utang Ukraina sebesar $3 milyar kepada Rusia adalah sah dan diakui”

“Dalam kasus Eurobond, pemerintah Rusia secara resmi mewakili kasus ini. Informasi yang tersedia mengenai  sejarah klaim ini, mendukung tuntutan (russia)”

[baca: IMF akui Ukraina utang $3 milyar kepada Russia]

Syarat apa saja yang anda pikir harus dipenuhi Washington agar tercapai kesepakan ini?

Masih tanggal 16-Desember-2015, pemerintah USA mengumumkan bahwa mereka menarik pesawat F-15 dari pangkalan Turki dengan segera. Cerita seperti ini  :

12 pesawat tempur F-15 yang sejatinya di kirim ke pangkalan militer Incirlik Turki untuk menjaga wilayah udara Turki, tiba-tiba ditarik kembali menuju Inggris. Pemindahan pesawat tempur tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik dan negosiasi militer di wilayah tersebut dengan Rusia.

Sehari sebelum penarikan pesawat tempur F-15, Kerry berada di Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York pada hari jumatnya mengenai Suriah dan upaya USA untuk keluar dari masalah Presiden Bashar al-Assad.

[baca : Angkatan Udara USA mulai tarik pesawat tempur F-15 dari Turki]

Kebetulan lain?

Sepertinya tidak.

Lalu ada ini: Pada tanggal 17 Desember, Obama mengijinkan tuntutan Rusia untuk meng-golkan resolusi PBB yang mengungkap rahasia pendanaan ISIS dan “memperkuat langkah hukum terhadap mereka yang melakukan bisnis dengan kelompok teroris”. Menurut RT.com :

Resolusi ini merupakan upaya bersama USA dan Russia yang keduanya memimpin kampanye anti-ISIS di syria. Kata kunci dari resolusi ini adalah “membuat kerangka untuk mengungkap dan menggagalkan upaya-upaya ilegal dalam rangka membantu pendanaan ISIS dan kelompok teroris terkait, melalui perdagangan minyak, artefak sejarah dan sumber-sumber ilegal lainya”

Resolusi tersebut disebutkan dalam piagam PBB pasal VII dan bersifat mendesak segera serta meminta kepada anggotanya “untuk bergerak dengan penuh semangat dan tegas untuk memotong aliran dana ISIS”.

[baca: Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menerima resolusi yang menargetkan keuangan ISIS]

Tapi apakah resolusi tersebut benar-benar diinginkan Obama, untuk mengekpose aliran keuangan ISIS dan para teroris lainya dan yang jelas-jelas mendapatkan dukungan utama dari sekutu utama Washington di Teluk (turki, qatar dan saudi)?

Jelas tidak. Kerry berharap dengan dukungannya terhadap resolusi tersebut akan membantunya mengadakan gencatan senjata (dan mendapat persetujuan Russia).

Akhirnya, pada tanggal 18-Desember-2015, Obama memberi tahu Erdogan agar dia menarik tentaranya dan tank dari wilayah Irak:

Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mendesak sekutunya Turki, Erdogan, untuk menarik dengan segera para tentaranya dari wilayah Irak dan menghormati kedaulatan negara Irak. Pada percakapan telepon hari Jumat, Obama mendesak Erdogan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menurunkan tensi tegangan dengan Irak termasuk penarikan pasukan militer Turki

Obama juga meminta kepada Erdogan untuk menghormati kedaulatan dan intergritas territorial Irak

300 kontingen Turki yang didukung 20-25 tank telah ditempatkan di pinggiran Mosul, ibu kota propinsi Nineveh, 4-December-2015.

[baca : Obama meminta Erdogan menarikan pasukannya dari Irak]

Dengan lain kata, sejak pendudukan Turki tanggal 4-Desember-2015, Obama tidak pernah merespons-nya sampai 2 hari setelah pembicaraan Kerry dengan Putin di Moskow.

Kebetulan lain?

Mungkin tidak. Disetiap peristiwa, USA selalu melakukan upaya serius untuk membujuk Putin menyetujui usulan Kerry di dewan Keamanan PBB (catatan: Obama mengetahui sebelumnya rencana Turki untuk menyerang Irak, faktanya: pejabat penting Turki mengkonfirmasi klaim ini dengan mengatakan bahwa semua negara yang relevan telah diberitahu tentang penyebaran pasukan. lihat disini)

Seperti yang saya katakan sebelumnya: Kerry memberikan apapun yang dia punya demi tercapainya kesepakatan yang tidak memiliki dampak apapun terhadap hasil akhir perang. Hal yang tragis, mengingat segala upaya kebohongan diplomatik (yang dilakukan Kerry) tapi tidak mengubah apapun. Masa depan Syria akan tetap diputuskan di medan laga dan tidak di PBB atau meja perundingan. Washington sejak lama telah memilih opsi penggunaan kekuatan senjata untuk mencapai ambisi geopolitiknya. Dan sekarang para oposan terorganisir (koalisi Rusia) telah muncul yang secara terbuka menantang proxy yang didukung AS dan meninggalkan Washington dengan hanya dua pilihan: melawan atau mundur.

Tetapi, bukankah hasilnya selalu seperti itu? Jika anda mendesak seseorang sedemikian rupa, maka mereka akan mendesak anda kembali.

Artikel asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca disini

Russia Strong

Russia Strong
by Subbhan A, Blogger

index
Bagaimana bisa, Russia, negara yang dikatakan “tidak memproduksi apapun”, yang digambarkan memiliki ekonomi yang lebih kecil dari Inggris dan bahkan spanyol, yang bahkan disebut-sebut menuju kebangkrutan, dapat melakukan kampanye militer besar-besaran di syria bahkan hingga lebih dari 2 bulan?

Jelas bahwa skala ekonomi russia jauh lebih besar yang digambarkan dari media barat. Tidak saja Inggris maupun spanyol tidak bisa menyamai Russia dalam kampanye militer di syria, mereka bahkan tidak bisa membangun progam raksasa luar angkasa, membangun roket sekelas Angara, menggelar militer di lautan Artic, mengembangkan nuklir, dan mengembangkan senjata SAM Missiles system S-400, S-400s dan S-500.

Russia juga mampu membangun jembatan crimea secara cepat pasca crimea menyatakan bergabung dengan Russia, membangun versi google sendiri : Yandex, membuat GPS versi russia: Glonas, dan mengembangkan alternativ SWIFT selepas Russia menerima embargo, dan membuat versi Visa Master ala Russia.

Dan Russia melakukan itu pada satu waktu dan tanpa gejolak! Dan ditengah resesi defisit anggaran Russia sebesar 3pct dari PDB, utang Russia bahkan masih jauh lebih rendah dari utang manapun negara Barat.

Apakah lantas masyarakat Rusia menjalani standar hidup yang lebih rendah karena Ini?

Hampir tidak! Sampai tahun 2015, standar hidup di Rusia naik setiap tahun sejak tahun 1998. Standard hidup di Russia, khususnya Moskow, bahkan menyamai standard hidup masyarakat maju di Eropa.

Banyak yang mengira, Russia dapat melakukan hal diatas karena uang dimiliki dari sektor energy. Menurut saya ini berlebihan. Industri energi Russia hanya menyumbang 16% dari PDB Rusia, sisanya justru dari manufakture, kontruksi, transportasi, dll. Sepertinya, menggunakan ukuran konvensional PDB Rusia berdasarkan dolar AS untuk mengukur skala ekonomi Russia adalah salah. IMF dan Bank Dunia lebih memilih untuk memperkirakan PDB Rusia atas dasar paritas daya beli. Atas dasar itu Rusia memiliki ekonomi terbesar kelima di dunia, kira-kira seukuran Jerman. Bahkan perkiraan itu menurut saya adalah salah. Ini tidak berarti bahwa statistik-nya yang salah. Tapi mungkin karena kita membandingkan dua statistik yang berbeda dari dua ekonomi yang sama sekali berbeda.

Saya bisa mengatakan bahwa ekonomi Rusia beroperasi pada skala yang jauh lebih besar dari Jerman. Secara fisik tidak mungkin bagi Jerman untuk melakukan banyak hal seperti yang Rusia lakukan. Sebaliknya tidak ada yang Jerman lakukan dan yang Rusia tidak bisa melakukan.

Satu-satunya Negara yang dapat menyamai bahkan melampaui kemampuan Russia dalam hal teknologi dan eknomi, adalah Amerika Serikat dan Cina. India, Jerman, jepang, Inggris, Spanyol dapat melakukan beberapa hal yang Russia lakukan, tapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat melakukan yang semua Russia lakukan. Tidak ada dari mereka yang setara dengan Russia.

Berapa Biaya Kampanye Syria?

Seberapa besar biaya yang diperlukan Russia untuk melakukan kampanye militer di Syria dan menghabisi para teroris yang beroperasi di sana?

MoscowTimes memberi tahu kita, bahwa biaya yang dikeluarkan Russia sejak kampanye militer tanggal 30-September-2015 sampai 20-October-2015 adalah sebesar 80-115 juta dollar. Kira-kira sehari dana yang diperlukan 4 juta dollar. Biaya tersebut meliputi biaya peralatan militer darat (tank, senjata, amunisi), udara termasuk rudal udara ke darat dan pesawatr tempir, keperluan logistik harian serta infrastrukture.

Mari kita bandingkan dengan budget militer Russia setahun yang besarnya 50 milyar dollar dan kita hitung berapa lama Russia mampu melakukan kampanye militer di syria.

Biaya sebulan operasi militer = 100 juta dollar (ambil nilai moderat)
Biaya setahun operasi militer = 100*12 = 1.2 milyar dollar

Total tahun kampanye militer = 50 milyar / 1.2 milyar
= 50 milyar / 1.2 milyar tahun
= 41 tahun!

Dan jika mengingat cadangan Russia sebesar 500 miliyar dollar dan kita asumsikan dalam keadaan terdesak Russia menggunakan dana ini, maka Russia mampu mengebom para teroris wahabi selama 410 tahun!

Sampai khalifah Al-Baghdadi (ISIS) dan Mohammad Al-Joulani (jahbat Nusra) dan para teroris mati kemudian digantikan anak, cucu, cicit dan keturunannya hingga 7 turunan, Russia mampu menghabisi dan mengebom mereka setiap hari, 7 kali seminggu selama 410 tahun!

Kepada para pendukung teroris wahhabi, saran yang saya bisa sampaikan adalah lupakan tentang biaya perang Russia. Russia masih dan sangat tangguh mengebom idola kalian bahkan sampai kalian mati.

Source :

  1. https://www.rt.com/business/317368-russia-crimea-kerch-bridge/
  2. http://www.russianspaceweb.com/angara5.html
  3. https://rbth.com/science_and_tech/2015/06/10/russia_plans_to_launch_glonass_in_2015_46803.html
  4. Putin tells West Russia will develop own card payment system
  1. http://www.tradingeconomics.com/russia/indicators
  2. http://www.themoscowtimes.com/business/article/calculating-the-cost-of-russias-war-in-syria/540015.html
  3. Why Russian Standard of Living Is Higher Than May Be Gleaned From Statistics
  4. Space development in Russia