Serial para Kriminal: Ikhwanul Muslimin Syria

Serial para Kriminal: Ikhwanul Muslimin Syria
Oleh: subbhan a (blogger)

Hafeez Assad bersama Rifaat Assad, komandan pembersihan Hama 1982 dari anasir jahat Ikhwanul Muslimin

tidak ada yang lebih membahayakan islam kecuali (mereka yang) mendistorsi makna islam sambil  memakai jubah2 islam.
Inilah yang kriminal ikhwanul muslimin sedang lakukan!
Mereka membunuh atas nama islam.
Mereka membantai atas nama islam.
Mereka membantai anak2, wanita dan orang tua atas nama islam.
Mereka menghancurkan sebuah keluarga atas nama islam.
Mereka ulurkan tangan mereka kepada orang asing dan agen2nya di perbatasan negara kita.
Mereka ulurkan tangan mereka untuk menerima uang dan senjata dan menggunakannya untuk mengkhinati negara ini dan menghancurkannya.

Lalu mereka membunuh warga sipil negara ini, dan menghabisi sebuah keluarga didesa dan dikota.
Inilah yang kriminal ikhwanul muslimin lakukan!
Inilah yang kriminal Ikhwanul Muslimin lakukan!
Mereka menerima uang dan senjata untuk membunuh negara ini, menghancurkan negara ini dan melemahkan negara ini” (Hafeez Assad, Januari 1982)

Damned! I love Hafeez Assad!

Orasi yang mengesankan. Hafeez Assad mengucapkan pidato ini 35 tahun lalu, tapi setiap katanya menggambarkan secara persis perilaku kriminal Ikhwanul Muslimin.

Perilaku kriminal ikhwanul muslimin tidak berubah. Dahulu maupun sekarang. Kekerasan adalah bahasanya. Kekuasaan adalah cita2nya. Dusta dan propaganda adalah bajunya. Dan islam dijadikan topeng untuk menutupi kebusukan hatinya.

Dan syria telah berkali-kali menjadi korban keganasan perilaku Ikhwanul Muslimin.

Syria yang hancur lebur dalam Perang kotor yang digagas dan dikomandoi ihwanul muslim sejak tahun 2011 sampai sekarang, sejarahnya dapat dilacak sejak pertempuran panjang pemerintah Syria melawan ikhwanul muslimin sejak tahun 60an dan berakhir dramatis dalam peristiwa Hama 1982.

Berapa kali selama ini kita diberitahu bahwa Hafeez Assad secara sistematis  telah membantai 20 ribu hingga 40 ribu rakyat syria dalam peristiwa Hama 1982?

Pencarian sederhana melalui google mengenai peristiwa hama 1982, mengkonfirmasi kedustaan ini. Media2 pendukung kriminal ikhwanul muslimin, spt aljazera maupun alrabiya, menyebutkan estimasi angka fantastis utk menggambarkan kekejaman Hafeez Assad. Middle East Watch, menyebut peristiwa hama 1982 sebagai peristiwa “the great repression” dalam reportnya tahun 1991. Dan sudah jamak jika peristiwa Hama 1982 disebut “Hama Massacre”

Dan tidak heran jika kemudian para simpatisan kriminal ikhwanul muslimin selalu mengulang2 peristiwa hama 1982 sbg justifikasi dan pembenaran alasan utk menjatuhkan presiden Bashar Assad skr. Lebih jauh lagi, sbg alasan pembenaran revolusi syria yg telah memakan korban ratusan ribu nyawa.

Namum dengan adanya UU kebebasan informasi Amerika Serikat, memungkinkan publik untuk mengakses dokumen US Defense Intelligence Agancy (DIA) mengenai peristiwa hama 1982 yg dibuka tahun 2012.  DIA ditulis pada medio Mei-1982, 3 bulan pasca kejadian. Tidak hanya menjelaskan betapa krimininalnya ikhwanul muslimin, DIA juga mengungkap korban tewas dari pihak ikhwanul muslimin hanya sekitar 2000 ribu teroris. Angka real mestinya tidak jauh dari itu tapi sangat jauh dari angka berlebihan sekitar 20 ribu atau 40 ribu seperti yang diungkap oleh media2 massa mainstream. Itupun yang tewas adalah para teroris bersenjata.

Laporan DIA ini juga sesuai dengan kesaksian Bill Rugh, wakil kepala misi Syria 1981-1984. Seperti yang diungkap Bill Rugh dalam tulisannya di Middle East Policy Council:

“Pada tanggal 29-November-1981 saya sedang duduk dikantor kedubes USA di damaskus syria. Ketika saya mendengar ledakan dahsyat. Sebuah bomb mobil meledak persis didepan kantor pusat Angkatan Udara Syria. Ledakan ini menghancurkan bagian depan bangunan dan jendela. Ledakan itu juga melontarkan bagian2 tubuh manusia ke sekolah komunitas Amerika yang berada di seberang jalan. Kami memperkirakan ada sekitar 60 orang tewas. Orang tua dan anak2 di sekolah shock dan trauma.

Serangan ini tdk ditujukan langsung kepada Amerika serikat, tapi menjadi bagian serial serangan yang sudah dilakukan Ikhwanul Muslimin selama 5 tahun kebelakang terhadap pemerintah syria.

Lalu 9 minggu kemudian, peperangan besar terjadi antara pemerintah syria melawan Ikhwanul Muslimin. Perang pecah di kota Hama, 100 mil utara Damaskus.

2-Februari-1982, tentara syria mengepung Hama, untuk menumpas pemberontakan Ikhwanul Muslimin. Tapi tentara syria dihadang banyak penembak jitu. Segera terjadi peperangan diantara mereka.

Tidak ada berita yang keluar mengenari peperangan terebut, tapi atase militer kita melalui sumber2 dilapangan dapat mengikuti perkembangan Hama secara ketat. Karena itu tugas mereka.

Dari laporannya, kita tahu pemberontak banyak menggali terowongan dan tentara syria yg dikepalai saudara Hafeez Assad, Rifaat Assad, telah mengepung kota dari berbagai sisi. Pertempuran berlangsung selama 27 hari dan tidak ada berita yang keluar di media massa tapi setiap orang di Damaskus tahu persis bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di Hama. Ketika atase militer kita berhasil memasuki kota, mereka menemukan hanya bagian kecil kota yang rusak. Beberapa gedung dan masjid rata dengan tanah.

Sebenarnya tidak seluruh kota dihancurkan. Saya memasuki Hama maret 1982, beberapa minggu setelah pertempuran usai. Dan banyak bagian kota berjalan normal seakan2 tdk terjadi apa2. Banyak gedung komersial yang bahkan tidak tersentuh pertempuran. Saya mengunjungi lapangan utama, tempat favorit turis, dan saya melihat roda kayu raksasa abad ke-13, yang tingginya 90 kaki, masih berdiri kokoh ditepi sungai Orantes yang membelah kota Hama.

Saya melihat gedung seluas lapangan sepak bola rata dgn tanah. Dan berdiri disitu, saya masih melihat semua area disekitarnya masih berdiri seakan2 tdk terjadi apa2.

Saya mengunjungi Hama kembali tahun 2005 dan saya tidak melihat sedikitpun bekas2 pertempuran tahun 1982. Semua yang hancur sudah diperbaiki ulang. Dan bagian2 yang tidak terkena peperangan masih terlihat spt aslinya.

Ketika laporan muncul di koran2 media barat dan majalah2 maupun buku yang ditulis Tom Friedman (dari Beirut ke Yerussalem) , mereka mengatakan semua bagian kota telah hancur. Mengherankan. Hiperbola media benar2 mengejutkan. Hama sejatinya secara harfiah memang tidak diratakan, sebagaimana klaim banyak media” (Bill Rugh)

Selain mengungkap kebohongan angka korban perang Hama 1982, laporan DIA juga menarik karena mengungkap garis besar mengenai taktik, metode dan narasi yang digunakan Ikhwanul Muslimin yang ternyata sangat mirip dengan taktik dan narasi para teroris dalam perang syria saat ini.

Kekerasan sudah terjadi antara Ikhwanul Muslimin dan pemerintah Syria sesaat setelah partai Ba’th naik ketampuk kekuasaan tahun 1964. April 1964, kerusuhan meletus di Hama, dipimpin Marwan Hadid, salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin yang menggunakan masjid sbg basis perlawanan. Masjid yang seharusnya suci dari perilaku busuk politikus, sejak awal mula sudah digunakan Ikhwanul Muslimin sbg bagian dari stratagi pemberontakan. Januari 1965, kekerasan di Hama telah memicu kekerasan lanjutan di Damaskus. Selanjutnya April 1967, kekerasan juga terjadi di semua kantong2 wilayah Ikhwanul Muslimin berada di seluruh syria.

Setelah Hafeez Assad naik ke puncak kekuasaan, November-1970, beliau berusaha menurunkan eskalasi ketegangan dengan Ikhwanul Muslimin. Tapi itupun tidak lama. Kekerasan yang dipicu Ikhwanul Muslimin masih berlanjut. Pecah kerusuhan tahun 1973 sebagai reaksi kemarahan atas sikap Hafeez Assad yang menjadikan syria sebagai negara sekuler dan menolak formalisasi syariat islam. Bagi ikhwanul Muslimin, ini adalah bukti bahwa Hafeez Assad anti islam.

Bagi ikhwanul Muslimin: Islam adalah solusi, tujuannya adalah Allah, Quran konstitusinya, nabi Muhammad adalah pemimpinnya,  jihad adalah jalan hidup dan mati syahid adalah impiannya.

Terdengar sangat familiar dengan perilaku ikhwanul muslimin ini, huh?

Berbagai literatur menyebutkan bahwa tahun 1976 adalah tahun awal dari perang syria pertama. Pada tahun tersebut, beberapa milisi dibawah ikhwanul Muslimin sudah memulai kampanye perang melawan pemerintah sah Syria.

Salah satu taktik Ikhwanul Muslimin melawan pemerintahan syria saat itu adalah penggunaan sayap2 militer binaanya utk memperluas perlawanan spt milisi Al-Tali’a al-Muqatila, Jundullah, Assyabab Muhammad, Jaisy AlMukmin, Jaisy AlIslam, dll.

Ini paralel dengan milisi kriminal afiliasi ikhwanul Muslimin seperti jahbat Nusra, Ahrar Assyam, jaisy Al-Islam, Nuruddin Al-Zinki yang menghancurkan syria modern saat ini.

Dengan menggunakan milisi2 kriminal spt itu, serangkaian kekerasan dilakukan Ikhwanul Muslimin untuk menunjukkan kesan bahwa perlawanan dilakukan seluruh komponen rakyat Syria.

Juni 1979, akademi Militer Aleppo diserbu gabungan milisi2 Ikhwanul Muslimin. 50 kadet atau calon taruna Syria dibantai. Dan puluhan luka berat. Kejadian tersebut memicu perlakuan keras pemerintah syria kepada Ikhwanul Muslimin.

Tahun 1980 bisa dibilang tahun2 genting Syria dimana eskalasi kekerasan antara pemerintah syria melawan Ikhwanul Muslimin memuncak. 26-Juni-1980, ikhwanul muslimin mencoba membunuh Hafeez Assad. 2 buah granad dan senapa otomatis diarahkan ke Hafeez Assad. Ajaibnya, hafeez Assad berhasil menendang salah satu granad, dan granad satunya berhasil dinetralisir pengawalnya.

Peristiwa ini dibalas oleh Hafeez Assad dengan mengeksekusi anggota dan simpatisan ikhwanul Muslimin yang sedang menjalani hukuman dipenjara Palmyra. Bulan Juli 1980, pemerintah syria mengeluarkan UU no 49 yang memberikan amnesti untuk anggota ikhwanul Muslimin yang menyerah. 1052 anggota Ikhwanul Muslimin kembali ke pangkuan Syria dan sisanya masih melanjutkan kekerasan sistematis. Tahun 1981, anggota Ikhwan yang menolak menyerah melanjutkan perlawanan terhadap pemerintah Syria dan menjadi Hama sebagai pusat perlawanan. Kekerasan dalam skala kecil maupun besar terjadi hampir setiap hari hingga mencapai klimaks tanggal 2-februari-1982.

Milisi Ikhwanul Muslimin menyerang kantor2 pemerintah, menguasainya dan membunuh banyak pegawainya. Lebih dari 70 pejabat partai Ba’th disembelih dijalanan. Dan sisanya dieksekusi di tahanan. Mereka juga menyasar desa2 minoritas dan warga sipil yang pro pemerintah, membunuh dan menyandera sebagian diantaranya. Mereka menyatakan diri merdeka dari pemerintah pusat dan menolak tunduk kepada pemerintah.

[Apa yang kalian harapkan pemerintah syria akan lakukan jika ada pemberontak model begini? Mengajak berunding Ikhwanul Muslimin dan bermanis muka dengan alasan HAM? Berbicara lembut dan mengajak dialog? Hampir 20 tahun ikhwanul muslimin syria tidak mengenal bahasa kecuali bahasa kekerasan]

Sebagai bagian dari menyebarkan propaganda, Ikhwanul Muslimin menyampaikan berita dusta mengenai dukungan massif rakyat Hama dan syria kepada pemberontak,  menyebarkan gosip mengenai desersi besar2an tentara syria kepada pemberontak dan menyebarkan isue mengenai meluasnya perang hingga Aleppo.

Untuk mendukung pemberontakannya di Hama, kriminal Ikhwanul Muslimin tidak segan2 menggunakan masjid sebagai tempat propaganda. Laporan DIA, menyebutkan bahwa tanggal 2-Februari-1982, persis saat pemberontakan Hama meletus, ikhwanul muslimin menggunakan load speaker masjid di puncak menara utk memanggil para kriminal utk bergabung bersama Ikhwanul Muslimin melawan tentara pemerintah sah Syria. Mereka juga memberitahu massa bahwa semua senjata sudah tersedia di masjid.

Press release dibuat di eropa dan USA, dan disebarkan kekawasan timteng secara massif melalu kantor berita phalangist Lebanon dan Voice of Arab Iraq.

Dari Bonn, Jerman, Ikhwanul Muslimin menyebarkan berita 3000 tentara syria telah tewas ditangan kriminal dan Hama berhasil dikuasai Ikhwanul Muslimin. Bukanlah hal aneh jika Ikhwanul Muslimin menggunakan Bonn sbg basis propaganda, karena Ikhwanul Muslimin memiliki kantor di Eropa, termasuk di London dan Munich.

Dari Hongkong, mereka menyiarkan kabar jika stasion radio Aleppo sudah jatuh dan dari Paris, mereka menyiarkan propaganda jika unit pertahanan syria telah bergabung bersama reovolusi islam yang digagas ikhwanul Muslimin. Dari vienna, Ikhwanul muslimin menyebarkan gosip, jika pertempuran meluas hingga Damaskus,  Lattakia, Aleppo hingga timur syria. Dari Turkey, mereka menyebarkan berita jika jalan tol Damaskus-Hama-Aleppo juga telah jatuh. Dari Iraq, mereka mengeluarkan fatwa jika jihad melawan pemerintahan Hafeez Assad adalah wajib dan melarang masyarakat membayar pajak kepeda pemerintah.

Semua klaim2 ikhwanul Muslimin tersebut ternyata kosong dan tidak berdasar kepada bukti empiris. Laporan DIA dan kesaksian Bill Rugh bahkan mengkonfirmasi, bahwa kerusuhan hanya terlokalisasi di Hama dan tdk meluas sedikitpun ke kota2 lainnya. Kantor  berita syria, bahkan tdk mengabarkan sedikipun mengenai kejadian yang sebenarnya di Hama. Karena media syria dikontrol penuh pemerintah saat itu. Praktis, kebanyakan rakyat syria tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya di Hama.

Kemenangan gemilang Hafeez Assad dalam pertempuran Hama dan sedikitnya dukungan masyarakat sipil terhadap kriminal Ikhwanul Muslimin mengkonfirmas setidaknya 3 hal:

Pertama, keberhasilan strategi Hafeez Assad dalam peristiwa Hama 1982, berbasis kepada fakta bahwa kebanyakan rakyat syria – tidak peduli mengenai sikap politik mereka kepada pemerintah Assad- tidak menginginkan negara syria dikuasai para kriminal Ikhwanul Muslimin. Mungkin mayoritas syria ingin syria dikuasai dari kalangan sunni instead of Alawite, tapi rakyat syria lebih memilih pragmatis. Hanya Hafeez Assad sejauh ini yang berhasil memberikan stabilitas dan keamanan pasca merdeka dari Perancis tahun 1946. Dan karenanya, pemberontakan Ikhwanul Muslimin tidak mengakar di masyarakat.

Dua, sejauh ini rakyat syria masih setia memilih negara syria sebagai negara sekuler dan plural, sebagai sebuah sistem yang dapat menjamin hak2 mayoritas sambil tidak melupakan minoritas. Rakyat syria masih mendukung prinsip negara: Agama untuk Tuhan dan negara untuk Masyarakat.

Tiga, peristiwa Hama menjelaskan kepada kita bagaimana modus operandi para kriminal Ikhwanul Muslimin dalam meraih kekuasaan. Gerakan pemberontakan mereka selalu berbasis kepada bomb bunuh diri dan pembantaian utk menebar ketakutan di masyarakat, menimbulkan kepanikan, yang tujuan akhirnya menghilangkan kepercayaan masyakat kepada pemerintah. Mereka juga gemar menggunakan jubah2 agama utk menutupi nafsu busuk mereka akan kekuasaan. Serta penggunaan masjid secara massif utk meraih massa dan menebar propaganda dusta.

Siapapun yang membaca dan meneliti peristiwa Hama 1982, akan melihat kesamaan modus operandi Ikhwanul Muslimin dalam perang modern syria 2011. Bahkan modus operandi itu juga digunakan di wilayah2 islam lainnya dikala ikhwanul Muslimin hadir dan berniat meraih kekuasaan.

Ikhwanul Muslimin sejak awal mula memang bajingan dan sekarangpun masih bajingan.

Referensi:

  1. http://www.mepc.org/commentary/syria-hama-massacre
  2. https://www.counterpunch.org/2016/12/23/statistics-in-the-information-war-an-instructive-example-from-hama-1982/
  3. Tim anderson :  https://m.facebook.com/notes/tim-anderson/the-muslim-brotherhoods-hama-syria-rebellion-in-1982/10151553345131234/
  4. Robert Fisk :  http://www.independent.co.uk/voices/commentators/fisk/robert-fisk-the-new-focus-of-syrias-crackdown-has-seen-similar-bloodshed-before-2307427.html
  5. Dokumen DIA

Oposisi, Pemberontak, Dan Syria

Oposisi, Pemberontak, dan Syria
oleh Subbhan a, blogger

Ketika Erdogan dikudeta, pihak yg pertama menentang adalah Kemal Kilicdaroglu, leader partai republik rakyat, oposan paling sengit Erdogan.

Dimata Kilicdaroglu, sejahat2nya Erdogan, dia adalah presiden turkey, dan dipilih secara demokratis oleh rakyat Turkey dan karenanya harus dibela jika dikudeta, demi nilai2 demokrasi. Bagi Kilicdaroglu, supremasi sipil harus diatas militer at any cost!

Maka Kilicdaroglu bisa disebut oposan loyal. Walau dia tidak setuju, eneg, benci sama Erdogan, tapi dia masih menganggap Erdogan presiden sah turkey, yg wajahnya mewakili Turkey.

Oposan seperti ini sangat banyak didunia ini. Di Indonesia juga banyak oposan kepada Jokowi misalnya. sebut saja diantaranya Habib Rizieq, Prabowo, dan golongan2 islamis lainnya.

Tapi oposan loyal ini akan disebut pemberontak jika mengangkat senjata melawan pemerintah hanya karena dilatari kebencian kepada Presiden. Karena sebesar apapun kebencianmu kepada presiden, jika anda masih loyal kepada negaramu, maka anda harus mengikuti aturan mainnya.

Itulah aturan mainnya dalam kondisi damai. Dan itu berlaku umum dinegara manapun didunia ini.

Tetapi dalam keadaan perang tidak ada lagi yang namanya oposan loyal. Yang ada cuma: You are either with us OR against us. Jika anda tidak bersama kami, maka anda musuh kami. Karena itu, di Syria, walau syaikh Buthi berkali2 mengatakan netral, dan membela kepentingan Syria dan bukannya kepentingan Assad, syaikh Buthi tetap dianggap musuh, batu sandungan, kerikil tajam dimata para teroris. Kenapa? Karena dimasa perang, tidak ada yang namanya netral. Anda harus berpihak. Karena ketika anda netral, anda tetap dianggap berpihak terutama oleh pihak-pihak yang sedang terdesak.

Prinsip ini juga diamini oleh para teroris syria. Dan karena alasan itulah Syaikh Buthi harus dibunuh.

Di syria, sebenarnya banyak ulama sunni aswaja dan sufi. mereka justru memilih tinggal di damaskus, benteng terkuat Assad. Sebut saja nama-nama mereka diantaranya: Syaikh Adib Hassoun, Syaikh Buthi, Syaikh Rajab Dieb, Syaikh Muhammad Rajab Dieb, Syaikh Taufiq AlButhi, Syaikh Ahmad Hassoun, Syaikh Wahbah Zuhaili, Syaikh Ahmad Habbal Arrifai (salah satu wali abdal dari 40 wali abdal), Syaikh Shukri Alluhafi Asyadzili (salah satu wali abdal dari 40 wali abdal), dan ratusan ulama2 otoritatif Sunni aswaja dan sufi.

Belum lagi para sarjana terkemuka islam yang semuanya berlindung dibalik kemananan yang disediakan Assad.

Presiden Bashar Assad dikelilingi para ulama aswaja.

Presiden Bashar Assad dikelilingi para ulama aswaja.

Dalam kondisi damai, boleh saja ulama2 sunni hebat aswaja tersebut mengkritik Presiden Assad dan menasehatinya. Sebagaimana peran ulama yang memang seharusnya memberikan nasehat kepada penguasa. Maka ulama seperti ini dapat menjadi oposan loyal bagi Presiden Assad demi kebaikan negara tentunya.

Bukti sahih bahwa para ulama aswaja ini adalah oposisi yang loyal kepada Presiden Assad adalah: mereka tidak mengangkat senjata dan tidak menyerukan jihad melawan Assad. Bahkan ketika kondisi Presiden Assad terjepit sekalipun dan tengah dikepung para teroris.

Mereka masih mau tetap tinggal di Damaskus, di ibu kota negara Syria, dan tidak memilih tinggal di wilayah2 para teroris atau mengungsi ke luar negeri. Tidak sekalipun mereka mengecam Presiden Assad dan memberikan dukungan kepada teroris.

Seperti kata Syaikh Buthi : Sejak awal perang, banyak tawaran dari luar negeri untuk menampung saya. Mereka bahkan bersedia memberikan segala kebutuhan saya. Tapi saya menolaknya.

Kenapa Syaikh Buthi menolak tawaran tersebut? Karena beliau ra masih mencintai tanah Syria.

Ada ratusan ulama-ulama hebat syria seperti halnya Syaikh Buthi masih memilih tinggal di Syria, bercengkarama bersama Presiden Assad bahkan mereka sholat juga bersama Presiden Assad. Mereka inilah pendukung Presiden Assad yang sebenarnya. Kehadiran mereka di Syria adalah legitimasi betapa Assad masih mendapat dukungan rakyat syria dan ulama2 aswaja Syria, Jika dimasa damai, mereka mungkin saja mengkritik gaya kepemimpinan Assad, tapi dimasa perang mereka adalah pendukung Assad.

 

Presiden Assad sedang sholat bersa

Presiden Assad sedang sholat bersama ulama-ulama sunni Syria

Presiden Assad bercengkrama bersama Syaikh Buthi dan ulama2 awaja Syria setelah sholat

Presiden Assad bercengkrama dengan Syaikh Buthi dan ulama2 awaja Syria setelah sholat

Dimata logika waras, ulama2 sunni Syria tersebut adalah pendukung Assad.

Dimata kaum sesat pikir dan cingkrang otak, ulama2 tsb adalah musuh Assad walau mereka tinggal di damaskus dan sholat bersama Assad.

Dan kepada mereka yang sering mengatakan bahwa presiden Assad adalah seorang yang sesat, kafir, syiah, laknat, berhala, munafik, ahli neraka dan lain-lain sebutan buruk, maka saya tidak tahu, apakah mereka sedang menghina Assad atau sedang menghina Ulama-ulama hebat sunni aswaja dan para sufi syria yang sejauh ini loyal kepada Assad?

Mengatakan Assad sesat, sama artinya mengatakan bahwa ulama sunni aswaja dan para sufi syria, rela dipimpin presiden sesat. Bahkan ulama-ulama tersebut sholat bareng Assad.

Ulama sunni aswaja bersedia sholat bersama orang sesat? Hanya kaum cingkrang otak yan percaya logika sesat ini.

Dibalik 911 : Persekongkolan Jahat Saudi dan Amerika

Dibalik 911 : Persekongkolan Jahat Saudi dan Amerika
by Subbhan A, blogger

U.S. Secretary of State John Kerry speaks during his meeting with Saudi Arabia's Foreign Minister Adel al-Jubeir © Kevin Lamarque / Reuters

U.S. Secretary of State John Kerry speaks during his meeting with Saudi Arabia’s Foreign Minister Adel al-Jubeir © Kevin Lamarque / Reuters

Artikel New York Post minggu ini yang berjudul : Bagaimana Amerika menutupi Peran Saudi dalam peristiwa 9/11, mengungkap dengan jelas bahwa para pejabat top Amerika tidak hanya menutupi keterlibatan petinggi-petinggi Saudi dalam peristiwa paling kotor dalam sejarah modern, tetapi juga membantu mereka untuk lari dari Amerika sesaat setelah peristiwa pengeboman gedung WTC 9/11 terjadi.

“Actually, the kingdom’s involvement was deliberately covered up at the highest levels of our government. And the coverup goes beyond locking up 28 pages of the Saudi report in a vault in the US Capitol basement. Investigations were throttled. Co-conspirators were let off the hook.” (newyorkpost)

Sebuah sumber dari agen Kesatuan Anti Terorism Washington yang dikutip Newyork Post mengatakan bahwa dalam laporan 28 halaman yang disembunyikan oleh pemerintah Amerika Serikat, menyebutkan secara rinci peran pihak2 asing terutama Saudi untuk mendukung operasi pembajakan dan pengeboman gedung WTC 9/11. Laporan yang dibuat dan dikumpulkan oleh CIA/FBI itu juga menyebutkan bantuan resmi dari Saudi terhadap setidaknya 2 pembajak untuk menginap di San Diego.

Sebagai response mencuatnya kasus ini dan membuka keterlibatan Saudi terhadap peristiwa 911, Saudi mengancam Amerika untuk menjual asset Amerika yang dimilikinya senilai 750 milyar dollar yang dapat menyebabkan kejatuhan ekonomi Amerika serikat.  Seperti yang dilaporakan New Tork Times :

Adel al-Jubeir, the Saudi foreign minister, delivered the kingdom’s message personally last month during a trip to Washington, telling lawmakers that Saudi Arabia would be forced to sell up to $750 billion in treasury securities and other assets in the United States before they could be in danger of being frozen by American courts.  (NewYork Times)

Banyak memang analis yang meragukan efektifitas ancaman Saudi (jika mereka benar menjual asset Amerika yang dimiliki), tapi bagaimana tanggapan pemerintahan Obama menghadapi ancaman Saudi terhadap Amerika?

Amerika yang begitu perkasa menghancurkan leburkan Afghanistan dengan tuduhan terlibat 9/11, seakan ketakutan, justru membela Saudi dan menentang rencana Kongres untuk menjatuhkan hukuman dan denda terhadap Saudi atas keterlibatannya dalam peristiwa 9/11. Seperti yang dilansir rt.com :

Obama has said that he doesn’t support the bill, due to the possibility of foreign citizens – presumably victims of US wars and drone strikes – suing the government.

“If we open up the possibility that individuals in the United States can routinely start suing other governments, then we are also opening up the United States to being continually sued by individuals in other countries,” the commander-in-chief said (rt.com)

Menurut logika Obama, jika Amerika memberikan hukuman kepada warga Negara asing (khususnya Saudi), maka itu akan menjadi preseden bagi Negara lain untuk melakukan hal yang sama kepada warga Negara Amerika.

Omong kosong!

Ditengah kepongahan dan ketidak pedulian Amerika yang menghancur leburkan Afghanistan maupun Irak dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa 9/11! Apakah pemerintahan Amerika pernah memikirkan keselamatan warga Amerika ketika memborbardir Afghanistan dan Irak, selepas 911?

Walaupun banyak pihak skeptis terhadap rencana pembukaan dokumen ini terutama mengingat pembelaan Obama kepada Saudi, tapi dari kasus ini setidaknya kita dapat mengambil 3 hal pelajaran bahwa :

1. Pemerintah Amerika tidak peduli mengenai nasib warga negaranya. Bahkan ketika pelaku dan sponsor utama peristiwa pengeboman gedung WTC 911 yang merenggut korban jiwa hingga lebih dari 3000 warganya sudah diketahui sejak awal, Pemerintahan Amerika tidak peduli.

Seperti yang dilaporkan RT.com dalam wawancara dengan korban WTC yang berhasil selamat :

We went against Al-Qaeda in Afghanistan because they supported Bin Laden. Why can’t we do the same thing with the Saudis, 9/11 survivor William Rodriguez told RT.

The relatives of 9/11 victims have repeatedly demanded a classified Congressional report known as ‘the 28 pages’ be released, claiming it doesn’t pose a security threat and the truth should not be hidden.

We have been fighting for this release for the last 15 years when the 9/11 Commission was created and after that probably 12 years we’ve been fighting for the release of these 28 pages. And we have not received any indication that it will happen. Why keeping this information secret for so long, when we have been open on all other levels of information about what happened on 9/11 surprises not only the families of the victims and survivors, but many of the people involved in 9/11 commission itself. We are survivors and we are horrified that this has taken this long to try to get to the truth about what really happened on that day. Why the government is keeping this information, whatever interests…? (wawancara Russian Today)

Selama 15 tahun korban selamat dari peristiwa pengeboman WTC 911 meminta kejelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Selama itu pula, pemerintahan Amerika menutup-nutupi, dan melindungi actor utama perisitiwa 911.

Mungkin kita harus bertanya, apakah warga Negara Saudi adalah warga Negara kehormatan Amerika Serikat, sehingga Pemerintahan Obama lebih mengkuatirkan nasib mereka?

2. Saudi sejauh ini ikut menopang negara Amerika bahwa mereka memegang asset Amerika senilai 750 milyar dollar amerika. Dan jika Saudi menjual asset beharga ini, akan menyebabkan kekacauan ekonomi, tidak saja bagi Amerika tetapi juga bagi dunia.

Selama ini, kita selalu mendapatkan narasi palsu bahwa Saudi adalah musuh Amerika, bahwa Saudi adalah pembela Islam dan kebanggaan Islam. Fakta ini mengungkap jelas bahwa  sejatinya, Saudi adalah sahabat dekat amerika dan ikut menopan kejayaan Amerika Serikat memerintah dunia selama bertahun-tahun. Jika Saudi berniat menghancurkan Amerika, maka Saudi dapat dengan mudah membuat kekacauan ekonomi Amerika dengan melepas semua asset Amerika yang dimilikinya. Tapi itupun tidak pernah dilakukan.

3.   Yang kita tahu selama ini adalah 15 dari 19 pembajak pelaku peristiwa 9/11 adalah warga Negara Saudi. Laporan yang disembunyikan selama bertahun-tahun oleh Pemerintahan Amerika Serikat adalah peran Saudi dalam peristiwa ini, dan setidaknya membantu 2 dari 19 pembanjak untuk menetap di San Diego.

Serentetan peristiwa yang mengikuti setelah kejadian 9/11 adalah dihancurkannya Negara Afghanistan 2001 dengan dalih menangkap pelaku serangan 9/11. Afghanistan hancur lebur, lebih dari 360 ribu rakyat Afghan menjadi korban, dan yang paling menderita dari semua itu adalah wanita, anak-anak dan lanjut usia. Jutaan warga Arfghan masih menderita sampai sekarang, bom bunuh diri terjadi dimana-mana bahkan setelah Amerika secara resmi menarik pasukannya dari Afghanistan. Afghan negeri muslim, menjadi negeri yang gagal, sampai sejauh ini.

Tidak bisa dibayangkan, Saudi yang dielu-elukan sebagai Negara islam, pemelihara dua kota suci Islam, justru terlibat konspirasi paling busuk dan menjadi aktor utama dalam peristiwa pengeboman WTC 9/11 yang dilanjutkan dengan penghancurkan Afghanistan.

Sebagai sebuah pretext, peristiwa 9/11 kemudian menjadi dalih bertahun-tahun Amerika untuk menghancurkan Negara lain, dengan alas an melindungi warga Negara Amerika dan asset amerika di seluruh dunia.

Perisitiwa memilukan berikutnya adalah dihancurkan negeri Irak, dilengserkannya Saddam Hussein dengan dalih terlibat peristiwa 911 yang kemudian dituduh pula menyimpan senjata pemusnah massal.

Seperti dilaporkan Christian Science Monitor, Maret 2003 :

In his prime-time press conference last week, which focused almost solely on Iraq, President Bush mentioned Sept. 11 eight times. He referred to Saddam Hussein many more times than that, often in the same breath with Sept. 11.

 

Bush never pinned blame for the attacks directly on the Iraqi president. Still, the overall effect was to reinforce an impression that persists among much of the American public: that the Iraqi dictator did play a direct role in the attacks. A New York Times/CBS poll this week shows that 45 percent of Americans believe Mr. Hussein was “personally involved” in Sept. 11, about the same figure as a month ago.

Tuduhan yang kemudian terbukti palsu. Saddam tidak terbukti memiliki senjata massal dan tidak terlibat pula dengan Osama bin Laden, Alqoida, yang dituduh sebagai dalang peristiwa 9/11.

Tapi Irak yang indah sudah keburu dihancurkan. Lebih dari 500 ribu warga sipil Irak tewas, 1 juta anak-anak balita harus mati kelaparan karena embargo tidak adil Amerika, dan Irak, sampai saat  ini masih diguncang bom bunuh diri setiap hari. Kekerasan sektarian terjadi dimana-mana, ISIS merajalela, penyembelihan dan pemenggalan kepala adalah pemandangan sehari-hari warga Irak. Irak yang merupakan Negara kaya di jaman Saddam Hussein, sekarang menjadi Negara gagal, miskin, terbelakang, hancur, dan semuanya bermula dari peristiwa 9/11 dimana Saudi menjadi salah satu aktor utamanya.

Saudi, negara  yang dielu2kan sebagai Negara Islam, Negara yang tidak boleh dikritik karena memelihara dua kota Suci, negeri dengan julukan 1000 ulama, ternyata tidak lebih dari sebuah Negara bajingan yang jauh lebih banyak membunuh umat islam!

Sumber Berita :

  1. We Still Don’t Know What Really Happened On 9/11’ – Survivor
  2. How US covered up Saudi role in 9/11
  3. Saudi Arabia Warns of Economic Fallout if Congress Passes 9/11 Bill
  4. Saudi Arabia wants US to kill 9/11 bill, threatens to dump US assets worth $750 bn – report
  5. Obama: ‘If we let Americans sue Saudis for 9/11, foreigners will begin suing US non-stop’
  6. Hijackers in the September 11 attacks
  7. Civilian casualties in the war in Afghanistan (2001–present)
  8. The impact of Bush linking 9/11 and Iraq
  9. Casualties of the Iraq War