Serial para Kriminal: Ikhwanul Muslimin Syria

Serial para Kriminal: Ikhwanul Muslimin Syria
Oleh: subbhan a (blogger)

Hafeez Assad bersama Rifaat Assad, komandan pembersihan Hama 1982 dari anasir jahat Ikhwanul Muslimin

tidak ada yang lebih membahayakan islam kecuali (mereka yang) mendistorsi makna islam sambil  memakai jubah2 islam.
Inilah yang kriminal ikhwanul muslimin sedang lakukan!
Mereka membunuh atas nama islam.
Mereka membantai atas nama islam.
Mereka membantai anak2, wanita dan orang tua atas nama islam.
Mereka menghancurkan sebuah keluarga atas nama islam.
Mereka ulurkan tangan mereka kepada orang asing dan agen2nya di perbatasan negara kita.
Mereka ulurkan tangan mereka untuk menerima uang dan senjata dan menggunakannya untuk mengkhinati negara ini dan menghancurkannya.

Lalu mereka membunuh warga sipil negara ini, dan menghabisi sebuah keluarga didesa dan dikota.
Inilah yang kriminal ikhwanul muslimin lakukan!
Inilah yang kriminal Ikhwanul Muslimin lakukan!
Mereka menerima uang dan senjata untuk membunuh negara ini, menghancurkan negara ini dan melemahkan negara ini” (Hafeez Assad, Januari 1982)

Damned! I love Hafeez Assad!

Orasi yang mengesankan. Hafeez Assad mengucapkan pidato ini 35 tahun lalu, tapi setiap katanya menggambarkan secara persis perilaku kriminal Ikhwanul Muslimin.

Perilaku kriminal ikhwanul muslimin tidak berubah. Dahulu maupun sekarang. Kekerasan adalah bahasanya. Kekuasaan adalah cita2nya. Dusta dan propaganda adalah bajunya. Dan islam dijadikan topeng untuk menutupi kebusukan hatinya.

Dan syria telah berkali-kali menjadi korban keganasan perilaku Ikhwanul Muslimin.

Syria yang hancur lebur dalam Perang kotor yang digagas dan dikomandoi ihwanul muslim sejak tahun 2011 sampai sekarang, sejarahnya dapat dilacak sejak pertempuran panjang pemerintah Syria melawan ikhwanul muslimin sejak tahun 60an dan berakhir dramatis dalam peristiwa Hama 1982.

Berapa kali selama ini kita diberitahu bahwa Hafeez Assad secara sistematis  telah membantai 20 ribu hingga 40 ribu rakyat syria dalam peristiwa Hama 1982?

Pencarian sederhana melalui google mengenai peristiwa hama 1982, mengkonfirmasi kedustaan ini. Media2 pendukung kriminal ikhwanul muslimin, spt aljazera maupun alrabiya, menyebutkan estimasi angka fantastis utk menggambarkan kekejaman Hafeez Assad. Middle East Watch, menyebut peristiwa hama 1982 sebagai peristiwa “the great repression” dalam reportnya tahun 1991. Dan sudah jamak jika peristiwa Hama 1982 disebut “Hama Massacre”

Dan tidak heran jika kemudian para simpatisan kriminal ikhwanul muslimin selalu mengulang2 peristiwa hama 1982 sbg justifikasi dan pembenaran alasan utk menjatuhkan presiden Bashar Assad skr. Lebih jauh lagi, sbg alasan pembenaran revolusi syria yg telah memakan korban ratusan ribu nyawa.

Namum dengan adanya UU kebebasan informasi Amerika Serikat, memungkinkan publik untuk mengakses dokumen US Defense Intelligence Agancy (DIA) mengenai peristiwa hama 1982 yg dibuka tahun 2012.  DIA ditulis pada medio Mei-1982, 3 bulan pasca kejadian. Tidak hanya menjelaskan betapa krimininalnya ikhwanul muslimin, DIA juga mengungkap korban tewas dari pihak ikhwanul muslimin hanya sekitar 2000 ribu teroris. Angka real mestinya tidak jauh dari itu tapi sangat jauh dari angka berlebihan sekitar 20 ribu atau 40 ribu seperti yang diungkap oleh media2 massa mainstream. Itupun yang tewas adalah para teroris bersenjata.

Laporan DIA ini juga sesuai dengan kesaksian Bill Rugh, wakil kepala misi Syria 1981-1984. Seperti yang diungkap Bill Rugh dalam tulisannya di Middle East Policy Council:

“Pada tanggal 29-November-1981 saya sedang duduk dikantor kedubes USA di damaskus syria. Ketika saya mendengar ledakan dahsyat. Sebuah bomb mobil meledak persis didepan kantor pusat Angkatan Udara Syria. Ledakan ini menghancurkan bagian depan bangunan dan jendela. Ledakan itu juga melontarkan bagian2 tubuh manusia ke sekolah komunitas Amerika yang berada di seberang jalan. Kami memperkirakan ada sekitar 60 orang tewas. Orang tua dan anak2 di sekolah shock dan trauma.

Serangan ini tdk ditujukan langsung kepada Amerika serikat, tapi menjadi bagian serial serangan yang sudah dilakukan Ikhwanul Muslimin selama 5 tahun kebelakang terhadap pemerintah syria.

Lalu 9 minggu kemudian, peperangan besar terjadi antara pemerintah syria melawan Ikhwanul Muslimin. Perang pecah di kota Hama, 100 mil utara Damaskus.

2-Februari-1982, tentara syria mengepung Hama, untuk menumpas pemberontakan Ikhwanul Muslimin. Tapi tentara syria dihadang banyak penembak jitu. Segera terjadi peperangan diantara mereka.

Tidak ada berita yang keluar mengenari peperangan terebut, tapi atase militer kita melalui sumber2 dilapangan dapat mengikuti perkembangan Hama secara ketat. Karena itu tugas mereka.

Dari laporannya, kita tahu pemberontak banyak menggali terowongan dan tentara syria yg dikepalai saudara Hafeez Assad, Rifaat Assad, telah mengepung kota dari berbagai sisi. Pertempuran berlangsung selama 27 hari dan tidak ada berita yang keluar di media massa tapi setiap orang di Damaskus tahu persis bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di Hama. Ketika atase militer kita berhasil memasuki kota, mereka menemukan hanya bagian kecil kota yang rusak. Beberapa gedung dan masjid rata dengan tanah.

Sebenarnya tidak seluruh kota dihancurkan. Saya memasuki Hama maret 1982, beberapa minggu setelah pertempuran usai. Dan banyak bagian kota berjalan normal seakan2 tdk terjadi apa2. Banyak gedung komersial yang bahkan tidak tersentuh pertempuran. Saya mengunjungi lapangan utama, tempat favorit turis, dan saya melihat roda kayu raksasa abad ke-13, yang tingginya 90 kaki, masih berdiri kokoh ditepi sungai Orantes yang membelah kota Hama.

Saya melihat gedung seluas lapangan sepak bola rata dgn tanah. Dan berdiri disitu, saya masih melihat semua area disekitarnya masih berdiri seakan2 tdk terjadi apa2.

Saya mengunjungi Hama kembali tahun 2005 dan saya tidak melihat sedikitpun bekas2 pertempuran tahun 1982. Semua yang hancur sudah diperbaiki ulang. Dan bagian2 yang tidak terkena peperangan masih terlihat spt aslinya.

Ketika laporan muncul di koran2 media barat dan majalah2 maupun buku yang ditulis Tom Friedman (dari Beirut ke Yerussalem) , mereka mengatakan semua bagian kota telah hancur. Mengherankan. Hiperbola media benar2 mengejutkan. Hama sejatinya secara harfiah memang tidak diratakan, sebagaimana klaim banyak media” (Bill Rugh)

Selain mengungkap kebohongan angka korban perang Hama 1982, laporan DIA juga menarik karena mengungkap garis besar mengenai taktik, metode dan narasi yang digunakan Ikhwanul Muslimin yang ternyata sangat mirip dengan taktik dan narasi para teroris dalam perang syria saat ini.

Kekerasan sudah terjadi antara Ikhwanul Muslimin dan pemerintah Syria sesaat setelah partai Ba’th naik ketampuk kekuasaan tahun 1964. April 1964, kerusuhan meletus di Hama, dipimpin Marwan Hadid, salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin yang menggunakan masjid sbg basis perlawanan. Masjid yang seharusnya suci dari perilaku busuk politikus, sejak awal mula sudah digunakan Ikhwanul Muslimin sbg bagian dari stratagi pemberontakan. Januari 1965, kekerasan di Hama telah memicu kekerasan lanjutan di Damaskus. Selanjutnya April 1967, kekerasan juga terjadi di semua kantong2 wilayah Ikhwanul Muslimin berada di seluruh syria.

Setelah Hafeez Assad naik ke puncak kekuasaan, November-1970, beliau berusaha menurunkan eskalasi ketegangan dengan Ikhwanul Muslimin. Tapi itupun tidak lama. Kekerasan yang dipicu Ikhwanul Muslimin masih berlanjut. Pecah kerusuhan tahun 1973 sebagai reaksi kemarahan atas sikap Hafeez Assad yang menjadikan syria sebagai negara sekuler dan menolak formalisasi syariat islam. Bagi ikhwanul Muslimin, ini adalah bukti bahwa Hafeez Assad anti islam.

Bagi ikhwanul Muslimin: Islam adalah solusi, tujuannya adalah Allah, Quran konstitusinya, nabi Muhammad adalah pemimpinnya,  jihad adalah jalan hidup dan mati syahid adalah impiannya.

Terdengar sangat familiar dengan perilaku ikhwanul muslimin ini, huh?

Berbagai literatur menyebutkan bahwa tahun 1976 adalah tahun awal dari perang syria pertama. Pada tahun tersebut, beberapa milisi dibawah ikhwanul Muslimin sudah memulai kampanye perang melawan pemerintah sah Syria.

Salah satu taktik Ikhwanul Muslimin melawan pemerintahan syria saat itu adalah penggunaan sayap2 militer binaanya utk memperluas perlawanan spt milisi Al-Tali’a al-Muqatila, Jundullah, Assyabab Muhammad, Jaisy AlMukmin, Jaisy AlIslam, dll.

Ini paralel dengan milisi kriminal afiliasi ikhwanul Muslimin seperti jahbat Nusra, Ahrar Assyam, jaisy Al-Islam, Nuruddin Al-Zinki yang menghancurkan syria modern saat ini.

Dengan menggunakan milisi2 kriminal spt itu, serangkaian kekerasan dilakukan Ikhwanul Muslimin untuk menunjukkan kesan bahwa perlawanan dilakukan seluruh komponen rakyat Syria.

Juni 1979, akademi Militer Aleppo diserbu gabungan milisi2 Ikhwanul Muslimin. 50 kadet atau calon taruna Syria dibantai. Dan puluhan luka berat. Kejadian tersebut memicu perlakuan keras pemerintah syria kepada Ikhwanul Muslimin.

Tahun 1980 bisa dibilang tahun2 genting Syria dimana eskalasi kekerasan antara pemerintah syria melawan Ikhwanul Muslimin memuncak. 26-Juni-1980, ikhwanul muslimin mencoba membunuh Hafeez Assad. 2 buah granad dan senapa otomatis diarahkan ke Hafeez Assad. Ajaibnya, hafeez Assad berhasil menendang salah satu granad, dan granad satunya berhasil dinetralisir pengawalnya.

Peristiwa ini dibalas oleh Hafeez Assad dengan mengeksekusi anggota dan simpatisan ikhwanul Muslimin yang sedang menjalani hukuman dipenjara Palmyra. Bulan Juli 1980, pemerintah syria mengeluarkan UU no 49 yang memberikan amnesti untuk anggota ikhwanul Muslimin yang menyerah. 1052 anggota Ikhwanul Muslimin kembali ke pangkuan Syria dan sisanya masih melanjutkan kekerasan sistematis. Tahun 1981, anggota Ikhwan yang menolak menyerah melanjutkan perlawanan terhadap pemerintah Syria dan menjadi Hama sebagai pusat perlawanan. Kekerasan dalam skala kecil maupun besar terjadi hampir setiap hari hingga mencapai klimaks tanggal 2-februari-1982.

Milisi Ikhwanul Muslimin menyerang kantor2 pemerintah, menguasainya dan membunuh banyak pegawainya. Lebih dari 70 pejabat partai Ba’th disembelih dijalanan. Dan sisanya dieksekusi di tahanan. Mereka juga menyasar desa2 minoritas dan warga sipil yang pro pemerintah, membunuh dan menyandera sebagian diantaranya. Mereka menyatakan diri merdeka dari pemerintah pusat dan menolak tunduk kepada pemerintah.

[Apa yang kalian harapkan pemerintah syria akan lakukan jika ada pemberontak model begini? Mengajak berunding Ikhwanul Muslimin dan bermanis muka dengan alasan HAM? Berbicara lembut dan mengajak dialog? Hampir 20 tahun ikhwanul muslimin syria tidak mengenal bahasa kecuali bahasa kekerasan]

Sebagai bagian dari menyebarkan propaganda, Ikhwanul Muslimin menyampaikan berita dusta mengenai dukungan massif rakyat Hama dan syria kepada pemberontak,  menyebarkan gosip mengenai desersi besar2an tentara syria kepada pemberontak dan menyebarkan isue mengenai meluasnya perang hingga Aleppo.

Untuk mendukung pemberontakannya di Hama, kriminal Ikhwanul Muslimin tidak segan2 menggunakan masjid sebagai tempat propaganda. Laporan DIA, menyebutkan bahwa tanggal 2-Februari-1982, persis saat pemberontakan Hama meletus, ikhwanul muslimin menggunakan load speaker masjid di puncak menara utk memanggil para kriminal utk bergabung bersama Ikhwanul Muslimin melawan tentara pemerintah sah Syria. Mereka juga memberitahu massa bahwa semua senjata sudah tersedia di masjid.

Press release dibuat di eropa dan USA, dan disebarkan kekawasan timteng secara massif melalu kantor berita phalangist Lebanon dan Voice of Arab Iraq.

Dari Bonn, Jerman, Ikhwanul Muslimin menyebarkan berita 3000 tentara syria telah tewas ditangan kriminal dan Hama berhasil dikuasai Ikhwanul Muslimin. Bukanlah hal aneh jika Ikhwanul Muslimin menggunakan Bonn sbg basis propaganda, karena Ikhwanul Muslimin memiliki kantor di Eropa, termasuk di London dan Munich.

Dari Hongkong, mereka menyiarkan kabar jika stasion radio Aleppo sudah jatuh dan dari Paris, mereka menyiarkan propaganda jika unit pertahanan syria telah bergabung bersama reovolusi islam yang digagas ikhwanul Muslimin. Dari vienna, Ikhwanul muslimin menyebarkan gosip, jika pertempuran meluas hingga Damaskus,  Lattakia, Aleppo hingga timur syria. Dari Turkey, mereka menyebarkan berita jika jalan tol Damaskus-Hama-Aleppo juga telah jatuh. Dari Iraq, mereka mengeluarkan fatwa jika jihad melawan pemerintahan Hafeez Assad adalah wajib dan melarang masyarakat membayar pajak kepeda pemerintah.

Semua klaim2 ikhwanul Muslimin tersebut ternyata kosong dan tidak berdasar kepada bukti empiris. Laporan DIA dan kesaksian Bill Rugh bahkan mengkonfirmasi, bahwa kerusuhan hanya terlokalisasi di Hama dan tdk meluas sedikitpun ke kota2 lainnya. Kantor  berita syria, bahkan tdk mengabarkan sedikipun mengenai kejadian yang sebenarnya di Hama. Karena media syria dikontrol penuh pemerintah saat itu. Praktis, kebanyakan rakyat syria tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya di Hama.

Kemenangan gemilang Hafeez Assad dalam pertempuran Hama dan sedikitnya dukungan masyarakat sipil terhadap kriminal Ikhwanul Muslimin mengkonfirmas setidaknya 3 hal:

Pertama, keberhasilan strategi Hafeez Assad dalam peristiwa Hama 1982, berbasis kepada fakta bahwa kebanyakan rakyat syria – tidak peduli mengenai sikap politik mereka kepada pemerintah Assad- tidak menginginkan negara syria dikuasai para kriminal Ikhwanul Muslimin. Mungkin mayoritas syria ingin syria dikuasai dari kalangan sunni instead of Alawite, tapi rakyat syria lebih memilih pragmatis. Hanya Hafeez Assad sejauh ini yang berhasil memberikan stabilitas dan keamanan pasca merdeka dari Perancis tahun 1946. Dan karenanya, pemberontakan Ikhwanul Muslimin tidak mengakar di masyarakat.

Dua, sejauh ini rakyat syria masih setia memilih negara syria sebagai negara sekuler dan plural, sebagai sebuah sistem yang dapat menjamin hak2 mayoritas sambil tidak melupakan minoritas. Rakyat syria masih mendukung prinsip negara: Agama untuk Tuhan dan negara untuk Masyarakat.

Tiga, peristiwa Hama menjelaskan kepada kita bagaimana modus operandi para kriminal Ikhwanul Muslimin dalam meraih kekuasaan. Gerakan pemberontakan mereka selalu berbasis kepada bomb bunuh diri dan pembantaian utk menebar ketakutan di masyarakat, menimbulkan kepanikan, yang tujuan akhirnya menghilangkan kepercayaan masyakat kepada pemerintah. Mereka juga gemar menggunakan jubah2 agama utk menutupi nafsu busuk mereka akan kekuasaan. Serta penggunaan masjid secara massif utk meraih massa dan menebar propaganda dusta.

Siapapun yang membaca dan meneliti peristiwa Hama 1982, akan melihat kesamaan modus operandi Ikhwanul Muslimin dalam perang modern syria 2011. Bahkan modus operandi itu juga digunakan di wilayah2 islam lainnya dikala ikhwanul Muslimin hadir dan berniat meraih kekuasaan.

Ikhwanul Muslimin sejak awal mula memang bajingan dan sekarangpun masih bajingan.

Referensi:

  1. http://www.mepc.org/commentary/syria-hama-massacre
  2. https://www.counterpunch.org/2016/12/23/statistics-in-the-information-war-an-instructive-example-from-hama-1982/
  3. Tim anderson :  https://m.facebook.com/notes/tim-anderson/the-muslim-brotherhoods-hama-syria-rebellion-in-1982/10151553345131234/
  4. Robert Fisk :  http://www.independent.co.uk/voices/commentators/fisk/robert-fisk-the-new-focus-of-syrias-crackdown-has-seen-similar-bloodshed-before-2307427.html
  5. Dokumen DIA

Hizbullah, Mufti Sunni Syria dan Lonceng Gereja

Hizbullah, Mufti Sunni Syria dan Lonceng Gereja
Oleh: subbhan a, blogger

syria_-_location_map_2013_-_syr_-_unocha-svg

– Syria –

Maloula: adalah sebuah kota kecil dalam provinsi Damaskus dan terletak 56 km timur laut Damaskus ibuka Syria. Dikenal sbg salah satu desa yang masih menggunakan bahasa aramic -bahasa kuno yang pernah digunakan Yesus as- maloula pernah menjadi kontes peperangan antara tentara pro pemerintah syria melawan teroris jahbat nusra dan FSA. 2 kali maloula sempat berpindah tangan ke tangan teroris. 21-oktober-2013 sampai 28-oktober-2013 dan 13-desember-2013 sampai 14-april-2014.

Selama maloula dikuasai para teroris,  1500 christian armenia dan orthodox dijadikan sandera. Menggunakan sebagai tameng hidup, penduduk sipil kristen maloula termasuk wanita dan anak2 dikurung ditempat2 strategis untuk mencegah serangan udara. Sementara itu 2500 kristen maloula mengungsi ke wilayah pemerintah syria. 45 warga sipil ditembak tanpa pengadilan, ada yang dibakar hidup2, maupun dieksekusi dijalanan.

Tidak usah kita ceritakan pemerkosaan yg diderita wanita2 kristen maloula karena mereka dianggap budak. Atau pendeta2 yang disembelih hanya karena dianggap kafir. Gereja2 yang dihancurkan, rumah2 yang dijarah, penghancuran patung yesus dan bunda maria, pembakaran manuskrip2 tua aramic kristen, rumah2 sakit yg dihancurkan, sekolahan, dll.

Oh ya, sambil tidak lupa, selalu ada coretan2 didinding2 yang telah hancur, sebagai simbol kebanggaan perbuatan mereka: “Allahu Akbar”, “Jahbat nusra”, ” Rezim akan hancur”, “Kemenangan untuk khalifah”.

Pendek kata, Kristen maloula yg hidup damai, dan peradaban tua yg berumur ratusan tahun, sebuah peradaban yang bahkan sudah exist sebelum islam hadir, telah hancur dalam sekejap. Dan semuanya, terjadi dengan mengatasnamakan Tuhan.

Melihat nasib kristen maloula, Boutros Alnemeh, kepala kristen orthodox Kota Homs dan Hama berkata: “warga kami mengalami trauma, dan dicekam ketakutan. Mereka digunakan sebagai perisai hidup. Atas nama mereka, kami memohon secara mendesak kepada parlemen eropa dan masyarakat international untuk bantuan kemanusiaan dan menolong mereka”

Boutrous Almaneh yg kristen tidak salah. Dia seorang kristen. Dan karena itu meminta pertolongan kepada komunitas international, parlement eropa,  yg sebagian besar kristen untuk membantu mereka.

Namun fakta berbicara sebaliknya. Parlemen eropa  bungkam. Dunia internasional bungkam. Tentu kita tahu persis alasan kebungkaman mereka. Mereka yg membiayai dan mempersenjatai para teroris, maka jangan kau harapkan bantuan dari mereka.

Lantas,
Siapa yang menyambut seruan permintaan tolong mereka?
Siapa yang datang untuk menyelamatkan minoritas tertindas ini ketika tidak ada yang mau menyelamatkan mereka!?

Hizbullah!!! Dan tentu saja, bersama dengan tentara Syria.

April 14, 2014 Hizbullah bersama tentara syria (SAA) berhasil membersihkan maloula dari para teroris bangsat. Hal yang pertama yang dilakukan tentara Hizbullah ketika berhasil membebaskan maloula adalah datang gereja, dan membunyikan loncengnya.

Epic!!!

Watch “Hezbollah man rings church bells in Syria” on YouTube

Maka jangan heran, jika Hizbullah dapat meraih cinta masyarakat lebanon maupun syria, terutama kaum minoritasnya. Hizbullah meraih cinta mereka tidak dengan cara membangun banyak masjid, atau melafalkan ayat2 suci sambil memegang tasbih lalu berkhutbah.

Tapi lebih menukik kedalam ajaran sejati islam, Hizbullah meraih cinta manusia dengan cara berkhidmat kepada manusia, membangun rumah2 sakit, memberdayakan kaum papa, memanusiakan minoritas, dan mengangkat derajat mereka yg terpinggirkan. [Sebelum Hizbullah lahir, minoritas syiah lebanon adalah kaum marginal dan papa. Sekarang, syiah lebanon sangat berpengaruh di lebanon maupun dikawasan]

Tanpa menggunakan ayat2 suci sekalipun, semua perbuatan hizbullah adalah lantunan ayat suci.

Maka tidak usah heran, jika Imam Mihrab Syaikh Said Ramadhan AlBouthy asSufi ra memuji tinggi sayyid hasan Nashrullah, leader hizbullah:

“Aku berharap agar diri ini, disisi Allah, sama  nilainya dengan jari ditangan Hasan Nashrullah. Aku katakan satu jari ditangan pejuang. Aku tidak pernah berperang. Tidak pernah terbuka kesempatan bagiku untuk berjuang disisi Allah dengan berperang” (syaikh Bouthy)

[Perlu diperhatikan: syaikh Bouthy syahid sebelum menyaksikan perjuangan heroik Hizbullah membela minoritas kristen maloula diatas]

Videonya bisa dilihat disini:

“Mereka yang berkhidmat kepada manusia”, kata Rasulullah saaw pembawa islam rahmatan lilalamin, “dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dan dekat dengan manusia”

Hizbullah, persis mengikuti sabda sang Rasul.

Tentu saja, semua itu karena rekam jejak hizbullah yang berbicara.

Lain Hizbullah, lain pula Mufti Sunni Syria, syaikh Ahmad Hassoun. Dia seorang doktor dalam fikih Syafii. Dia sering berbicara dalam dialog antar agama dan antar budaya.

Ada salah satu petikan pidato beliau didepan parlemen eropa 15-jan-2008 yg mengesankan. Saya merasa perlu membaginya kepada anda karena walau pidato ini pidato lama, tapi masih sangat relevan dengan kondisi syria saat ini.

“Aku datang dari suatu negeri. Aku tidak pernah memilih agar aku berada di sana. Tapi langitlah yang memlih aku menjadi bagian dari penduduk negeri itu. Itulah negeri yang kami sebut dengan negeri yang diberkahi: negeri Syam, Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel.

Inilah negeri-negeri yang menerima suluruh peradaban ruhani dari langit. Di tanah kami, dulu Ibrahim berjalan. Di tanah kami, dulu Musa merasa aman dan hidup dalam kebahagiaan. Di tanah kami, dulu Isa dilahirkan. Dari tanah kami, Isa naik ke langit. Ke tanah kami, Muhammad datang dari Mekah untuk naik ke langit”

Setelah memuji tanah syam, tanah peradaban dan kebudayaan, tanah kelahirn para nabi dan manusia suci, beliau melanjutkan pidato mengenai nilai2 kemanusiaan dengan logika sedemikian jernih:

“Karena Ka’bah dibangun oleh manusia. Tembok Ratapan dibangun oleh orang-orang Yahudi; Gereja al-Qiyamah dibangun oleh orang-orang Nasrani. Sedang manusia, siapa yang membangun? Manusia adalah bangunan Tuhan.

Terlaknatlah orang yang menghancurkan bangunan Tuhan!
Tekutuklah orang yang membinasakan manusia.

Seorang bocah Palestina, bocah Israel, bocah Iraq, yang terbunuh hari ini, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita semua karena pembunuhan itu. Karena, bocah-bicah itu adalah “boneka-boneka” yang Tuhan ciptakan di muka bumi ini, dan kita membunuh boneka-boneka itu tanpa kemampuan mengembalikan kehidupan mereka lagi…

Jika Ka’bah dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh anak-anak kita. Jika masjid Aqsha dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh cucu-cucu kita. Jika gereja al-Qiyamah dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh generasi selanjutanya. Tapi, saya mohon kesadaran kalian, jika seseorang dibunuh, siapa yang mampu mengembalikan kehidupannya?” (Syaikh Ahmad Hassoun)

Pidato lengkapnya dapat dibaca disini:

http://www.islam-institute.com/syaikh-ahmad-hassoun-dari-suriah-tebar-cinta-di-eropa/

Videonya juga bisa dilihat disini:

Sejak menggantikan Syaikh Ahmad Kaftaro sebagai Mufti Sunni Syria Juli-2005, Syaikh Ahmad Hassoun memang sering berdialog lintas agama. Beliau memposisikan dirinya sebagai bapak bangsa. Bapak bangsa yang mengayomi anak2 syria baik muslim, kristen, yezidi, alawite, armenia, bahkan atheis sekalipun. Beliau benar2 mewujudkan dirinya dalam satu kalimat indah: islam rahmatan lil alamin. Dalam arti yang sebenarnya.

Beliau bahkan tidak segan keluar masuk gereja, untuk mengumandangkan pesan2 kemanusiaan. Tentu saja, pesan kemanusiaan universal tanpa sekalipun kehilangan nilai2 islam.

Silahkan lihat video ini. Syaikh Ahmad Hassoun datang ke gereja, menghadiri perayaan natal umat kristiani, berbicara mengenai Yesus dalam perspektif islam tanpa menyinggung umat kristen. Kehormatan islam tidak beliau buang, tapi saat bersamaan harmonisasi antara agama, beliau rajut dan kembangkan.

[Bayangkan fitnah seperti apa yang akan diterima oleh Syaikh Ahmad Hassoun jika beliau tinggal di Indonesia]

Watch “Only in Syria – Grand Mufti Ahmad Hassoun Leads a Christmas Mass” on YouTube

Tentu sekarang kita tidak heran jika mufti Syria dicintai minoritas dan dihormati mayoritas. Perwujudan mufti syria, adalah perwujudan islam sejati: islam rahmatan lilalamin.

Semua tingkah laku mufti sunni syria sejatinya cerminan mendasar bangsa syria: toleran dan moderat. Mereka toleran kepada yang berbeda. Dan mereka moderat menerima perbedaan. Dan syria dibangun atas dasar toleransi ini.

Sengaja saya berbicara mengenai maloula, hizbullah, mufti syria sunni, agar saya dapat mengajukan sebuah pertanyaan.

Setelah kita melihat Hizbullah yang demikian mengayomi kaum minoritas, dan Mufti Sunni Syria yang demikian toleran kepada kaum minoritas sekalipun, apakah iman rakyat syria jadi tergadaikan dan  beralih ke kristen?

Apakah banyak muslim syria yang berbondong-bondong masuk kristen karena kehidupan mereka yang demikian toleran!?

Gak tuh.

Muslim syria sejauh ini masih mayoritas. Bahkan dari tahun 1970 hingga saat ini, lebih dari 87% populasi syria adalah muslim. Dimana 70%nya adalah muslim sunni, 11% alawite dan sisanya diisi muslim syiah, druze, orthodox, yezidi, armenian, dan kaum minoritas lainya.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Syria

Angka tersebut cenderung tidak berubah dari tahun ketahun. Malah ada kecenderungan jumlah muslim justru meningkat.

Dan ajaibnya, dari negeri2 yang sangat toleran seperti syria ini, malah lahir ulama2 kelas dunia, yang mengerti masalah2 syria kekinian, namun memiliki keanggunan dan kharismatik ulama-ulama klasik.

Maka kita mengenal2 ulama sunni yang membanggakan justru dapat terlahir dari negara toleran seperti syria ini. Saya menyebut beberapa saja diantaranya.

Seperti Syaikh Wahbah Zuhaili professor multidisiplin ilmu. Imam Mihrab Syaikh Ramadhan alBouthi, sering dijuluki sang gozali kecil. Pakar yurispredinsi islam sekaligus pakar mistisme islam (tasawuf).

Syaikh Shukri AlLuhfi, mursyid thoriqoh syadziliah, syaikh Ahmad Habbal, mursyid thoriqoh Arrifaiyah. Keduanya dikenal luas di syria sebagai salah satu wali abdal dari 40 wali.

Dan tentu saja, masih ada ribuan ulama fikih sunni dan sufi yang lahir setiap tahunnya dari madrasah2 dan halaqoh yang tersebar di seluruh syria.

Semua itu sangat memungkinkan dan justru berkembang dinegara yang toleran seperti syria.

Sayangnya, negeri yang demikian toleran seperti syria, negeri yang melahirkan ribuan2 ulama2 cemerlang, justru sedang dihancurkan.

Dan yang menghancurkan syria, justru saudara2 kita sendiri, yang mengaku beragama islam dan mengaku mengusung islam rahmatan lil alamin.

Islam rahmatan lil alamin, dalam benak mereka, justru berarti penghancuran peradaban dan kebudayaan.

Ironis.

Feynman

Feynman
Oleh subbhan a, blogger

richardfeynman-painemansionwoods1984_copyrighttamikothiel_bw

Richard Feynman 1918-1988

Ketika Richard Feyman masih kuliah di MIT, dia mengambil mata kuliah biologi. Sebagai mata kuliah pilihan yang wajib diambil.

Sebagai mahasiswa fisika cemerlang, kadang menghapal definisi-definisi yang ada diktat2 adalah membosankan. Karena anda tinggal membuka buku biologi, dan dapat membaca definisinya secara langsung. Sesimple itu saja. Justru proses tersulit bukan disitu. Memahami realitasnya yang jauh lebih sulit.

Feynman membuktikan, seperti diungkapkan dalam bukunya yg menghibur “Surely You’re Joking, Mr Feynman“, ketika meneliti masalah biologi molekuler, Feynman melejit melebihi para koleganya yg mengambil mata kuliah biologi. Sekiranya, dia tidak ceroboh, kata Feynman, penelitianya mungkin diganjar nobel biologi. Sayangnya, sbg fisikawan lebih2 fisikawan teori, dia menderita penyakit yg sama: ceroboh.

Feynman tak pelak adalah ilmuwan yg banyak membaca tapi tak suka menghapal. Dia keliling dunia, mengajar banyak orang utk memahami realitas fisika yg tidak akan anda dapatkan hanya dgn membaca buku atau diktat. Dia sampai dalam level mahaguru, meraih nobel fisika, melalui karyanya yg cemerlang: Elektrodinamika Kuantum. Cabang teori fisika baru yang berhasil dia gagas.

Mengapa anda harus menghapal definisi-definisi jika bisa anda dapatkan hanya dengan membuka buku? Begitu kata2nya. Apalagi jaman internet seperti sekarang ini, yg hanya butuh 1-2 klik utk mendapatkan informasi.

Feynman memahami fisika hingga level tersulit tidak melalui diktat2 yang tebal, tapi masuk hingga ke realitasnya.

Jika pemula, pada saat belajar fisika, mereka harus mengambil kertas dan menuangkannya kedalam rumus2 rumit dan sulit utk memahami fisika, maka Feynman sudah melewati itu semua. Dia sudah memahami dari awal sampai akhir topik tanpa menuangkannya dalam rumus2 dikertas. Dia memikirkannya semuanya diotaknya.

Ketika ditanya, bagaimana dia mencapai itu, dia menjawab: aku memahami fisika hingga realitas terdalam. Dan itulah tahap tertinggi fisikawan. Sebuah posisi yg dicapai Einstein, Mills dan Yang, Paul Adrian Maurice Dirac, Niels Bohr, Werner Heisenberg, Schrodinger dan puluhan fisikawan cemerlang lainnya.

Saya berbicara tentang Feyman, utk menunjukkan bahwa diktat2 dan buku2 bukanlah tujuan. Dia cuma alat, dan jangan berhenti disitu.

Apalagi jika anda seorang pelajar yang ingin mengenal Tuhan.

Alam semesta tidak mampu menampungKu, tapi hati hambaKu yang ikhlas dapat meliputiKu“. (Hadits).

Jika alam semesta saja tidak mampu menampungNya maka jangan harap buku dan diktat dapat menampung dan menjelaskanNya.

Sepertinya kalimat terakhir itu relevan merangkum tulisan ini.

Literalis

Literalis
By subbhan a, blogger

images-4

Wahabi sering memaknai teks secara literal dan terjatuh kedalam lubang pengkafiran (takfiri)

Seorang sufi mengajar muridnya. Dan dia memelihara kucing karena begitu sayangnya. Tapi setiap mengajar, kucing itu membuat kegaduhan. Untuk mengatasinya, maka setiap sang sufi mengajar, kucingnya diikat agar tdk membuat gaduh.

Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun sehingga muridnya lupa alasan kenapa kucingnya diikat pada sang sufi mengajar. Ketika sang sufi wafat, murid penerusnya melanjutkan tradisi. Walau murid2nya tidak menyukai kucing, mereka sengaja membeli kucing dan mengikatnya kala pelajaran dimulai oleh guru yang baru.

Di lain tempat, ada sang sufi lainnya. Setiap sholat, saat bangkit dari sujud, tubuhnya secara otomatis membutuhkan oksigen. Karena sudah tua, paru-parunya terbuka secara tiba-tiba untuk membuat aliran oksigen lebih lancar. Sementara tenggorokannya tidak siap, maka secara alami sang sufi mengeluarkan batuk setiap kali bangkit dari sujud.

Kejadian ini berlangsung terus selama hidupnya. Apalagi jika musim dingin mendera.

Ketika sang sufi meninggal, murid2nya yang tidak memahami persoalan, melanjutkan tradisi ini. Setiap bangkit dari sujud, mereka batuk secara berjamaah: uhuk uhuk..

Gaduh ..

Apa yg dilakukan para murid diatas, adalah gambaran tepat perilaku para literalis. Mereka memahami agama, hanya berdasar yang tersurat. Padahal dalam setiap kejadian selau ada makna yang tersirat. Dan seringkali  makna yang tersirat itulah makna yang sebenarnya.

Pertanyaan dimana Tuhan Sangat Tidak Relevan

Artikel ini saya tulis sebagai respon atas anggapan kawan2 wahhabi yang menganggap Tuhan bertempat di Langit. Aneh.

Pertanyaan dimana Tuhan Sangat Tidak Relevan
– Sebuah telaah pendek –
Oleh: subbhan a, blogger

big-bang-8

peristiwa ledakan besar dari sebuah singularitas yang melahirkan alam semesta. dimana Tuhan saat itu?

Ketika Hubble menemukan teleskopnya, dia menemukan bahwa bintang2 yang diamati mengalami pergeseran infra merah. Seketika para fisikawan sadar  bahwa bintang2 bergerak saling berjauhan satu sama lain. Karena hanya dalam keadan bergerak saling menjauh, bintang dapat mengeluarkan sinar inframerah.

Jika bintang2 saling bergerak menjauh satu sama lain, dan kecepatan menjauhnya dapat diukur, berarti dengan menghitung balik, fisikawan juga dapat menghitung saat semua benda angkasa di alam semesta berkumpul dalam satu titik dimensi tetapi memiliki massa sebesar alam semesta saat ini.

Itulah singularitas.

Utk memahami apa itu singularistas, bayangkan alam semesta saat ini yg besanya tak hingga tapi dengan ukuran sedemikian kecil mendekati nol. Saat itu, hukum fisika yg saat ini dikenal, tidak berlaku. Tidak ada yg namanya hukum graviasi, hukum newton, hukum kuantum dll. Materi belum dikenal, demikian pula konsep ruang dan waktu. Atas bawah, langit, bumi, bintang tidak relevan dibahas.

Alam semesta yg kita kenal saat ini pun tidak ada.

Dimana Tuhan saat itu?

Pertanyaan dimana Tuhan saat itu sama tidak relevannya dgn pertanyaan dimana Tuhan saat ini. Karena kata “dimana”, berarti menanyakan tempat dan terkait dengan ruang. Padahal ruang itu sendiri  belum tercipta. Tuhan tidak dilangit, tidak di bumi, tidak dimana-mana, tidak kemana-mana tetapi ada dimana-mana. Dia ada sejak awal mula dan tetap ada hingga alam semesta tiada. Konsep ruang dan waktu tdk meliputiNya karena ruang waktu justru diciptakanNya. Karena itu, mencoba menerangkan sifat keberadaaNya seringkali menjadi paradoksial.

Bahwa Alquran mencoba menjelaskan bahwa seakan2 Tuhan dilangit, hanya bisa ditafsirkan karena Dia ingin berdialog dengan makhkuknya dengan bahasa yg dikenal manusia. Tentu sangat rumit menjelaskan eksistensi Tuhan, yg terlepas dari ruang waktu dan terlepas dari hukum2 fisika saat ini sementara otak manusia, mengalami adaptasi selama jutaan tahun dalam hukum2 fisika yg dikenal saat ini.

Dalam acara NatGeo BrainGame, ada sebuah percobaan yg menunjukkan bahwa cara otak bekerja mengenai persepsi ruang dan waktu, sedemikian mudah direkayasa. Saat itu, sepasang suami istri, diberikan kaca mata yg memiliki distorsi 7 derajat. Artinya, setiap benda yang dilihat dgn kaca mata tersebut, bergeser sebesar 7 derajat kekiri.

Ketika pasangan tersebut disuruh menuangkan air ke sebuah gelas, keduanya gagal melakukannya akibat distorsi kaca mata. Ajaibnya, otak manusia secara cepat beradaptasi. Dan 15-20 menit kemudian, pasangan tersebut dapat menyesuaikan kondisi distorsi dan dapat menuangkan air didalam gelas.

Setelah terbiasa menggunakan kaca mata distorsi, percobaan dilanjutkan ketika kaca matanya dilepas. Karena otak sudah terbiasa melihat realita dalam keadaan distorsi, maka ketika kaca mata dilepas, otakpun harus menyesuaikan realita. Tetapi itupun butuh waktu. Utk sesaat pasangan tersebut juga gagal menuangkan air kedalam gelas karena otak masih beradaptasi.

Apa korelasi percobaan yang saya sebutkan diatas?

Bahwa konsep atas bawah, yang direkam manusia, adalah hasil adaptasi otak manusia jutaan tahun. Bahwa sesuatu disebut “diatas”, untuk sesuatu diatas horizon dan disebut “dibawah” utk dibawah horizon pandangan.

Dan butuh sebuah distorsi untuk membalik itu semua.

Maka ketika Tuhan, harus bercakap-cakap dan menyampaikan ide-Nya kepada manusia adaptif seperti ini, Dia harus bercakap-cakap dengan bahasa dan distorsi yang dikenal manusia.

Bahkan dengan itupun, begitu banyak penafsiran atasNya. Bayangkan, jika Tuhan menjelasakan diri-Nya dalam realitas yang tidak dipahami manusia. Bisa jadi tidak ada satupun manusia yang mampu mengenal-Nya.