Hizbullah, Mufti Sunni Syria dan Lonceng Gereja

Hizbullah, Mufti Sunni Syria dan Lonceng Gereja
Oleh: subbhan a, blogger

syria_-_location_map_2013_-_syr_-_unocha-svg

– Syria –

Maloula: adalah sebuah kota kecil dalam provinsi Damaskus dan terletak 56 km timur laut Damaskus ibuka Syria. Dikenal sbg salah satu desa yang masih menggunakan bahasa aramic -bahasa kuno yang pernah digunakan Yesus as- maloula pernah menjadi kontes peperangan antara tentara pro pemerintah syria melawan teroris jahbat nusra dan FSA. 2 kali maloula sempat berpindah tangan ke tangan teroris. 21-oktober-2013 sampai 28-oktober-2013 dan 13-desember-2013 sampai 14-april-2014.

Selama maloula dikuasai para teroris,  1500 christian armenia dan orthodox dijadikan sandera. Menggunakan sebagai tameng hidup, penduduk sipil kristen maloula termasuk wanita dan anak2 dikurung ditempat2 strategis untuk mencegah serangan udara. Sementara itu 2500 kristen maloula mengungsi ke wilayah pemerintah syria. 45 warga sipil ditembak tanpa pengadilan, ada yang dibakar hidup2, maupun dieksekusi dijalanan.

Tidak usah kita ceritakan pemerkosaan yg diderita wanita2 kristen maloula karena mereka dianggap budak. Atau pendeta2 yang disembelih hanya karena dianggap kafir. Gereja2 yang dihancurkan, rumah2 yang dijarah, penghancuran patung yesus dan bunda maria, pembakaran manuskrip2 tua aramic kristen, rumah2 sakit yg dihancurkan, sekolahan, dll.

Oh ya, sambil tidak lupa, selalu ada coretan2 didinding2 yang telah hancur, sebagai simbol kebanggaan perbuatan mereka: “Allahu Akbar”, “Jahbat nusra”, ” Rezim akan hancur”, “Kemenangan untuk khalifah”.

Pendek kata, Kristen maloula yg hidup damai, dan peradaban tua yg berumur ratusan tahun, sebuah peradaban yang bahkan sudah exist sebelum islam hadir, telah hancur dalam sekejap. Dan semuanya, terjadi dengan mengatasnamakan Tuhan.

Melihat nasib kristen maloula, Boutros Alnemeh, kepala kristen orthodox Kota Homs dan Hama berkata: “warga kami mengalami trauma, dan dicekam ketakutan. Mereka digunakan sebagai perisai hidup. Atas nama mereka, kami memohon secara mendesak kepada parlemen eropa dan masyarakat international untuk bantuan kemanusiaan dan menolong mereka”

Boutrous Almaneh yg kristen tidak salah. Dia seorang kristen. Dan karena itu meminta pertolongan kepada komunitas international, parlement eropa,  yg sebagian besar kristen untuk membantu mereka.

Namun fakta berbicara sebaliknya. Parlemen eropa  bungkam. Dunia internasional bungkam. Tentu kita tahu persis alasan kebungkaman mereka. Mereka yg membiayai dan mempersenjatai para teroris, maka jangan kau harapkan bantuan dari mereka.

Lantas,
Siapa yang menyambut seruan permintaan tolong mereka?
Siapa yang datang untuk menyelamatkan minoritas tertindas ini ketika tidak ada yang mau menyelamatkan mereka!?

Hizbullah!!! Dan tentu saja, bersama dengan tentara Syria.

April 14, 2014 Hizbullah bersama tentara syria (SAA) berhasil membersihkan maloula dari para teroris bangsat. Hal yang pertama yang dilakukan tentara Hizbullah ketika berhasil membebaskan maloula adalah datang gereja, dan membunyikan loncengnya.

Epic!!!

Watch “Hezbollah man rings church bells in Syria” on YouTube

Maka jangan heran, jika Hizbullah dapat meraih cinta masyarakat lebanon maupun syria, terutama kaum minoritasnya. Hizbullah meraih cinta mereka tidak dengan cara membangun banyak masjid, atau melafalkan ayat2 suci sambil memegang tasbih lalu berkhutbah.

Tapi lebih menukik kedalam ajaran sejati islam, Hizbullah meraih cinta manusia dengan cara berkhidmat kepada manusia, membangun rumah2 sakit, memberdayakan kaum papa, memanusiakan minoritas, dan mengangkat derajat mereka yg terpinggirkan. [Sebelum Hizbullah lahir, minoritas syiah lebanon adalah kaum marginal dan papa. Sekarang, syiah lebanon sangat berpengaruh di lebanon maupun dikawasan]

Tanpa menggunakan ayat2 suci sekalipun, semua perbuatan hizbullah adalah lantunan ayat suci.

Maka tidak usah heran, jika Imam Mihrab Syaikh Said Ramadhan AlBouthy asSufi ra memuji tinggi sayyid hasan Nashrullah, leader hizbullah:

“Aku berharap agar diri ini, disisi Allah, sama  nilainya dengan jari ditangan Hasan Nashrullah. Aku katakan satu jari ditangan pejuang. Aku tidak pernah berperang. Tidak pernah terbuka kesempatan bagiku untuk berjuang disisi Allah dengan berperang” (syaikh Bouthy)

[Perlu diperhatikan: syaikh Bouthy syahid sebelum menyaksikan perjuangan heroik Hizbullah membela minoritas kristen maloula diatas]

Videonya bisa dilihat disini:

“Mereka yang berkhidmat kepada manusia”, kata Rasulullah saaw pembawa islam rahmatan lilalamin, “dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dan dekat dengan manusia”

Hizbullah, persis mengikuti sabda sang Rasul.

Tentu saja, semua itu karena rekam jejak hizbullah yang berbicara.

Lain Hizbullah, lain pula Mufti Sunni Syria, syaikh Ahmad Hassoun. Dia seorang doktor dalam fikih Syafii. Dia sering berbicara dalam dialog antar agama dan antar budaya.

Ada salah satu petikan pidato beliau didepan parlemen eropa 15-jan-2008 yg mengesankan. Saya merasa perlu membaginya kepada anda karena walau pidato ini pidato lama, tapi masih sangat relevan dengan kondisi syria saat ini.

“Aku datang dari suatu negeri. Aku tidak pernah memilih agar aku berada di sana. Tapi langitlah yang memlih aku menjadi bagian dari penduduk negeri itu. Itulah negeri yang kami sebut dengan negeri yang diberkahi: negeri Syam, Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel.

Inilah negeri-negeri yang menerima suluruh peradaban ruhani dari langit. Di tanah kami, dulu Ibrahim berjalan. Di tanah kami, dulu Musa merasa aman dan hidup dalam kebahagiaan. Di tanah kami, dulu Isa dilahirkan. Dari tanah kami, Isa naik ke langit. Ke tanah kami, Muhammad datang dari Mekah untuk naik ke langit”

Setelah memuji tanah syam, tanah peradaban dan kebudayaan, tanah kelahirn para nabi dan manusia suci, beliau melanjutkan pidato mengenai nilai2 kemanusiaan dengan logika sedemikian jernih:

“Karena Ka’bah dibangun oleh manusia. Tembok Ratapan dibangun oleh orang-orang Yahudi; Gereja al-Qiyamah dibangun oleh orang-orang Nasrani. Sedang manusia, siapa yang membangun? Manusia adalah bangunan Tuhan.

Terlaknatlah orang yang menghancurkan bangunan Tuhan!
Tekutuklah orang yang membinasakan manusia.

Seorang bocah Palestina, bocah Israel, bocah Iraq, yang terbunuh hari ini, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita semua karena pembunuhan itu. Karena, bocah-bicah itu adalah “boneka-boneka” yang Tuhan ciptakan di muka bumi ini, dan kita membunuh boneka-boneka itu tanpa kemampuan mengembalikan kehidupan mereka lagi…

Jika Ka’bah dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh anak-anak kita. Jika masjid Aqsha dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh cucu-cucu kita. Jika gereja al-Qiyamah dihancurkan, pasti akan dibangun kembali oleh generasi selanjutanya. Tapi, saya mohon kesadaran kalian, jika seseorang dibunuh, siapa yang mampu mengembalikan kehidupannya?” (Syaikh Ahmad Hassoun)

Pidato lengkapnya dapat dibaca disini:

http://www.islam-institute.com/syaikh-ahmad-hassoun-dari-suriah-tebar-cinta-di-eropa/

Videonya juga bisa dilihat disini:

Sejak menggantikan Syaikh Ahmad Kaftaro sebagai Mufti Sunni Syria Juli-2005, Syaikh Ahmad Hassoun memang sering berdialog lintas agama. Beliau memposisikan dirinya sebagai bapak bangsa. Bapak bangsa yang mengayomi anak2 syria baik muslim, kristen, yezidi, alawite, armenia, bahkan atheis sekalipun. Beliau benar2 mewujudkan dirinya dalam satu kalimat indah: islam rahmatan lil alamin. Dalam arti yang sebenarnya.

Beliau bahkan tidak segan keluar masuk gereja, untuk mengumandangkan pesan2 kemanusiaan. Tentu saja, pesan kemanusiaan universal tanpa sekalipun kehilangan nilai2 islam.

Silahkan lihat video ini. Syaikh Ahmad Hassoun datang ke gereja, menghadiri perayaan natal umat kristiani, berbicara mengenai Yesus dalam perspektif islam tanpa menyinggung umat kristen. Kehormatan islam tidak beliau buang, tapi saat bersamaan harmonisasi antara agama, beliau rajut dan kembangkan.

[Bayangkan fitnah seperti apa yang akan diterima oleh Syaikh Ahmad Hassoun jika beliau tinggal di Indonesia]

Watch “Only in Syria – Grand Mufti Ahmad Hassoun Leads a Christmas Mass” on YouTube

Tentu sekarang kita tidak heran jika mufti Syria dicintai minoritas dan dihormati mayoritas. Perwujudan mufti syria, adalah perwujudan islam sejati: islam rahmatan lilalamin.

Semua tingkah laku mufti sunni syria sejatinya cerminan mendasar bangsa syria: toleran dan moderat. Mereka toleran kepada yang berbeda. Dan mereka moderat menerima perbedaan. Dan syria dibangun atas dasar toleransi ini.

Sengaja saya berbicara mengenai maloula, hizbullah, mufti syria sunni, agar saya dapat mengajukan sebuah pertanyaan.

Setelah kita melihat Hizbullah yang demikian mengayomi kaum minoritas, dan Mufti Sunni Syria yang demikian toleran kepada kaum minoritas sekalipun, apakah iman rakyat syria jadi tergadaikan dan  beralih ke kristen?

Apakah banyak muslim syria yang berbondong-bondong masuk kristen karena kehidupan mereka yang demikian toleran!?

Gak tuh.

Muslim syria sejauh ini masih mayoritas. Bahkan dari tahun 1970 hingga saat ini, lebih dari 87% populasi syria adalah muslim. Dimana 70%nya adalah muslim sunni, 11% alawite dan sisanya diisi muslim syiah, druze, orthodox, yezidi, armenian, dan kaum minoritas lainya.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Syria

Angka tersebut cenderung tidak berubah dari tahun ketahun. Malah ada kecenderungan jumlah muslim justru meningkat.

Dan ajaibnya, dari negeri2 yang sangat toleran seperti syria ini, malah lahir ulama2 kelas dunia, yang mengerti masalah2 syria kekinian, namun memiliki keanggunan dan kharismatik ulama-ulama klasik.

Maka kita mengenal2 ulama sunni yang membanggakan justru dapat terlahir dari negara toleran seperti syria ini. Saya menyebut beberapa saja diantaranya.

Seperti Syaikh Wahbah Zuhaili professor multidisiplin ilmu. Imam Mihrab Syaikh Ramadhan alBouthi, sering dijuluki sang gozali kecil. Pakar yurispredinsi islam sekaligus pakar mistisme islam (tasawuf).

Syaikh Shukri AlLuhfi, mursyid thoriqoh syadziliah, syaikh Ahmad Habbal, mursyid thoriqoh Arrifaiyah. Keduanya dikenal luas di syria sebagai salah satu wali abdal dari 40 wali.

Dan tentu saja, masih ada ribuan ulama fikih sunni dan sufi yang lahir setiap tahunnya dari madrasah2 dan halaqoh yang tersebar di seluruh syria.

Semua itu sangat memungkinkan dan justru berkembang dinegara yang toleran seperti syria.

Sayangnya, negeri yang demikian toleran seperti syria, negeri yang melahirkan ribuan2 ulama2 cemerlang, justru sedang dihancurkan.

Dan yang menghancurkan syria, justru saudara2 kita sendiri, yang mengaku beragama islam dan mengaku mengusung islam rahmatan lil alamin.

Islam rahmatan lil alamin, dalam benak mereka, justru berarti penghancuran peradaban dan kebudayaan.

Ironis.

Advertisements