Feynman

Feynman
Oleh subbhan a, blogger

richardfeynman-painemansionwoods1984_copyrighttamikothiel_bw

Richard Feynman 1918-1988

Ketika Richard Feyman masih kuliah di MIT, dia mengambil mata kuliah biologi. Sebagai mata kuliah pilihan yang wajib diambil.

Sebagai mahasiswa fisika cemerlang, kadang menghapal definisi-definisi yang ada diktat2 adalah membosankan. Karena anda tinggal membuka buku biologi, dan dapat membaca definisinya secara langsung. Sesimple itu saja. Justru proses tersulit bukan disitu. Memahami realitasnya yang jauh lebih sulit.

Feynman membuktikan, seperti diungkapkan dalam bukunya yg menghibur “Surely You’re Joking, Mr Feynman“, ketika meneliti masalah biologi molekuler, Feynman melejit melebihi para koleganya yg mengambil mata kuliah biologi. Sekiranya, dia tidak ceroboh, kata Feynman, penelitianya mungkin diganjar nobel biologi. Sayangnya, sbg fisikawan lebih2 fisikawan teori, dia menderita penyakit yg sama: ceroboh.

Feynman tak pelak adalah ilmuwan yg banyak membaca tapi tak suka menghapal. Dia keliling dunia, mengajar banyak orang utk memahami realitas fisika yg tidak akan anda dapatkan hanya dgn membaca buku atau diktat. Dia sampai dalam level mahaguru, meraih nobel fisika, melalui karyanya yg cemerlang: Elektrodinamika Kuantum. Cabang teori fisika baru yang berhasil dia gagas.

Mengapa anda harus menghapal definisi-definisi jika bisa anda dapatkan hanya dengan membuka buku? Begitu kata2nya. Apalagi jaman internet seperti sekarang ini, yg hanya butuh 1-2 klik utk mendapatkan informasi.

Feynman memahami fisika hingga level tersulit tidak melalui diktat2 yang tebal, tapi masuk hingga ke realitasnya.

Jika pemula, pada saat belajar fisika, mereka harus mengambil kertas dan menuangkannya kedalam rumus2 rumit dan sulit utk memahami fisika, maka Feynman sudah melewati itu semua. Dia sudah memahami dari awal sampai akhir topik tanpa menuangkannya dalam rumus2 dikertas. Dia memikirkannya semuanya diotaknya.

Ketika ditanya, bagaimana dia mencapai itu, dia menjawab: aku memahami fisika hingga realitas terdalam. Dan itulah tahap tertinggi fisikawan. Sebuah posisi yg dicapai Einstein, Mills dan Yang, Paul Adrian Maurice Dirac, Niels Bohr, Werner Heisenberg, Schrodinger dan puluhan fisikawan cemerlang lainnya.

Saya berbicara tentang Feyman, utk menunjukkan bahwa diktat2 dan buku2 bukanlah tujuan. Dia cuma alat, dan jangan berhenti disitu.

Apalagi jika anda seorang pelajar yang ingin mengenal Tuhan.

Alam semesta tidak mampu menampungKu, tapi hati hambaKu yang ikhlas dapat meliputiKu“. (Hadits).

Jika alam semesta saja tidak mampu menampungNya maka jangan harap buku dan diktat dapat menampung dan menjelaskanNya.

Sepertinya kalimat terakhir itu relevan merangkum tulisan ini.

Advertisements