Mereka yang Telah Menunaikan Nazar

Mereka yang Telah Menunaikan Nazar …
by Subbhan A, blogger

Kedua anak lelaki itu terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya yang sehari-harinya cerah dan menyenangkan, kini terlihat pucat. Biasanya, ketika tidak dalam keadaan sakit, keduanya selalu riang gembira. Dengan kulitanya yang cerah kemerahan, wajah yang bulat bercahaya, rambut ikal pirang dan perawakan yang menggemaskan, membuat siapapun yang memandangnya jatuh hati. Pancaran wibawa ilahi dan cahaya malaikat mengalir jelas di garis-garis wajahnya. Kata-katanya menarik hati, walaupun usianya masihlah sangat dini. Tidak heran, jika sejumlah orang menaruh hormat dan cinta kasih sekaligus kepadanya. Tidak peduli berapapun usia orang tersebut.

Keduanya tumbuh besar dalam rumah dalam kasih sayang dan cinta Nabi. Setiap hari, tidak henti2nya hilir mudik para malaikat membawa rahmat dan berkah kepadanya. Tidak heran, karena rumah yang ditinggalinya adalah persinggahan para malaikat. Keselamatan dan kesejahteraan selalu terlimpah kepada keduanya. Doa-doa para malaikat, tumbuhan, binatang dan seluruh makhluk di petala langit dan bumi, selalu dialamatkan keduanya. Lima kali dalam sehari.

Siapakah dia yang mempunyai ciri-ciri yang menakjubkan tersebut? Siapakah dia yang mempunyai keutamaan yang tidak semua orang memilikinya? Dialah Hasan dan Husain, cucu tercinta Nabi, putra Ali dan Fatimah. Tapi kini keduanya terbaring sakit dan tidak berdaya. Sudah beberapa hari, walau dalam keadaan sakit perutnya sedikit terisi makanan. Bukan karena enggan untuk makan, tapi karena memang makanan yang tersedia sedikit. Kalaupun ada makanan, pastilah makanan tersebut berpindah tangan kepada orang yang lebih membutuhkan. Banyak sahabat-sahabat nabi yang menjenguknya dan mencoba memberi hiburan kepada kedua. “Bernazarlah hai Ali, agar Allah mengaruniakan kesembuhan kepada putra anda”, kata para sahabat nabi kepada Ali. “Baiklah, aku bernazar kepada Allah jika keduanya aku akan berpuasa selama tiga hari”, jawab Ali menerima saran tersebut.

Biasanya jika Ali bernazar, maka Ali selalu bernazar untuk bersedekah. Tapi kali ini tidak, mungkin karena beliau menyadari bahwa tidak ada makanan yang tersisa saat ini, selain air putih. Sebenarnya keluarga Ali tidak miskin. Bisa jadi jika mau, Ali adalah salah satu orang kaya di mekkah. Dalam setiap peperangan yang dijalaninya, keluarga Ali -termasuk salah satu keluarga diantara anak2 Abdul Muthalib- yang mendapat bagian 1/5 dari rampasan perang. Itu adalah jumlah yang sangat besar jika dibandingkan bagian sahabat-sahabat lainnya yang mendapat 4/5 bagian. Dengan bagian rampasan perang yang dimilikinya, Ali dapat membeli beberapa bidang tanah yang subur diluar madinah. Sekali panen, Ali dapat memperoleh kekayaan ribuan dinar. Tapi karena sifat belas kasih dan kedermawanan beliau sajalah, hasil panen tersebut ludes dibagikan kepada kaum papa. Ali lebih suka jika keluarganya memakan makanan dari hasil keringatnya sendiri.

Kita menyebut gaya hidup Ali yang demikian sebagai Zuhud. Dunia bukan saja tidak ada dihatinya, bahkan ditangannya pun enggan. Setiap hari beliau tidak makan makanan lebih dari dua jenis. Itupun makanan dengan kualitas kasar. Beliau lebih suka memakan sejenis roti keras yang panjang, yang jika memakannya harus dipatahkan dengan lutut kakinya. Kadang-kadang dicampur cuka agar makanan sedikit terasa. Jika pergi membeli baju, maka baju yang paling kasar yang dibeli. Ali tidak pernah menawar dalam membeli baju dan jika Ali membawa 2 dirham uang, maka dia hanya mencari baju yang seharga dua dirham. Tidak peduli seberapa buruknya kualitas baju tersebut.

Baju perang Ali, sudah tidak terhitung dibawa ke tukang tambal untuk ditambal, sehingga beliau pernah berkata,”Baju perangku ini sudah berkali-kali ditambal, sehingga kadang2 aku merasa malu kepada tukang tambal”. Tidak lazim menambal baju perang, apalagi sekelas petarung seperti Ali yang sering pergi berperang. Baju perang, adalah temeng yang membantu petarung untuk melindungi dirinya dari sabetan pedang. Baju perang yang ringan tapi kuat adalah syarat utama yang dicari-cari para petarung. Dengan sering menambal baju perang, itu artinya menambah bobot berat baju perang dan mengurangi kekuatan baju perang.

Tapi walaupun Ali memakan makanan yang amat sederhana dan menggunakan baju perang yang berat dan rapuh, beliau terkenal sebagai pribadi yang berani dan yang memiliki fisik yang kuat. Keberanian dan kekuatannya bahkan sudah menjadi legenda dikalangan arab saat itu. Saya yakin, itu adalah salah satu karomah yang dimiliki Ali. Ali tidak pernah mundur dalam pertarungan, kecuali saat beliau meluruskan pedangnya yang bengkok akibat tebasan2 yang kuat yang dilakukannya. Kuda yang beliau gunakan pun sudah tua dan berlari lambat, sehingga beberapa sahabatnya memberi nasehat, “Ali, mengapa anda tidak dapat membeli saja kuda yang muda dan cepat, yg dapat membantu anda dalam pertempuran”. Ali menjawab,”Aku tidak butuh kuda yang cepat dan kuat, yg dapat aku gunakan untuk mengejar lawan yang lari ketakutan atau aku gunakan untuk lari dari medan pertempuran”. Jawaban Ali tersebut, terbilang sangat cerdas yang menunjukkan karakter asli beliau. Karena bagi orang sejantan dan seberani Ali, tidak ada gunanya mengejar lawan yang sudah menyerah atau melarikan diri dari medan pertempuran.

*****

Begitulah gaya hidup sehari-hari Ali, pendekar paling masyhur pada jamannya dan setelahnya. Setelah kedua anaknya sembuh dari sakitnya, beliau pun menunaikan nazarnya. Berpuasa selama 3 hari berturut-turut. Malangnya, lebih lepat lazimnya, tidak ada makanan yang dapat mereka gunakan untuk sahur atau berbuka. Ali berniat mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan keluaga hari itu. “Istriku Fatimah, aku akan mencoba mencari pekerjaan kepada penduduk sekitar madinah.” kata Ali menghibur istri tercinta, Fatimah. “Siapa tahu ada diantara penduduk tersebut yang mau memperkerjakan aku dengan bayaran gandum”.

Ali berjalan menyusuri jalan-jalan madinah sambil berharap mendapatkan rizki Allah. Hari-hari madinah kala itu begitu panas, lebih panas dari biasanya. Sejauh mata memandang, hanyalah tanah kering yang terlihat. Udara terasa kering menyengat, debu-debu bertebaran dan angin berhembus kencang membuat suasana bertambah panas. Pintu-pintu rumah saat itu kebanyakan dalam keadaan tertutup dan para penghuni rumah lebih suka tinggal didalam dirumah. Bagi mereka yang kaya, mereka lebih memilih tinggal di perkebunan di pinggiran madinah. Disana, cuaca terasa lebih sejuk. Mungkin karena pengaruh banyaknya pepohonan.

Sayyidina Ali menuju salah satu rumah yang ada diperkebunan tersebut. Perkebunannya cukup luas, dengan pohon kurma yang sebagian besar buahnya terlihat matang. Banyak buahnya yang berserakan terjatuh disekitar pohon. Di sebidang tanah yang bersisian dengan pohon kurma, terdapat pohon2 anggur  yang menjuntai ke tanah, membuat sejuk suasana. Semilir angin yang berhembus, menambah sejuk suasana. Kontras dengan cuaca diluar kebun atau dijalan yang panas menyengat. Sayyidina Ali menuju ke salah satu rumah. Terlihat dari kejahuan, sang pemilik rumah sedang duduk santai di beranda rumahnya yang sejuk bersama istri2nya. Pemilik rumah tersebut ternyata seorang yahudi. Setelah berbasa-basi sejenak, Sayyidina Ali menawarkan tenaganya untuk diganti dengan segenggam gandum. Sebagai imbalannya, Sayyidina Ali bersedia untuk mengumpulkan buah-buah kurma yang banyak berjatuhan.

Demikianlah Sayyidina Ali – sang pemilik keutamaan, penerus dan penolong Rasulullah, yang dengan pedangnya Islam dapat berdiri tegak- dalam kondisi berpuasa, dengan hati yang khusuk bekerja keras memeras keringat di hari yang panas menyengat untuk memenuhi nafkah keluarganya demi segenggam gandum. Tangannya yang mulia, yang telah menebas kepala-kepala perwira dan pahlawan Arab Quraisy dan telah melindungi banyak nyawa kaum muslimin, tidak segan-segan mengotori tangannya demi menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Pantang baginya meminta bantuan kepada pengikut Rasulullah, yang seandainya beliau meminta bantuan, maka dengan senang hati para pengikut Rasulullah akan membantu. Tangan yang kokoh dan kuat itu kini telah melepuh pecah-pecah. Jika tidak sedang bekerja dan beliau masih ada simpanan rizki, maka kebiasaannya adalah menggali sumur-sumur dan membuat oase yang kemudian diwakafkan kepada umat islam. Tiada hari, detik atau menit yang terbuang baginya selain melayani dan berkhidmat kepada kaum muslimin. Bahkan jika itu harus dibayar dengan mengabaikan hak dirinya ataupun keluarganya.

Setelah seharian Ali bekerja keras mengumpulkan kurma-kurma yang jatuh dari pohon, Ali bergegas pulang dengan upah segenggam gandum. Dengan upah yang sedikit tersebut, Ali dan keluarganya harus berbuka puasa. Hari ini adalah hari pertama bagi keluarga Ali untuk menunaikan nazarnya. Sahur harus mereka jalani dengan hanya meminum air putih karena tiadanya makanan dirumah mereka. Fatimah istrinya, Hasan dan Husain yang masih kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya, turut serta pula berpuasa menunaikan nazar. Untuk berbuka puasa, Ali hanya membawa segenggam gandung yang harus dimakan berempat. Tapi mereka tetap puas dengan rezeki yang sedikit tersebut. Alih-alih keluar kata sesal dan keluhan dari bibir-bibir mereka, justru pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT yang mereka ucapkan.

Setelah bersiap-siap hendak berpuka puasa, tiba-tiba terdengan suara ketukan dari depan pintu rumah mereka,”Assalamualaikum ya ahlul bait nabi”.

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Setelah pintu dibuka, ternyata didepan pintu telah berdiri orang tua dengan baju yang lusuh. Kondisinya terlihat mengenaskan. “Ya ahlul bait Nabi, tolonglah aku. Aku adalah orang yang sangat miskin dan sudah 3 hari ini perutku tidak terisi makanan”, kata orang tua tersebut. “Dengan datang kerumah anda, aku berharap ada sedikit makanan yang dapat mengganjal perutku”.

Bukanlah sifat keluarga Ali dapat tidur dengan kenyang dengan membiarkan orang lain kelaparan. “Fathimah istriku, ini ada seorang muslimin meminta makanan kepada kita. Sudah 3 hari dia tidak mengisi perutnya dengan makanan dan aku berniat memberikan bagianku kepada dia”, kata Ali kepada istrinya.
“Jika memang demikian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Ayah”, kata Hasan dan Husain yang masih kecil,”Aku pun turut serta memberikan bagianku kepadanya”.

Betapa gembiranya orang miskin tersebut mendapatkan pemberian makanan dari ahlul bait Nabi. Baginya jatah makanan tersebut sudah sangat banyak dan dapat mengenyangkan perutnya yang sudah lama rasanya tidak terisi makanan. Sementara itu, keluarga Nabi yang mulia harus berbuka puasa hanya dengan seteguk air putih. Jadilah malam ini mereka tidur dengan perut yang kosong dan hanya terisi dengan air putih. Mereka mengenyangkan seorang muslimin, sementara mereka sendiri kelaparan.

Besoknya, masih dengan perut yang kosong, Ali bekerja kembali kepara orang Yahudi pemilik perkebunan di pinggiran kota madinah. Dalam keadaan berpuasa menunaikan nazar, Ali harus bekerja keras mengumpulkan satu demi satu buah kurma dengan imbalan segenggam gandum. Cuaca yang masih sangat panas menambah rasa lapar yang dirasakan Ali. Tapi itu tidak menyurutkan niat Ali untuk bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah seharian mengumpulkan kurma, Ali pulang membawa segenggam gandum untuk diolah Fathimah istrinya menjadi makanan.

Ketika mereka bersiap-siap hendak berbuka puasa, terdengar lagi suara ketukan di depan pintu mereka,”Assalamualaikum ya ahlul bait nabi”.
“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Ketika pintu dibuka, mereka mendapati anak kecil berdiri dalam keadaan gemetar kelaparan. “Wahai ahlul bait nabi, tolonglah aku. Aku adalah anak yatim. Bapakku telah gugur bersama pasukan Rasulullah. Sudah beberapa hari ini aku tidak memakan makanan. Sudilah kiranya jika anda memberikan makanan kepadaku”, kata anak yatim tersebut memelas.

Mata Ali menetes sedih melihat anak yatim yang kelaparan tersebut. Mata bapak siapa yang tidak akan meneteskan air mata melihat anak kecil kelaparan sedangkan dia memiliki putra yang dicintainya dirumah? Apalagi mata tersebut adalah mata seorang yg sangat dermawan seperti Ali, yang kedermawanannya selembut angin dan sesejuk air.
“Fathimah Istriku, ini ada anak yatim kaum muslimin meminta makanan kepada kita. Sudah 3 hari dia tidak mengisi perutnya, sedangkan kita baru dua hari tidak memakan makanan. Aku berniat memberikan bagianku kepadanya”, kata Ali kepada istrinya Fathimah
“Jika memang demikian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Kamipun turut serta memberikan bagian kami kepadanya, Ayah”, kata Hasan dan Husain.

Anak yatim tersebut tersenyum girang, kini dia dapat melewatkan malamnya dengan perut yang kenyang. Sebagian sisanya akan diberikan kepada ibunmya dan adiknya yang juga kelaparan. Sementara itu, lagi-lagi keluarga Nabi yang mulia harus berbuka puasa dengan segelas air putih. Hasan dan Husain yang baru saja sembuh dari sakitnya, malam ini untuk kedua kalinya harus tidur dalam keadaan lapar. Sudah dua hari perutnya tidak terisi makanan kecuali hanyalah seteguk air putih. Wajah keduanya yang biasanya terlihat cerah, kini sudah mulai terlihat pucat karena menahan lapar. Mereka rela dan senang hati memberikan bagiannya untuk mengenyangkan perut seorang yatim, sementara mereka harus tidur dalam keadaan lapar.

Besoknya, dengan perut yang masih kosong, yang tidak terisi makanan selama dua hari, Ali kembali bekerja kepada orang Yahudi pemilik perkebunan di pinggiran kota madinah. Hari ini adalah hari terakhir Ali menunaikan nazarnya. Dengan semangat yang tetap menyala, Ali -pewaris, penolong dan saudara Rasulullah- bekerja keras mengumpulkan buah-buah kurma dengan imbalan segenggam gandum. Cuaca yang masih sangat panas dan perut yang lapar meminta diisi makanan, tidak menyurutkan sedikitpun semangat Ali. Tidak keluar sedikit pun keluhan atau sesal dari bibir sucinya. Hati, jiwa dan pikirannya sudah sedemikian penuh diisi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga tidak tersisa sedikitpun pikiran selainnya. Bagi manusia seperti Ali, rasa lapar yang dirasakan hanyalah setitik debu dijalan perkhidmatan.

Setelah seharian mengumpulkan buah-buah kurma, Ali pulang membawa segenggam gandum sebagai upah untuk diolah Fathimah menjadi makanan. Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sudah 3 hari ini berpuasa dan perutnya kosong dari makanan. Hanya air putih yang dapat digunakan untuk bersantap sahur dan berpuka puasa. Wajah Fathimah sudah terlihat pucat. Hasan dan Husain putranya yang masih kecil, sudah terlihat menggigil kelaparan. Wajah keduanya pucat kekuningan. Mereka semua sudah siap berbuka puasa dan mengisi perut mereka yang telah kosong selama 3 hari ini. Tapi sebelum saat berbuka tiba, terdengar lagi suara ketukan dipintu rumah mereka,”Assalamualaikum wahai ahlul bait nabi”

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Pada saat pintu dibuka, telah berdiri didepan pintu rumah mereka seonggok tubuh berdiri dalam keadaan gemetar kelaparan. Keadannya sangat mengenaskan dengan baju compan-camping.  Rambutnya kumal dan awut-awutan. “Wahai ahlul bait nabi, tolonglah aku. Aku adalah bekas tawanan musuh Rasulullah. Sudah beberapa hari ini aku mendapat siksaan. Tidak ada makanan apapun yang mengisi perutku kecuali air yang keruh. Setelah aku melarikan diri, aku datang ketempat anda dengan harapan ada sedikit makanan dan minuman untuk mengisi perutku”, kata orang tersebut.

Sudah 3 hari keluarga Ali tidak mengisi perutnya dengan makanan kecuali hanyalah air putih. Namun, bukan keluarga Ali namanya jika tidak mendahulukan kaum muslimin daripada kepentingan sendiri. Ali adalah seorang petarung dan pejuang, yang sejak dini telah menghadapi banyak para pendekar Arab Quraisy. Sebagian besar diantara mereka mati ditangan Ali, dan sisanya melarikan dini. Arab Quraisy, untuk menutupi rasa malu dari kekalahan yang berkali-kali dialami ketika melawan pasukan kaum muslimin, seringkali berlaku bengis dalam menghadapi tawanan dari pihak kaum muslimin. Sekarang, ketika ada seorang bekas tawanan Qurasy, yang berhari-hari tidak makan dan telah mengalami beban penyiksaan, bagaimana mungkin Ali dan keluarganya tidak tersentuh.

“Fathimah, istriku. Ini ada seorang bekas tawanan musuh Rasulullah meminta makanan kepada kita. Mereka lebih sengsara daripada kita dan aku berniat memberikan bagianku kepadanya”, kata Ali kepada Istrinya.
“Jika memang demkian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Kamipun turut serta memberikan bagian kami kepadanya Ayah”, kata Hasan dan Husain serempak melupakan sejenak rasa lapar yang melilit perutnya.

Jadilah malam itu semuanya merebahkan diri nya dalam keadaan lapar. Ali adalah pemenang perang yang terbiasa manahan lapar. Fatimah, sang putri Rasul tercinta, juga demikian. Sejak beliau masih hidup bersama Rasulullah dan sekarang menikah menjadi istri Ali, lapar adalah selimut yang seringkali menyertai dalam tidur-tidurnya. Tapi Hasan dan Husain, putranya masihlah terlalu kecil untuk bisa menahan lapar. Wajah keduanya pucat kekuningan, dikarenakan sudah 3 tiga hari perutnya tidak terganjal makanan. Keduanya kini meringkuk gemetar dan dahi mereka sudah mulai berkeringat menahan rasa sakit akibat lapar.

Lihatlah kini keadaan para penghuni surga tersebut!
Keempat manusia suci tersebut kini terkapar menahan lapar!
Padahal mereka adalah keluarga sang Nabi suci.
Padahal mereka tinggal ditempat persinggahan malaikat.
Disini, di rumah ahlul bait Nabi, Rasulullah sering menerima wahyu suci.
Disini, di rumah ahlul bait Nabi, Jibril yang diberkati,
bolak-balik turun ke bumi, menyampaikan kalam ilahi.

Telah meringkuk Ali dalam keadaan lapar, sang pendekar pemenggal kepala para durjana Arab Quraisy.
Telah meringkuk Fatimah kesakitan, putri tercinta sang Nabi,
yang telah menemani hari-hari kelam sang Nabi saat mendapat cacian tiada henti.
Telah menggelapar Hasan dan Husain yang terbekati, cucu tercinta sang Nabi.
Mereka lebih memilih mengenyangkan orang miskin,
sedangkan mereka sendiri tidur dalam keadaan lapar.
Mereka lebih memilih memberikan daging dan susu kepada kaum papa,
sementara mereka puas memakan gandum, cuka dan air putih.

Bukankah mereka semua adalah kekasih Muhammad Rasulullah, sang Nabi suci?
Allah SWT pernah menyapa mesra Muhammad dalam Hadits Qudsi,”Kalau bukan karena engkau ya Muhammad,
maka tidak aku ciptakan langit dan bumi!”
Bukankah Muhammad Rasulullah adalah sayidul anbyia wal murslin?
Tidak pantaskan sedikit kesenangan menyertai keluarga Nabi?

“Cukuplah keutamaanmu, hai Ahlul Bait Nabi, bahwa sholawat diwajibkan atasmu,
Tidak sempurna sholat, jika tidak mengucapkan sholawat kepadamu.
Jika mencintaimu adalah Syiah-Rafidhi
Maka saksikanlah wahai jin dan manusia, aku adalah Syiah Rafidi”, teriak Imam Syafii.

“Beruntunglah anjing yang mencintai ashabul kahfi,
mana mungkin aku celaka mencintai keluarga Nabi”, jerit Imam Zamakhsyari.

Keempat keluarga Nabi tersebut kini terbaring lemah dirumah mereka yang sederhana. Tidak henti2nya mereka bersyukur atas nikmat Allah yang telah mereka terima, sambil menunggu hari esok untuk mencari rizki Allah. Sampai sebuah salam dan ketukan datang di depan rumah mereka. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai ahlul bait nabi”, kata seseorang diluar pintu begitu lembut dan menyentuh.

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat. Ali, Fathimah dan kedua putranya saling memandang satu sama lain. Mereka sangat hafal suara tersebut, suara yang selalu mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Sudah tiga hari ini suara merdu dan lembut itu tidak terdengar. Suara yang mampu membangkitkan rasa cinta dan rindu sekaligus bagi mereka yang hatinya terbuka. Itulah suara Rasul SAAW yang agung. Manusia terbesar yang pernah dilahirkan zaman. Manusia terbesar yang meliputi zaman. Tidak pernah ada manusia besar lainnya, sebelum dan sesudahnya yang mampu menandinginya. Ali bergegas bangkit dari tidurnya dan membuka pintu untuk menyambutnya.

Ketika Rasulullah masuk kedalam rumah Ali dan Fathimah, betapa terkejutnya beliau. Beliau mendapati Fathimah terbaring dalam keadaan lemah. Hasan dan Husain menggigil gemetar dalam selimut. Mukanya pucat pasi kelaparan. Keduanya mencoba tersenyum kepada Rasulullah. Tapi apa daya, keduanya terlalu lemah untuk bermanja-manja kepada Rasulullah seperti biasanya. “Oh haruskah keluarga Rasul, mati dalam keadaan kelaparan …”, rintih Rasulullah sedih. Kesedihan yang menyayat hati menyaksikan cucu tersayang terbaring tak berdaya. Kesedihan seperti apakah yang membuncah dihati Rasul yang mulia. Hasan dan Husain adalah cucu laki-laki tersayang Rasulullah SAAW. Rasulullah pernah memiliki beberapa orang putra, tapi semuanya meninggal. Qosim, Abdullah, dan yang terakhir Ibrahim, putra beliau SAAW meninggal ketika masih bayi. Praktis Rasulullah hanya memiliki putri. Itupun hasil pernikahannya dengan Khodijah as. Pernikahan Rasulullah dengan wanita-wanita selepas Khadijah, tidak memberikannya putra-putri sama sekali. Sangat wajar Rasulullah menumpahkan kasih sayangnya kepada cucu laki-lakinya, Hasan dan Husain. Cucu yang kelak akan meneruskan garis keturunan Rasulullaj. Dan kini, ketika mendapati cucu kesayangannya terbaring lemah kelaparan, kesedihan yang tak terkira dirasakan oleh Rasulullah.

Tapi Allah SWT tidak akan meninggalkan hambanya yang shalih. Terlebih lagi, hamba tersebut adalah Muhammad Rasulullah utusannya dan kekasihnya, sayyidul anbiya wal mursalin. Ditengah rasa galau dan kesedihan yang mendera Rasulullah, tiba-tiba perasaan tenang dan damai menjalar dirasakan Rasulullah. Perasaan damai seperti ini lazimnya Rasul rasakan setiap beliau mendapatkan kalam ilahi diturunkan Allah melalui Jibril.

“Wahai Rasulullah, salam bagimu dan kesejahteraan selalu dari Allah SWT”, sapa Jibril mesra kepada Rasulullah.”Bukan maksud Kami untuk menyakiti para kekasih Kami diantara taman-taman surga. Apa yang dirasakan sakit sesungguhnya itu adalah obat penawar hati dan pengaya jiwa. Tidak mungkin seorang Kekasih akan menyakit kekasihnya. Dan Allah secara khusus berkenan memberikan makanan dari surga untuk keluarga Anda sebagai pujian dari Kami kepada keluarga anda atas pengkhidmatan yang dilakukan mereka secara tulus”

Dan Jibril pun membacakan kalam Ilahi sebagi pujian kepada Ahlul Bait Nabi :

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. ” (QS Al Insan 7-11)

Dan malam itu, keluarga Rasulullah bergembira ria memakan makanan dari surga sebagai buah dari perkhidmatan mereka yang tulus kepada manusia dan menerima pujian langsung dari Allah SWT. Banyak sekali keluarga para sahabat nabi yang bersikap dermawan, menjamu tamu atau menghormati tetangga. Tapi hanya keluarga Nabi-lah yang mendapat pujian dari Allah. Kualitas yang membedakannya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s