Biarlah Cinta ini Untuk Ali

Biarlah Cinta ini untuk Ali
by Subbhan A, blogger

“Mengapakah bebek-bebek itu tidak harus terduka? Me­ngapakah orang-orang itu berusaha mencegah mereka menangis? Dan mengapa Amirul Mukminin tidak akan melihat mereka dengan rasa cinta dan perhatian? Dia telah melihat ribuan pagi, tetapi pagi ini mengandung rahasia. Pada hari itu ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ja rasakan sebelumnya. Tidakkah orang besar ini berhak mendengar syair ratapan yang dinyanyikan dari bebek­-bebek dan erangan angin? Apakah dia tidak berhak mengucapkan selamat tinggal kepada matahari dan bayangan yang mungkin tidak akan dilihatnya lagi? Apakah Ia tidak berhak memandang dengan tatapan terakhir ke tempat-tempat di mana ia menjalani kehidupan miskin demi kesejahteraan orang lain? Tempat-tempat ini telah menyaksikan keberanian dan keperkasaannya, manifestasi kepribadiannya yang mempesona, dan banyak kesengsaraan serta penderitaan yang harus ditanggungnya. Mereka juga telah melihat malam-malam yang panjang yang dilewatinya dengan menangis dalam keadaan pasrah kepada Allah.”

Kalimat yang anda baca diatas, adalah prosa yang amat mengharukan yang ditulis George Jordac -seorang sarjana beragama Kristen – saat menggambarkan detik-detik wafatnya Amirul Mukminin Ali. Sebuah tulisan yang didekasikan oleh seorang Kristen karena rasa kagum terhadap Sayyidina Ali kw. Tulisan yang mengharukan sekaligus mencerahkan, tragis tapi penuh kebijakan.

Dan inilah Ali…

“Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (surah Ali Imran (3): 61)

Ayat diatas diturunkan berkaitan dengan peristiwa mubahalah yang terjadi antara Rasulullah dengan pendeta nasrani Najran. Peristiwanya bermula, ketika terjadi perdebatan antara Rasulullah dengan para pendeta Najran. Dengan argumen meyakinkan Rasulullah berhasil menjatuhkan setiap argumen mereka. Hanya kesombongan dan sifat keras kepalah-lah yang membuat mereka tidak mau mengakui kebenaran yang dibawa Muhammad. Rasulullah menantang para pendeta najran tersebut untuk melakukan mubahala dan Allah menurunkan ayat diatas untuk mengabadikan kisah tersebut.

Semua ahli tafsir dari seluruh mazhab sepakat, dalam peristiwa mubahalah tersebut, Rasulullah SAAW mengajak Sayyidina Ali, Fatimah, Hasan dan Husain -salam atas mereka semua. Bagi umat muslim yang tidak kritis, ayat tersebut hanya dibaca sebagai kebenaran risalah yang dibawa Muhammad SAW. Tetapi apakah memang demikian?

Dalam ayat tersebut, Rasulullah memangil Fatimah sebagai “wanita-wanita kami”, Hasan dan Husain sebagai “anak-anak kami”, dan Sayyidina Ali sebagai “diri kami”. Betapa besar kemuliaan yang Ali dapatkan. Beliau tidak dipanggil oleh Rasulullah sebagai “laki-laki” kami, tetapi beliau disanjung dan dipanggil sebagai “diri kami” oleh Rasulullah. Adakah laki-laki lainnya selain Ali, yang dipanggil dengan mesra dengan “diri kami” oleh Rasulullah SAAW?  Karena itu tidak heran, jika dalam banyak kesempatan, Rasulullah sering berkata : “Aku adalah bagian dari Ali dan Ali bagian dariku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku dan siapa yang mencintainya maka ia mencintaiku. Ya Allah, cintailah mereka yang mencintai Ali dan laknatlah mereka yang membenci Ali”

Membaca sejarah Ali, sama saja membaca kebenaran itu sendiri. Beliau adalah pengejawantahan sifat dan karakter asli Rasulullah. Sejak usia yang masih dini, beliau hidup dalam asuhan Rasul. Jika ingin mengetahui manusia yang dikader sejak mula-mula oleh Rasulullah, maka Ali-lah orangnya. Ketika Rasul sering berkhalwat ke Gua Hira, Ali kecil selalu setia menemani. Ali-lah yang selalu setia mendampingi dan gagah berani membela Rasul ketika Rasul mendapat gangguan dari Rasulullah.

Adakah yang lebih berani dan setia mendampingi Rasulullah selain Ali? Dialah Ali, yang tidak sekalipun resah, gelisah ataupun takut ketika harus menggantikan Rasulullah dalam malam-malam hijrah. “Apakah dengan menggantikan anda tidur di tempat anda, maka anda akan selamat”, tanya Ali kepada Rasulullah. “Ya”, jawab Rasulullah. “Jika demikian, maka aku rela menggantikan anda di tempat tidur”, jawab Ali. Sepanjang hidup Ali, tidak sekalipun beliau mengeluh ketakutan, cemas atau khawatir jika dengannya beliau dapat menyelamatkan nyawa Nabi.

Dialah Ali -pemuda berusia 19 tahun- sendirian menghabiskan separo dari orang Quraisy yang mati dalam medan perang Badar. Dialah Ali, yang tetap tabah mendampingi Rasulullah pada saat2 genting di perang Uhud. Ketika itu hampir seluruh sahabat nabi yang utama berlarian menyelamatkan diri akibat bokongan panglima perang pihak Quraisy, Khalid bin Walid. Hanya tersisa 6 atau 7 dari pihak Nabi masih setia disamping Nabi. Sebagian besar diantara mereka adalah bani Hasyim ditambah  Ali dan Talhah. Dalam perang Uhud, Ali as memutar2 pedang Zulfikar dan menebas kepala siapa saja kaum Quraisy yang mengancam nyawa Nabi. Atas peran menakjubkan Ali adalam perang Uhud, malaikat Jibril sampai memuji beliau,”Tiada pemuda kecuali Ali, dan tiada pedang selain Zulfikar”

Jika itu masih kurang, Ali menunjukkan kepahlawanan dan keberanian yang tiada satupun sahabat utama memilikinya. Dalam perang Khondaq yang menentukan, Amr bin Wudd seorang jagoan bangsa Arab, berteriak-teriak menantang kaum muslimin,”Ayo! Kalian berkata bahwa jika aku mati, maka aku masuk neraka. Dan jika kalian mati maka kalian masuk surga. Jika kalian memang ingin cepat-cepat masuk surga, maka mengapa tidak lekas hadapi aku?”. Amr bin Wudd berteriak berulang2, menghina kehormatan kaum muslimin. Tapi tiada satupun diantara sahabat nabi yang berani menjawab. Dimana para sahabat utama nabi, ketika Amr bin Wudd menantang kaum muslimin? Dimana keberanian sahabat nabi yang utama, yang konon setan pun takut menghadapinya karena keberaniannya? Dimanakah sahabat nabi yang utama, yang konon disebut sebagai orang yang paling dicintai Nabi? Tidak adakah diantara mereka yang mau menyelamatkan wibawa Nabi? Tidak adakah diantara mereka yang mau mengorbankan nyawanya untuk Nabi dan membuktikan cintanya kepada Nabi? Dimanakah cinta mereka kepada Nabi pada saat menyaksikan kehormatan kaum muslimin dan wibawa Nabi diinjak-injak oleh Ibnu Wudd?

Sejarah menceritakan dengan jelas dan terang benderang kepada kita, bahwa dalam perang Khandaq, tidak ada satupun diantara para sahabat nabi yang berani menantang Amr bin Wudd kecuali Ali. “Ijinkan saya ya Rasulullah, untuk menghadapi ibnu Wudd”, pinta Ali kepada Rasulullah. “Sabarlah sebentar”, kata Rasul,”Dia itu Ibnu Wudd”. Rasulullah masih menunggu sahabat lainnya, yang lebih tua dan lebih berpengalaman untuk menghadapi Ibnu Wudd. Tapi penantian itu sia-sia. Berulang-ulang Ibnu Wudd meneriakkan tantangan kepada kaum muslimin dan menghina Rasulullah, berkali-kali pula sahabat Nabi terdiam kecuali Ali. Tidak ada pilihan yang dimiliki, Rasulullah pun mengijinkan Ali menghadapi Ibnu Wudd. Dan Ali, dalam beberapa gebrakan, berhasil menebas kepala Ibnu Wudd.

Cinta itu butuh bukti, dan tidak ada bukti yang paling tinggi didalam Cinta kecuali mengorbankan nyawanya demi kekasihnya. Itulah fana dalam literasi tasawuf. Ali telah tenggelam dalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga beliau tidak peduli apakah kematian yang datang kepadanya ataukah beliau yang mendatangi kematian.”Aku lebih merindukan mati syahid daripada rindunya seorang bayi yang menetek kepada ibunya?”, kata Ali suatu ketika. Berkali-kali sayyidina Ali mendemonstrasikan kecintaan-nya kepada Rasulullah dengan mengorbankan nyawanya.

Dan pernahkan anda melihat, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, akan dikecewakan cintanya? Ketika Ali melangkah tegar menghadapi Ibnu Wudd, Rasulullah jatuh tersungkur, menangis mendoakan keselamatan Ali,”Ya Allah, engkau telah mengambil Ja’far dariku, maka janganlah engkau mengambil Ali dari sisiku.” Itulah ungkapan cinta yang paling mesra yang diucapkan Rasulullah kepada Ali. Ja’far adalah kecintaan Rasulullah, beliau gugur dalam perang mu’tah. Rasulullah telah kehilangan orang2 tercinta seperti Abu Thalib, Fatimah istri Abu Thalib dan Ja;far. Dan kini, Rasulullah bermunajat kepada Allah, memohon agar mengembalikan Ali kepadanya, agar di hari2 kedepan, Rasulullah masih merasakan manisnya cinta Ali.

Ya, mengapakah Rasulullah tidak harus mencintai Ali, sedangkan Ali berkali-kali menunjukkan cintanya kepada beliau SAAW? Pada saat hari2 pertama hijrah, setiap sahabat muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat Anshor. Semuanya, kecuali Ali! Ali remaja menangis sedih mengadu kepara Nabi. “Ya Nabi, anda telah mengangkat saudara bagi orang Muhajirin dan Anshor. Tapi anda membiarkan saya sendirian”, keluh Ali kepada Rasul. Rasul tersenyum dan sambil memeluk Ali, beliau SAAW berkata,”Tidakkah anda senang ya Ali, bahwa anda adalah saudaraku di dunia dan akhirat?”. Itulah ungkapan persaudaran yang paling tulus dari Rasulullah kepada Ali dan tidak ada satupun yang menerimanya selain Ali.

Apakah aku harus menceritakan, ungkapan kecintaan Rasulullah kepada Ali, dalam perang Khaibar? Dua hari dua malam, para sahabat nabi yang utama gagal menaklukkan benteng khaibar. Ali ketika itu sakit mata, sehingga beliau tidak dapat membantu menaklukkan khaibar.  Pada malam ketiga, Rasulullah mengumpulkan seluruh sahabatnya. “Besok, aku akan serahkan bendera perang, kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasulnya. Allah dan Rasulnya pun mencintai. Dia tidak pernah mundur atau lari dari medan pertempuran.” Seluruh sahabat Nabi berharap diserahi bendera perang. Besoknya, bendera perang diserahkan kepada Ali.

Mengapa pula para sahabat tidak menginginkan bendera perang Khaibar? Perkataan Rasulullah tsb adalah ungkapan cinta secara terang2an, sehingga seorang sahabat sekelas Saad bin Abi Waqqash sangat menginginkan bendera perang Khaibar.

Ada kah manusia yang paling tinggi cintanya kepada Rasulullah dan membuktikannya selain Ali?

*****

Jumat 21 Ramadhan 40 H, Sayyidina Ali yang masyhur itu menghembuskan nafas terakhir akibat tebasan pedang sang terlaknat, Abdurahman Ibnu Muljam. Semoga Allah melaknat Ibnu Muljam dan membalas perbuatan buruknya kepada Sayyidina Ali dan kaum muslimin dengan balasan yang seburuk2nya. Menempatkannya didasar neraka yang paling buruk dan menjauhkannya dari ampunan. Tidak tahan rasanya menceritakaan saat2 kematian Sayyidina Ali. Tidak sekalipun beliau mengeluh akibat tebasan pedang Ibnu Muljam. Wajah beliau yang sehari2nya cerah, kini semakin cerah justru disaat-saat akhir kematiannya. Wajahnya tetap tersenyum, walaupun beliau harus menanggung sakit akibat tebasa pedang Ibnu Muljam. Adakah yang lebih menyedihkan menyaksikan kematian manusia mulia, yang menghadapi-nya dengan senyuman?

Ketika beliau dalam keadaan sakit akibat tebasan pedang Ibnu Muljam, matanya memandang wajah Ibnu Muljam yang kesakitan karena ketatnya ikatan ditubuhnya.

“Lepaskan talinya”, kata Ali, “Jangan kau balas dia melebihi dari yang dia lakukan padaku. Tapi jika engkau memaafkan, maka itu adalah keutamaan kalian”.

Ali yang menderita, masih mengingat rasa sakit yang dirasakan oleh musuhnya.

Saya dedikasikan artikel yang ini sebagai hadiah kepada Ahlul Bait Nabi SAAW, sebagai tanda duka cita dan sebagai tanda cinta kepada Ahlul Bait Rasullah SAAW. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait Nabi diperintahkan oleh Rasulullah. Saya akan kemukakan adits tentang kewajiban kita untuk mencintai Ahlul Bait  Rasulullah SAAW. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Turmudzi juz ke-2 hal 308. Dalam hadits yang diriwayatkan dengan sanad dari Ibnu Abbas ini, dikisahkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Cintailah Allah atas nikmatnya kepada kamu semua. Cintailah aku karena kecintaanmu kepada Allah. Dan cintailah ahli baitku karena kecintaanmu kepadaku.” Hadits ini menunjukkan bahwa kita disuruh mencintai Allah karena nikmat yang telah Dia berikan. Jika kita mencintai Allah, maka kita pun harus mencintai Rasulullah SAAW dan jika kita mencintai Rasulullah SAAW, maka kita pun harus mencintai keluarganya.

Kita diwajibkan untuk mencintai Rasulullah SAAW. Salah satu ungkapan cinta kita kepada Rasulullah SAAW adalah dengan mencintai ahlul baitnya. Sebuah hadits yang terdapat dalam Kitab Kanzul ‘Umâl juz ke-6 halaman 218 menceritakan ucapan Rasulullah SAAW kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Rasul bersabda, “Hai Ali, Islam itu telanjang. Pakaiannya adalah takwa. Perhiasannya adalah rasa malu. Yang membaguskannya adalah sifat wara’. Manifestasinya ialah amal saleh. Asasnya adalah kecintaan kepadaku  dan kepada keluargaku.” Jadi tonggak Islam itu adalah kecintaan kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Di atas dasar itulah Islam ditegakkan.

Ya, apalagi yang harus kita andalkan untuk meraih cinta Ilahi selain kecintaan kepada Rasulullah SAAW dan  Ahlul baitnya ? Saya  sholat tetapi sholat kami penuh riya. Secara fisik saya puasa, tetapi mata-hati-tangan-kaki-mulut tidak pernah berpuasa. Saya zikir, tapi zikir kami tidak ihlas. Berharap kepada ibadah semata-mata untuk meraih cinta Ilahi, pastilah tidak cukup. Bahkan untuk membayar tanda terima kasih atas kenikmatan sebelah mata saja tidak cukup.  Semoga kita semua dimasukkan dalam golongan mereka yang mencintai  Rasulullah SAAW dan Ahlul bait-nya.

“Dan kamu beserta orang yang kamu cintai”, sabda Rasulullah.

Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah dan Ahlul baitnya,
Allahumma Sholli ala Muhammad wa Ali Muhammad.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s