Mereka yang Telah Menunaikan Nazar

Mereka yang Telah Menunaikan Nazar …
by Subbhan A, blogger

Kedua anak lelaki itu terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya yang sehari-harinya cerah dan menyenangkan, kini terlihat pucat. Biasanya, ketika tidak dalam keadaan sakit, keduanya selalu riang gembira. Dengan kulitanya yang cerah kemerahan, wajah yang bulat bercahaya, rambut ikal pirang dan perawakan yang menggemaskan, membuat siapapun yang memandangnya jatuh hati. Pancaran wibawa ilahi dan cahaya malaikat mengalir jelas di garis-garis wajahnya. Kata-katanya menarik hati, walaupun usianya masihlah sangat dini. Tidak heran, jika sejumlah orang menaruh hormat dan cinta kasih sekaligus kepadanya. Tidak peduli berapapun usia orang tersebut.

Keduanya tumbuh besar dalam rumah dalam kasih sayang dan cinta Nabi. Setiap hari, tidak henti2nya hilir mudik para malaikat membawa rahmat dan berkah kepadanya. Tidak heran, karena rumah yang ditinggalinya adalah persinggahan para malaikat. Keselamatan dan kesejahteraan selalu terlimpah kepada keduanya. Doa-doa para malaikat, tumbuhan, binatang dan seluruh makhluk di petala langit dan bumi, selalu dialamatkan keduanya. Lima kali dalam sehari.

Siapakah dia yang mempunyai ciri-ciri yang menakjubkan tersebut? Siapakah dia yang mempunyai keutamaan yang tidak semua orang memilikinya? Dialah Hasan dan Husain, cucu tercinta Nabi, putra Ali dan Fatimah. Tapi kini keduanya terbaring sakit dan tidak berdaya. Sudah beberapa hari, walau dalam keadaan sakit perutnya sedikit terisi makanan. Bukan karena enggan untuk makan, tapi karena memang makanan yang tersedia sedikit. Kalaupun ada makanan, pastilah makanan tersebut berpindah tangan kepada orang yang lebih membutuhkan. Banyak sahabat-sahabat nabi yang menjenguknya dan mencoba memberi hiburan kepada kedua. “Bernazarlah hai Ali, agar Allah mengaruniakan kesembuhan kepada putra anda”, kata para sahabat nabi kepada Ali. “Baiklah, aku bernazar kepada Allah jika keduanya aku akan berpuasa selama tiga hari”, jawab Ali menerima saran tersebut.

Biasanya jika Ali bernazar, maka Ali selalu bernazar untuk bersedekah. Tapi kali ini tidak, mungkin karena beliau menyadari bahwa tidak ada makanan yang tersisa saat ini, selain air putih. Sebenarnya keluarga Ali tidak miskin. Bisa jadi jika mau, Ali adalah salah satu orang kaya di mekkah. Dalam setiap peperangan yang dijalaninya, keluarga Ali -termasuk salah satu keluarga diantara anak2 Abdul Muthalib- yang mendapat bagian 1/5 dari rampasan perang. Itu adalah jumlah yang sangat besar jika dibandingkan bagian sahabat-sahabat lainnya yang mendapat 4/5 bagian. Dengan bagian rampasan perang yang dimilikinya, Ali dapat membeli beberapa bidang tanah yang subur diluar madinah. Sekali panen, Ali dapat memperoleh kekayaan ribuan dinar. Tapi karena sifat belas kasih dan kedermawanan beliau sajalah, hasil panen tersebut ludes dibagikan kepada kaum papa. Ali lebih suka jika keluarganya memakan makanan dari hasil keringatnya sendiri.

Kita menyebut gaya hidup Ali yang demikian sebagai Zuhud. Dunia bukan saja tidak ada dihatinya, bahkan ditangannya pun enggan. Setiap hari beliau tidak makan makanan lebih dari dua jenis. Itupun makanan dengan kualitas kasar. Beliau lebih suka memakan sejenis roti keras yang panjang, yang jika memakannya harus dipatahkan dengan lutut kakinya. Kadang-kadang dicampur cuka agar makanan sedikit terasa. Jika pergi membeli baju, maka baju yang paling kasar yang dibeli. Ali tidak pernah menawar dalam membeli baju dan jika Ali membawa 2 dirham uang, maka dia hanya mencari baju yang seharga dua dirham. Tidak peduli seberapa buruknya kualitas baju tersebut.

Baju perang Ali, sudah tidak terhitung dibawa ke tukang tambal untuk ditambal, sehingga beliau pernah berkata,”Baju perangku ini sudah berkali-kali ditambal, sehingga kadang2 aku merasa malu kepada tukang tambal”. Tidak lazim menambal baju perang, apalagi sekelas petarung seperti Ali yang sering pergi berperang. Baju perang, adalah temeng yang membantu petarung untuk melindungi dirinya dari sabetan pedang. Baju perang yang ringan tapi kuat adalah syarat utama yang dicari-cari para petarung. Dengan sering menambal baju perang, itu artinya menambah bobot berat baju perang dan mengurangi kekuatan baju perang.

Tapi walaupun Ali memakan makanan yang amat sederhana dan menggunakan baju perang yang berat dan rapuh, beliau terkenal sebagai pribadi yang berani dan yang memiliki fisik yang kuat. Keberanian dan kekuatannya bahkan sudah menjadi legenda dikalangan arab saat itu. Saya yakin, itu adalah salah satu karomah yang dimiliki Ali. Ali tidak pernah mundur dalam pertarungan, kecuali saat beliau meluruskan pedangnya yang bengkok akibat tebasan2 yang kuat yang dilakukannya. Kuda yang beliau gunakan pun sudah tua dan berlari lambat, sehingga beberapa sahabatnya memberi nasehat, “Ali, mengapa anda tidak dapat membeli saja kuda yang muda dan cepat, yg dapat membantu anda dalam pertempuran”. Ali menjawab,”Aku tidak butuh kuda yang cepat dan kuat, yg dapat aku gunakan untuk mengejar lawan yang lari ketakutan atau aku gunakan untuk lari dari medan pertempuran”. Jawaban Ali tersebut, terbilang sangat cerdas yang menunjukkan karakter asli beliau. Karena bagi orang sejantan dan seberani Ali, tidak ada gunanya mengejar lawan yang sudah menyerah atau melarikan diri dari medan pertempuran.

*****

Begitulah gaya hidup sehari-hari Ali, pendekar paling masyhur pada jamannya dan setelahnya. Setelah kedua anaknya sembuh dari sakitnya, beliau pun menunaikan nazarnya. Berpuasa selama 3 hari berturut-turut. Malangnya, lebih lepat lazimnya, tidak ada makanan yang dapat mereka gunakan untuk sahur atau berbuka. Ali berniat mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan keluaga hari itu. “Istriku Fatimah, aku akan mencoba mencari pekerjaan kepada penduduk sekitar madinah.” kata Ali menghibur istri tercinta, Fatimah. “Siapa tahu ada diantara penduduk tersebut yang mau memperkerjakan aku dengan bayaran gandum”.

Ali berjalan menyusuri jalan-jalan madinah sambil berharap mendapatkan rizki Allah. Hari-hari madinah kala itu begitu panas, lebih panas dari biasanya. Sejauh mata memandang, hanyalah tanah kering yang terlihat. Udara terasa kering menyengat, debu-debu bertebaran dan angin berhembus kencang membuat suasana bertambah panas. Pintu-pintu rumah saat itu kebanyakan dalam keadaan tertutup dan para penghuni rumah lebih suka tinggal didalam dirumah. Bagi mereka yang kaya, mereka lebih memilih tinggal di perkebunan di pinggiran madinah. Disana, cuaca terasa lebih sejuk. Mungkin karena pengaruh banyaknya pepohonan.

Sayyidina Ali menuju salah satu rumah yang ada diperkebunan tersebut. Perkebunannya cukup luas, dengan pohon kurma yang sebagian besar buahnya terlihat matang. Banyak buahnya yang berserakan terjatuh disekitar pohon. Di sebidang tanah yang bersisian dengan pohon kurma, terdapat pohon2 anggur  yang menjuntai ke tanah, membuat sejuk suasana. Semilir angin yang berhembus, menambah sejuk suasana. Kontras dengan cuaca diluar kebun atau dijalan yang panas menyengat. Sayyidina Ali menuju ke salah satu rumah. Terlihat dari kejahuan, sang pemilik rumah sedang duduk santai di beranda rumahnya yang sejuk bersama istri2nya. Pemilik rumah tersebut ternyata seorang yahudi. Setelah berbasa-basi sejenak, Sayyidina Ali menawarkan tenaganya untuk diganti dengan segenggam gandum. Sebagai imbalannya, Sayyidina Ali bersedia untuk mengumpulkan buah-buah kurma yang banyak berjatuhan.

Demikianlah Sayyidina Ali – sang pemilik keutamaan, penerus dan penolong Rasulullah, yang dengan pedangnya Islam dapat berdiri tegak- dalam kondisi berpuasa, dengan hati yang khusuk bekerja keras memeras keringat di hari yang panas menyengat untuk memenuhi nafkah keluarganya demi segenggam gandum. Tangannya yang mulia, yang telah menebas kepala-kepala perwira dan pahlawan Arab Quraisy dan telah melindungi banyak nyawa kaum muslimin, tidak segan-segan mengotori tangannya demi menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Pantang baginya meminta bantuan kepada pengikut Rasulullah, yang seandainya beliau meminta bantuan, maka dengan senang hati para pengikut Rasulullah akan membantu. Tangan yang kokoh dan kuat itu kini telah melepuh pecah-pecah. Jika tidak sedang bekerja dan beliau masih ada simpanan rizki, maka kebiasaannya adalah menggali sumur-sumur dan membuat oase yang kemudian diwakafkan kepada umat islam. Tiada hari, detik atau menit yang terbuang baginya selain melayani dan berkhidmat kepada kaum muslimin. Bahkan jika itu harus dibayar dengan mengabaikan hak dirinya ataupun keluarganya.

Setelah seharian Ali bekerja keras mengumpulkan kurma-kurma yang jatuh dari pohon, Ali bergegas pulang dengan upah segenggam gandum. Dengan upah yang sedikit tersebut, Ali dan keluarganya harus berbuka puasa. Hari ini adalah hari pertama bagi keluarga Ali untuk menunaikan nazarnya. Sahur harus mereka jalani dengan hanya meminum air putih karena tiadanya makanan dirumah mereka. Fatimah istrinya, Hasan dan Husain yang masih kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya, turut serta pula berpuasa menunaikan nazar. Untuk berbuka puasa, Ali hanya membawa segenggam gandung yang harus dimakan berempat. Tapi mereka tetap puas dengan rezeki yang sedikit tersebut. Alih-alih keluar kata sesal dan keluhan dari bibir-bibir mereka, justru pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT yang mereka ucapkan.

Setelah bersiap-siap hendak berpuka puasa, tiba-tiba terdengan suara ketukan dari depan pintu rumah mereka,”Assalamualaikum ya ahlul bait nabi”.

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Setelah pintu dibuka, ternyata didepan pintu telah berdiri orang tua dengan baju yang lusuh. Kondisinya terlihat mengenaskan. “Ya ahlul bait Nabi, tolonglah aku. Aku adalah orang yang sangat miskin dan sudah 3 hari ini perutku tidak terisi makanan”, kata orang tua tersebut. “Dengan datang kerumah anda, aku berharap ada sedikit makanan yang dapat mengganjal perutku”.

Bukanlah sifat keluarga Ali dapat tidur dengan kenyang dengan membiarkan orang lain kelaparan. “Fathimah istriku, ini ada seorang muslimin meminta makanan kepada kita. Sudah 3 hari dia tidak mengisi perutnya dengan makanan dan aku berniat memberikan bagianku kepada dia”, kata Ali kepada istrinya.
“Jika memang demikian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Ayah”, kata Hasan dan Husain yang masih kecil,”Aku pun turut serta memberikan bagianku kepadanya”.

Betapa gembiranya orang miskin tersebut mendapatkan pemberian makanan dari ahlul bait Nabi. Baginya jatah makanan tersebut sudah sangat banyak dan dapat mengenyangkan perutnya yang sudah lama rasanya tidak terisi makanan. Sementara itu, keluarga Nabi yang mulia harus berbuka puasa hanya dengan seteguk air putih. Jadilah malam ini mereka tidur dengan perut yang kosong dan hanya terisi dengan air putih. Mereka mengenyangkan seorang muslimin, sementara mereka sendiri kelaparan.

Besoknya, masih dengan perut yang kosong, Ali bekerja kembali kepara orang Yahudi pemilik perkebunan di pinggiran kota madinah. Dalam keadaan berpuasa menunaikan nazar, Ali harus bekerja keras mengumpulkan satu demi satu buah kurma dengan imbalan segenggam gandum. Cuaca yang masih sangat panas menambah rasa lapar yang dirasakan Ali. Tapi itu tidak menyurutkan niat Ali untuk bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah seharian mengumpulkan kurma, Ali pulang membawa segenggam gandum untuk diolah Fathimah istrinya menjadi makanan.

Ketika mereka bersiap-siap hendak berbuka puasa, terdengar lagi suara ketukan di depan pintu mereka,”Assalamualaikum ya ahlul bait nabi”.
“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Ketika pintu dibuka, mereka mendapati anak kecil berdiri dalam keadaan gemetar kelaparan. “Wahai ahlul bait nabi, tolonglah aku. Aku adalah anak yatim. Bapakku telah gugur bersama pasukan Rasulullah. Sudah beberapa hari ini aku tidak memakan makanan. Sudilah kiranya jika anda memberikan makanan kepadaku”, kata anak yatim tersebut memelas.

Mata Ali menetes sedih melihat anak yatim yang kelaparan tersebut. Mata bapak siapa yang tidak akan meneteskan air mata melihat anak kecil kelaparan sedangkan dia memiliki putra yang dicintainya dirumah? Apalagi mata tersebut adalah mata seorang yg sangat dermawan seperti Ali, yang kedermawanannya selembut angin dan sesejuk air.
“Fathimah Istriku, ini ada anak yatim kaum muslimin meminta makanan kepada kita. Sudah 3 hari dia tidak mengisi perutnya, sedangkan kita baru dua hari tidak memakan makanan. Aku berniat memberikan bagianku kepadanya”, kata Ali kepada istrinya Fathimah
“Jika memang demikian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Kamipun turut serta memberikan bagian kami kepadanya, Ayah”, kata Hasan dan Husain.

Anak yatim tersebut tersenyum girang, kini dia dapat melewatkan malamnya dengan perut yang kenyang. Sebagian sisanya akan diberikan kepada ibunmya dan adiknya yang juga kelaparan. Sementara itu, lagi-lagi keluarga Nabi yang mulia harus berbuka puasa dengan segelas air putih. Hasan dan Husain yang baru saja sembuh dari sakitnya, malam ini untuk kedua kalinya harus tidur dalam keadaan lapar. Sudah dua hari perutnya tidak terisi makanan kecuali hanyalah seteguk air putih. Wajah keduanya yang biasanya terlihat cerah, kini sudah mulai terlihat pucat karena menahan lapar. Mereka rela dan senang hati memberikan bagiannya untuk mengenyangkan perut seorang yatim, sementara mereka harus tidur dalam keadaan lapar.

Besoknya, dengan perut yang masih kosong, yang tidak terisi makanan selama dua hari, Ali kembali bekerja kepada orang Yahudi pemilik perkebunan di pinggiran kota madinah. Hari ini adalah hari terakhir Ali menunaikan nazarnya. Dengan semangat yang tetap menyala, Ali -pewaris, penolong dan saudara Rasulullah- bekerja keras mengumpulkan buah-buah kurma dengan imbalan segenggam gandum. Cuaca yang masih sangat panas dan perut yang lapar meminta diisi makanan, tidak menyurutkan sedikitpun semangat Ali. Tidak keluar sedikit pun keluhan atau sesal dari bibir sucinya. Hati, jiwa dan pikirannya sudah sedemikian penuh diisi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga tidak tersisa sedikitpun pikiran selainnya. Bagi manusia seperti Ali, rasa lapar yang dirasakan hanyalah setitik debu dijalan perkhidmatan.

Setelah seharian mengumpulkan buah-buah kurma, Ali pulang membawa segenggam gandum sebagai upah untuk diolah Fathimah menjadi makanan. Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sudah 3 hari ini berpuasa dan perutnya kosong dari makanan. Hanya air putih yang dapat digunakan untuk bersantap sahur dan berpuka puasa. Wajah Fathimah sudah terlihat pucat. Hasan dan Husain putranya yang masih kecil, sudah terlihat menggigil kelaparan. Wajah keduanya pucat kekuningan. Mereka semua sudah siap berbuka puasa dan mengisi perut mereka yang telah kosong selama 3 hari ini. Tapi sebelum saat berbuka tiba, terdengar lagi suara ketukan dipintu rumah mereka,”Assalamualaikum wahai ahlul bait nabi”

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat.
Pada saat pintu dibuka, telah berdiri didepan pintu rumah mereka seonggok tubuh berdiri dalam keadaan gemetar kelaparan. Keadannya sangat mengenaskan dengan baju compan-camping.  Rambutnya kumal dan awut-awutan. “Wahai ahlul bait nabi, tolonglah aku. Aku adalah bekas tawanan musuh Rasulullah. Sudah beberapa hari ini aku mendapat siksaan. Tidak ada makanan apapun yang mengisi perutku kecuali air yang keruh. Setelah aku melarikan diri, aku datang ketempat anda dengan harapan ada sedikit makanan dan minuman untuk mengisi perutku”, kata orang tersebut.

Sudah 3 hari keluarga Ali tidak mengisi perutnya dengan makanan kecuali hanyalah air putih. Namun, bukan keluarga Ali namanya jika tidak mendahulukan kaum muslimin daripada kepentingan sendiri. Ali adalah seorang petarung dan pejuang, yang sejak dini telah menghadapi banyak para pendekar Arab Quraisy. Sebagian besar diantara mereka mati ditangan Ali, dan sisanya melarikan dini. Arab Quraisy, untuk menutupi rasa malu dari kekalahan yang berkali-kali dialami ketika melawan pasukan kaum muslimin, seringkali berlaku bengis dalam menghadapi tawanan dari pihak kaum muslimin. Sekarang, ketika ada seorang bekas tawanan Qurasy, yang berhari-hari tidak makan dan telah mengalami beban penyiksaan, bagaimana mungkin Ali dan keluarganya tidak tersentuh.

“Fathimah, istriku. Ini ada seorang bekas tawanan musuh Rasulullah meminta makanan kepada kita. Mereka lebih sengsara daripada kita dan aku berniat memberikan bagianku kepadanya”, kata Ali kepada Istrinya.
“Jika memang demkian, akupun patuh dan taat mengikutimu. Aku pun memberikan bagianku kepadanya”, jawab Fathimah kepada suaminya.
“Kamipun turut serta memberikan bagian kami kepadanya Ayah”, kata Hasan dan Husain serempak melupakan sejenak rasa lapar yang melilit perutnya.

Jadilah malam itu semuanya merebahkan diri nya dalam keadaan lapar. Ali adalah pemenang perang yang terbiasa manahan lapar. Fatimah, sang putri Rasul tercinta, juga demikian. Sejak beliau masih hidup bersama Rasulullah dan sekarang menikah menjadi istri Ali, lapar adalah selimut yang seringkali menyertai dalam tidur-tidurnya. Tapi Hasan dan Husain, putranya masihlah terlalu kecil untuk bisa menahan lapar. Wajah keduanya pucat kekuningan, dikarenakan sudah 3 tiga hari perutnya tidak terganjal makanan. Keduanya kini meringkuk gemetar dan dahi mereka sudah mulai berkeringat menahan rasa sakit akibat lapar.

Lihatlah kini keadaan para penghuni surga tersebut!
Keempat manusia suci tersebut kini terkapar menahan lapar!
Padahal mereka adalah keluarga sang Nabi suci.
Padahal mereka tinggal ditempat persinggahan malaikat.
Disini, di rumah ahlul bait Nabi, Rasulullah sering menerima wahyu suci.
Disini, di rumah ahlul bait Nabi, Jibril yang diberkati,
bolak-balik turun ke bumi, menyampaikan kalam ilahi.

Telah meringkuk Ali dalam keadaan lapar, sang pendekar pemenggal kepala para durjana Arab Quraisy.
Telah meringkuk Fatimah kesakitan, putri tercinta sang Nabi,
yang telah menemani hari-hari kelam sang Nabi saat mendapat cacian tiada henti.
Telah menggelapar Hasan dan Husain yang terbekati, cucu tercinta sang Nabi.
Mereka lebih memilih mengenyangkan orang miskin,
sedangkan mereka sendiri tidur dalam keadaan lapar.
Mereka lebih memilih memberikan daging dan susu kepada kaum papa,
sementara mereka puas memakan gandum, cuka dan air putih.

Bukankah mereka semua adalah kekasih Muhammad Rasulullah, sang Nabi suci?
Allah SWT pernah menyapa mesra Muhammad dalam Hadits Qudsi,”Kalau bukan karena engkau ya Muhammad,
maka tidak aku ciptakan langit dan bumi!”
Bukankah Muhammad Rasulullah adalah sayidul anbyia wal murslin?
Tidak pantaskan sedikit kesenangan menyertai keluarga Nabi?

“Cukuplah keutamaanmu, hai Ahlul Bait Nabi, bahwa sholawat diwajibkan atasmu,
Tidak sempurna sholat, jika tidak mengucapkan sholawat kepadamu.
Jika mencintaimu adalah Syiah-Rafidhi
Maka saksikanlah wahai jin dan manusia, aku adalah Syiah Rafidi”, teriak Imam Syafii.

“Beruntunglah anjing yang mencintai ashabul kahfi,
mana mungkin aku celaka mencintai keluarga Nabi”, jerit Imam Zamakhsyari.

Keempat keluarga Nabi tersebut kini terbaring lemah dirumah mereka yang sederhana. Tidak henti2nya mereka bersyukur atas nikmat Allah yang telah mereka terima, sambil menunggu hari esok untuk mencari rizki Allah. Sampai sebuah salam dan ketukan datang di depan rumah mereka. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai ahlul bait nabi”, kata seseorang diluar pintu begitu lembut dan menyentuh.

“Waalaikum salam warahmutullahi wabarakatuh”, jawab mereka berempat. Ali, Fathimah dan kedua putranya saling memandang satu sama lain. Mereka sangat hafal suara tersebut, suara yang selalu mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Sudah tiga hari ini suara merdu dan lembut itu tidak terdengar. Suara yang mampu membangkitkan rasa cinta dan rindu sekaligus bagi mereka yang hatinya terbuka. Itulah suara Rasul SAAW yang agung. Manusia terbesar yang pernah dilahirkan zaman. Manusia terbesar yang meliputi zaman. Tidak pernah ada manusia besar lainnya, sebelum dan sesudahnya yang mampu menandinginya. Ali bergegas bangkit dari tidurnya dan membuka pintu untuk menyambutnya.

Ketika Rasulullah masuk kedalam rumah Ali dan Fathimah, betapa terkejutnya beliau. Beliau mendapati Fathimah terbaring dalam keadaan lemah. Hasan dan Husain menggigil gemetar dalam selimut. Mukanya pucat pasi kelaparan. Keduanya mencoba tersenyum kepada Rasulullah. Tapi apa daya, keduanya terlalu lemah untuk bermanja-manja kepada Rasulullah seperti biasanya. “Oh haruskah keluarga Rasul, mati dalam keadaan kelaparan …”, rintih Rasulullah sedih. Kesedihan yang menyayat hati menyaksikan cucu tersayang terbaring tak berdaya. Kesedihan seperti apakah yang membuncah dihati Rasul yang mulia. Hasan dan Husain adalah cucu laki-laki tersayang Rasulullah SAAW. Rasulullah pernah memiliki beberapa orang putra, tapi semuanya meninggal. Qosim, Abdullah, dan yang terakhir Ibrahim, putra beliau SAAW meninggal ketika masih bayi. Praktis Rasulullah hanya memiliki putri. Itupun hasil pernikahannya dengan Khodijah as. Pernikahan Rasulullah dengan wanita-wanita selepas Khadijah, tidak memberikannya putra-putri sama sekali. Sangat wajar Rasulullah menumpahkan kasih sayangnya kepada cucu laki-lakinya, Hasan dan Husain. Cucu yang kelak akan meneruskan garis keturunan Rasulullaj. Dan kini, ketika mendapati cucu kesayangannya terbaring lemah kelaparan, kesedihan yang tak terkira dirasakan oleh Rasulullah.

Tapi Allah SWT tidak akan meninggalkan hambanya yang shalih. Terlebih lagi, hamba tersebut adalah Muhammad Rasulullah utusannya dan kekasihnya, sayyidul anbiya wal mursalin. Ditengah rasa galau dan kesedihan yang mendera Rasulullah, tiba-tiba perasaan tenang dan damai menjalar dirasakan Rasulullah. Perasaan damai seperti ini lazimnya Rasul rasakan setiap beliau mendapatkan kalam ilahi diturunkan Allah melalui Jibril.

“Wahai Rasulullah, salam bagimu dan kesejahteraan selalu dari Allah SWT”, sapa Jibril mesra kepada Rasulullah.”Bukan maksud Kami untuk menyakiti para kekasih Kami diantara taman-taman surga. Apa yang dirasakan sakit sesungguhnya itu adalah obat penawar hati dan pengaya jiwa. Tidak mungkin seorang Kekasih akan menyakit kekasihnya. Dan Allah secara khusus berkenan memberikan makanan dari surga untuk keluarga Anda sebagai pujian dari Kami kepada keluarga anda atas pengkhidmatan yang dilakukan mereka secara tulus”

Dan Jibril pun membacakan kalam Ilahi sebagi pujian kepada Ahlul Bait Nabi :

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. ” (QS Al Insan 7-11)

Dan malam itu, keluarga Rasulullah bergembira ria memakan makanan dari surga sebagai buah dari perkhidmatan mereka yang tulus kepada manusia dan menerima pujian langsung dari Allah SWT. Banyak sekali keluarga para sahabat nabi yang bersikap dermawan, menjamu tamu atau menghormati tetangga. Tapi hanya keluarga Nabi-lah yang mendapat pujian dari Allah. Kualitas yang membedakannya…

Biarlah Cinta ini Untuk Ali

Biarlah Cinta ini untuk Ali
by Subbhan A, blogger

“Mengapakah bebek-bebek itu tidak harus terduka? Me­ngapakah orang-orang itu berusaha mencegah mereka menangis? Dan mengapa Amirul Mukminin tidak akan melihat mereka dengan rasa cinta dan perhatian? Dia telah melihat ribuan pagi, tetapi pagi ini mengandung rahasia. Pada hari itu ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ja rasakan sebelumnya. Tidakkah orang besar ini berhak mendengar syair ratapan yang dinyanyikan dari bebek­-bebek dan erangan angin? Apakah dia tidak berhak mengucapkan selamat tinggal kepada matahari dan bayangan yang mungkin tidak akan dilihatnya lagi? Apakah Ia tidak berhak memandang dengan tatapan terakhir ke tempat-tempat di mana ia menjalani kehidupan miskin demi kesejahteraan orang lain? Tempat-tempat ini telah menyaksikan keberanian dan keperkasaannya, manifestasi kepribadiannya yang mempesona, dan banyak kesengsaraan serta penderitaan yang harus ditanggungnya. Mereka juga telah melihat malam-malam yang panjang yang dilewatinya dengan menangis dalam keadaan pasrah kepada Allah.”

Kalimat yang anda baca diatas, adalah prosa yang amat mengharukan yang ditulis George Jordac -seorang sarjana beragama Kristen – saat menggambarkan detik-detik wafatnya Amirul Mukminin Ali. Sebuah tulisan yang didekasikan oleh seorang Kristen karena rasa kagum terhadap Sayyidina Ali kw. Tulisan yang mengharukan sekaligus mencerahkan, tragis tapi penuh kebijakan.

Dan inilah Ali…

“Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (surah Ali Imran (3): 61)

Ayat diatas diturunkan berkaitan dengan peristiwa mubahalah yang terjadi antara Rasulullah dengan pendeta nasrani Najran. Peristiwanya bermula, ketika terjadi perdebatan antara Rasulullah dengan para pendeta Najran. Dengan argumen meyakinkan Rasulullah berhasil menjatuhkan setiap argumen mereka. Hanya kesombongan dan sifat keras kepalah-lah yang membuat mereka tidak mau mengakui kebenaran yang dibawa Muhammad. Rasulullah menantang para pendeta najran tersebut untuk melakukan mubahala dan Allah menurunkan ayat diatas untuk mengabadikan kisah tersebut.

Semua ahli tafsir dari seluruh mazhab sepakat, dalam peristiwa mubahalah tersebut, Rasulullah SAAW mengajak Sayyidina Ali, Fatimah, Hasan dan Husain -salam atas mereka semua. Bagi umat muslim yang tidak kritis, ayat tersebut hanya dibaca sebagai kebenaran risalah yang dibawa Muhammad SAW. Tetapi apakah memang demikian?

Dalam ayat tersebut, Rasulullah memangil Fatimah sebagai “wanita-wanita kami”, Hasan dan Husain sebagai “anak-anak kami”, dan Sayyidina Ali sebagai “diri kami”. Betapa besar kemuliaan yang Ali dapatkan. Beliau tidak dipanggil oleh Rasulullah sebagai “laki-laki” kami, tetapi beliau disanjung dan dipanggil sebagai “diri kami” oleh Rasulullah. Adakah laki-laki lainnya selain Ali, yang dipanggil dengan mesra dengan “diri kami” oleh Rasulullah SAAW?  Karena itu tidak heran, jika dalam banyak kesempatan, Rasulullah sering berkata : “Aku adalah bagian dari Ali dan Ali bagian dariku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku dan siapa yang mencintainya maka ia mencintaiku. Ya Allah, cintailah mereka yang mencintai Ali dan laknatlah mereka yang membenci Ali”

Membaca sejarah Ali, sama saja membaca kebenaran itu sendiri. Beliau adalah pengejawantahan sifat dan karakter asli Rasulullah. Sejak usia yang masih dini, beliau hidup dalam asuhan Rasul. Jika ingin mengetahui manusia yang dikader sejak mula-mula oleh Rasulullah, maka Ali-lah orangnya. Ketika Rasul sering berkhalwat ke Gua Hira, Ali kecil selalu setia menemani. Ali-lah yang selalu setia mendampingi dan gagah berani membela Rasul ketika Rasul mendapat gangguan dari Rasulullah.

Adakah yang lebih berani dan setia mendampingi Rasulullah selain Ali? Dialah Ali, yang tidak sekalipun resah, gelisah ataupun takut ketika harus menggantikan Rasulullah dalam malam-malam hijrah. “Apakah dengan menggantikan anda tidur di tempat anda, maka anda akan selamat”, tanya Ali kepada Rasulullah. “Ya”, jawab Rasulullah. “Jika demikian, maka aku rela menggantikan anda di tempat tidur”, jawab Ali. Sepanjang hidup Ali, tidak sekalipun beliau mengeluh ketakutan, cemas atau khawatir jika dengannya beliau dapat menyelamatkan nyawa Nabi.

Dialah Ali -pemuda berusia 19 tahun- sendirian menghabiskan separo dari orang Quraisy yang mati dalam medan perang Badar. Dialah Ali, yang tetap tabah mendampingi Rasulullah pada saat2 genting di perang Uhud. Ketika itu hampir seluruh sahabat nabi yang utama berlarian menyelamatkan diri akibat bokongan panglima perang pihak Quraisy, Khalid bin Walid. Hanya tersisa 6 atau 7 dari pihak Nabi masih setia disamping Nabi. Sebagian besar diantara mereka adalah bani Hasyim ditambah  Ali dan Talhah. Dalam perang Uhud, Ali as memutar2 pedang Zulfikar dan menebas kepala siapa saja kaum Quraisy yang mengancam nyawa Nabi. Atas peran menakjubkan Ali adalam perang Uhud, malaikat Jibril sampai memuji beliau,”Tiada pemuda kecuali Ali, dan tiada pedang selain Zulfikar”

Jika itu masih kurang, Ali menunjukkan kepahlawanan dan keberanian yang tiada satupun sahabat utama memilikinya. Dalam perang Khondaq yang menentukan, Amr bin Wudd seorang jagoan bangsa Arab, berteriak-teriak menantang kaum muslimin,”Ayo! Kalian berkata bahwa jika aku mati, maka aku masuk neraka. Dan jika kalian mati maka kalian masuk surga. Jika kalian memang ingin cepat-cepat masuk surga, maka mengapa tidak lekas hadapi aku?”. Amr bin Wudd berteriak berulang2, menghina kehormatan kaum muslimin. Tapi tiada satupun diantara sahabat nabi yang berani menjawab. Dimana para sahabat utama nabi, ketika Amr bin Wudd menantang kaum muslimin? Dimana keberanian sahabat nabi yang utama, yang konon setan pun takut menghadapinya karena keberaniannya? Dimanakah sahabat nabi yang utama, yang konon disebut sebagai orang yang paling dicintai Nabi? Tidak adakah diantara mereka yang mau menyelamatkan wibawa Nabi? Tidak adakah diantara mereka yang mau mengorbankan nyawanya untuk Nabi dan membuktikan cintanya kepada Nabi? Dimanakah cinta mereka kepada Nabi pada saat menyaksikan kehormatan kaum muslimin dan wibawa Nabi diinjak-injak oleh Ibnu Wudd?

Sejarah menceritakan dengan jelas dan terang benderang kepada kita, bahwa dalam perang Khandaq, tidak ada satupun diantara para sahabat nabi yang berani menantang Amr bin Wudd kecuali Ali. “Ijinkan saya ya Rasulullah, untuk menghadapi ibnu Wudd”, pinta Ali kepada Rasulullah. “Sabarlah sebentar”, kata Rasul,”Dia itu Ibnu Wudd”. Rasulullah masih menunggu sahabat lainnya, yang lebih tua dan lebih berpengalaman untuk menghadapi Ibnu Wudd. Tapi penantian itu sia-sia. Berulang-ulang Ibnu Wudd meneriakkan tantangan kepada kaum muslimin dan menghina Rasulullah, berkali-kali pula sahabat Nabi terdiam kecuali Ali. Tidak ada pilihan yang dimiliki, Rasulullah pun mengijinkan Ali menghadapi Ibnu Wudd. Dan Ali, dalam beberapa gebrakan, berhasil menebas kepala Ibnu Wudd.

Cinta itu butuh bukti, dan tidak ada bukti yang paling tinggi didalam Cinta kecuali mengorbankan nyawanya demi kekasihnya. Itulah fana dalam literasi tasawuf. Ali telah tenggelam dalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga beliau tidak peduli apakah kematian yang datang kepadanya ataukah beliau yang mendatangi kematian.”Aku lebih merindukan mati syahid daripada rindunya seorang bayi yang menetek kepada ibunya?”, kata Ali suatu ketika. Berkali-kali sayyidina Ali mendemonstrasikan kecintaan-nya kepada Rasulullah dengan mengorbankan nyawanya.

Dan pernahkan anda melihat, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, akan dikecewakan cintanya? Ketika Ali melangkah tegar menghadapi Ibnu Wudd, Rasulullah jatuh tersungkur, menangis mendoakan keselamatan Ali,”Ya Allah, engkau telah mengambil Ja’far dariku, maka janganlah engkau mengambil Ali dari sisiku.” Itulah ungkapan cinta yang paling mesra yang diucapkan Rasulullah kepada Ali. Ja’far adalah kecintaan Rasulullah, beliau gugur dalam perang mu’tah. Rasulullah telah kehilangan orang2 tercinta seperti Abu Thalib, Fatimah istri Abu Thalib dan Ja;far. Dan kini, Rasulullah bermunajat kepada Allah, memohon agar mengembalikan Ali kepadanya, agar di hari2 kedepan, Rasulullah masih merasakan manisnya cinta Ali.

Ya, mengapakah Rasulullah tidak harus mencintai Ali, sedangkan Ali berkali-kali menunjukkan cintanya kepada beliau SAAW? Pada saat hari2 pertama hijrah, setiap sahabat muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat Anshor. Semuanya, kecuali Ali! Ali remaja menangis sedih mengadu kepara Nabi. “Ya Nabi, anda telah mengangkat saudara bagi orang Muhajirin dan Anshor. Tapi anda membiarkan saya sendirian”, keluh Ali kepada Rasul. Rasul tersenyum dan sambil memeluk Ali, beliau SAAW berkata,”Tidakkah anda senang ya Ali, bahwa anda adalah saudaraku di dunia dan akhirat?”. Itulah ungkapan persaudaran yang paling tulus dari Rasulullah kepada Ali dan tidak ada satupun yang menerimanya selain Ali.

Apakah aku harus menceritakan, ungkapan kecintaan Rasulullah kepada Ali, dalam perang Khaibar? Dua hari dua malam, para sahabat nabi yang utama gagal menaklukkan benteng khaibar. Ali ketika itu sakit mata, sehingga beliau tidak dapat membantu menaklukkan khaibar.  Pada malam ketiga, Rasulullah mengumpulkan seluruh sahabatnya. “Besok, aku akan serahkan bendera perang, kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasulnya. Allah dan Rasulnya pun mencintai. Dia tidak pernah mundur atau lari dari medan pertempuran.” Seluruh sahabat Nabi berharap diserahi bendera perang. Besoknya, bendera perang diserahkan kepada Ali.

Mengapa pula para sahabat tidak menginginkan bendera perang Khaibar? Perkataan Rasulullah tsb adalah ungkapan cinta secara terang2an, sehingga seorang sahabat sekelas Saad bin Abi Waqqash sangat menginginkan bendera perang Khaibar.

Ada kah manusia yang paling tinggi cintanya kepada Rasulullah dan membuktikannya selain Ali?

*****

Jumat 21 Ramadhan 40 H, Sayyidina Ali yang masyhur itu menghembuskan nafas terakhir akibat tebasan pedang sang terlaknat, Abdurahman Ibnu Muljam. Semoga Allah melaknat Ibnu Muljam dan membalas perbuatan buruknya kepada Sayyidina Ali dan kaum muslimin dengan balasan yang seburuk2nya. Menempatkannya didasar neraka yang paling buruk dan menjauhkannya dari ampunan. Tidak tahan rasanya menceritakaan saat2 kematian Sayyidina Ali. Tidak sekalipun beliau mengeluh akibat tebasan pedang Ibnu Muljam. Wajah beliau yang sehari2nya cerah, kini semakin cerah justru disaat-saat akhir kematiannya. Wajahnya tetap tersenyum, walaupun beliau harus menanggung sakit akibat tebasa pedang Ibnu Muljam. Adakah yang lebih menyedihkan menyaksikan kematian manusia mulia, yang menghadapi-nya dengan senyuman?

Ketika beliau dalam keadaan sakit akibat tebasan pedang Ibnu Muljam, matanya memandang wajah Ibnu Muljam yang kesakitan karena ketatnya ikatan ditubuhnya.

“Lepaskan talinya”, kata Ali, “Jangan kau balas dia melebihi dari yang dia lakukan padaku. Tapi jika engkau memaafkan, maka itu adalah keutamaan kalian”.

Ali yang menderita, masih mengingat rasa sakit yang dirasakan oleh musuhnya.

Saya dedikasikan artikel yang ini sebagai hadiah kepada Ahlul Bait Nabi SAAW, sebagai tanda duka cita dan sebagai tanda cinta kepada Ahlul Bait Rasullah SAAW. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait Nabi diperintahkan oleh Rasulullah. Saya akan kemukakan adits tentang kewajiban kita untuk mencintai Ahlul Bait  Rasulullah SAAW. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Turmudzi juz ke-2 hal 308. Dalam hadits yang diriwayatkan dengan sanad dari Ibnu Abbas ini, dikisahkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Cintailah Allah atas nikmatnya kepada kamu semua. Cintailah aku karena kecintaanmu kepada Allah. Dan cintailah ahli baitku karena kecintaanmu kepadaku.” Hadits ini menunjukkan bahwa kita disuruh mencintai Allah karena nikmat yang telah Dia berikan. Jika kita mencintai Allah, maka kita pun harus mencintai Rasulullah SAAW dan jika kita mencintai Rasulullah SAAW, maka kita pun harus mencintai keluarganya.

Kita diwajibkan untuk mencintai Rasulullah SAAW. Salah satu ungkapan cinta kita kepada Rasulullah SAAW adalah dengan mencintai ahlul baitnya. Sebuah hadits yang terdapat dalam Kitab Kanzul ‘Umâl juz ke-6 halaman 218 menceritakan ucapan Rasulullah SAAW kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Rasul bersabda, “Hai Ali, Islam itu telanjang. Pakaiannya adalah takwa. Perhiasannya adalah rasa malu. Yang membaguskannya adalah sifat wara’. Manifestasinya ialah amal saleh. Asasnya adalah kecintaan kepadaku  dan kepada keluargaku.” Jadi tonggak Islam itu adalah kecintaan kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Di atas dasar itulah Islam ditegakkan.

Ya, apalagi yang harus kita andalkan untuk meraih cinta Ilahi selain kecintaan kepada Rasulullah SAAW dan  Ahlul baitnya ? Saya  sholat tetapi sholat kami penuh riya. Secara fisik saya puasa, tetapi mata-hati-tangan-kaki-mulut tidak pernah berpuasa. Saya zikir, tapi zikir kami tidak ihlas. Berharap kepada ibadah semata-mata untuk meraih cinta Ilahi, pastilah tidak cukup. Bahkan untuk membayar tanda terima kasih atas kenikmatan sebelah mata saja tidak cukup.  Semoga kita semua dimasukkan dalam golongan mereka yang mencintai  Rasulullah SAAW dan Ahlul bait-nya.

“Dan kamu beserta orang yang kamu cintai”, sabda Rasulullah.

Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah dan Ahlul baitnya,
Allahumma Sholli ala Muhammad wa Ali Muhammad.

 

Dibalik 911 : Persekongkolan Jahat Saudi dan Amerika

Dibalik 911 : Persekongkolan Jahat Saudi dan Amerika
by Subbhan A, blogger

U.S. Secretary of State John Kerry speaks during his meeting with Saudi Arabia's Foreign Minister Adel al-Jubeir © Kevin Lamarque / Reuters

U.S. Secretary of State John Kerry speaks during his meeting with Saudi Arabia’s Foreign Minister Adel al-Jubeir © Kevin Lamarque / Reuters

Artikel New York Post minggu ini yang berjudul : Bagaimana Amerika menutupi Peran Saudi dalam peristiwa 9/11, mengungkap dengan jelas bahwa para pejabat top Amerika tidak hanya menutupi keterlibatan petinggi-petinggi Saudi dalam peristiwa paling kotor dalam sejarah modern, tetapi juga membantu mereka untuk lari dari Amerika sesaat setelah peristiwa pengeboman gedung WTC 9/11 terjadi.

“Actually, the kingdom’s involvement was deliberately covered up at the highest levels of our government. And the coverup goes beyond locking up 28 pages of the Saudi report in a vault in the US Capitol basement. Investigations were throttled. Co-conspirators were let off the hook.” (newyorkpost)

Sebuah sumber dari agen Kesatuan Anti Terorism Washington yang dikutip Newyork Post mengatakan bahwa dalam laporan 28 halaman yang disembunyikan oleh pemerintah Amerika Serikat, menyebutkan secara rinci peran pihak2 asing terutama Saudi untuk mendukung operasi pembajakan dan pengeboman gedung WTC 9/11. Laporan yang dibuat dan dikumpulkan oleh CIA/FBI itu juga menyebutkan bantuan resmi dari Saudi terhadap setidaknya 2 pembajak untuk menginap di San Diego.

Sebagai response mencuatnya kasus ini dan membuka keterlibatan Saudi terhadap peristiwa 911, Saudi mengancam Amerika untuk menjual asset Amerika yang dimilikinya senilai 750 milyar dollar yang dapat menyebabkan kejatuhan ekonomi Amerika serikat.  Seperti yang dilaporakan New Tork Times :

Adel al-Jubeir, the Saudi foreign minister, delivered the kingdom’s message personally last month during a trip to Washington, telling lawmakers that Saudi Arabia would be forced to sell up to $750 billion in treasury securities and other assets in the United States before they could be in danger of being frozen by American courts.  (NewYork Times)

Banyak memang analis yang meragukan efektifitas ancaman Saudi (jika mereka benar menjual asset Amerika yang dimiliki), tapi bagaimana tanggapan pemerintahan Obama menghadapi ancaman Saudi terhadap Amerika?

Amerika yang begitu perkasa menghancurkan leburkan Afghanistan dengan tuduhan terlibat 9/11, seakan ketakutan, justru membela Saudi dan menentang rencana Kongres untuk menjatuhkan hukuman dan denda terhadap Saudi atas keterlibatannya dalam peristiwa 9/11. Seperti yang dilansir rt.com :

Obama has said that he doesn’t support the bill, due to the possibility of foreign citizens – presumably victims of US wars and drone strikes – suing the government.

“If we open up the possibility that individuals in the United States can routinely start suing other governments, then we are also opening up the United States to being continually sued by individuals in other countries,” the commander-in-chief said (rt.com)

Menurut logika Obama, jika Amerika memberikan hukuman kepada warga Negara asing (khususnya Saudi), maka itu akan menjadi preseden bagi Negara lain untuk melakukan hal yang sama kepada warga Negara Amerika.

Omong kosong!

Ditengah kepongahan dan ketidak pedulian Amerika yang menghancur leburkan Afghanistan maupun Irak dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa 9/11! Apakah pemerintahan Amerika pernah memikirkan keselamatan warga Amerika ketika memborbardir Afghanistan dan Irak, selepas 911?

Walaupun banyak pihak skeptis terhadap rencana pembukaan dokumen ini terutama mengingat pembelaan Obama kepada Saudi, tapi dari kasus ini setidaknya kita dapat mengambil 3 hal pelajaran bahwa :

1. Pemerintah Amerika tidak peduli mengenai nasib warga negaranya. Bahkan ketika pelaku dan sponsor utama peristiwa pengeboman gedung WTC 911 yang merenggut korban jiwa hingga lebih dari 3000 warganya sudah diketahui sejak awal, Pemerintahan Amerika tidak peduli.

Seperti yang dilaporkan RT.com dalam wawancara dengan korban WTC yang berhasil selamat :

We went against Al-Qaeda in Afghanistan because they supported Bin Laden. Why can’t we do the same thing with the Saudis, 9/11 survivor William Rodriguez told RT.

The relatives of 9/11 victims have repeatedly demanded a classified Congressional report known as ‘the 28 pages’ be released, claiming it doesn’t pose a security threat and the truth should not be hidden.

We have been fighting for this release for the last 15 years when the 9/11 Commission was created and after that probably 12 years we’ve been fighting for the release of these 28 pages. And we have not received any indication that it will happen. Why keeping this information secret for so long, when we have been open on all other levels of information about what happened on 9/11 surprises not only the families of the victims and survivors, but many of the people involved in 9/11 commission itself. We are survivors and we are horrified that this has taken this long to try to get to the truth about what really happened on that day. Why the government is keeping this information, whatever interests…? (wawancara Russian Today)

Selama 15 tahun korban selamat dari peristiwa pengeboman WTC 911 meminta kejelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Selama itu pula, pemerintahan Amerika menutup-nutupi, dan melindungi actor utama perisitiwa 911.

Mungkin kita harus bertanya, apakah warga Negara Saudi adalah warga Negara kehormatan Amerika Serikat, sehingga Pemerintahan Obama lebih mengkuatirkan nasib mereka?

2. Saudi sejauh ini ikut menopang negara Amerika bahwa mereka memegang asset Amerika senilai 750 milyar dollar amerika. Dan jika Saudi menjual asset beharga ini, akan menyebabkan kekacauan ekonomi, tidak saja bagi Amerika tetapi juga bagi dunia.

Selama ini, kita selalu mendapatkan narasi palsu bahwa Saudi adalah musuh Amerika, bahwa Saudi adalah pembela Islam dan kebanggaan Islam. Fakta ini mengungkap jelas bahwa  sejatinya, Saudi adalah sahabat dekat amerika dan ikut menopan kejayaan Amerika Serikat memerintah dunia selama bertahun-tahun. Jika Saudi berniat menghancurkan Amerika, maka Saudi dapat dengan mudah membuat kekacauan ekonomi Amerika dengan melepas semua asset Amerika yang dimilikinya. Tapi itupun tidak pernah dilakukan.

3.   Yang kita tahu selama ini adalah 15 dari 19 pembajak pelaku peristiwa 9/11 adalah warga Negara Saudi. Laporan yang disembunyikan selama bertahun-tahun oleh Pemerintahan Amerika Serikat adalah peran Saudi dalam peristiwa ini, dan setidaknya membantu 2 dari 19 pembanjak untuk menetap di San Diego.

Serentetan peristiwa yang mengikuti setelah kejadian 9/11 adalah dihancurkannya Negara Afghanistan 2001 dengan dalih menangkap pelaku serangan 9/11. Afghanistan hancur lebur, lebih dari 360 ribu rakyat Afghan menjadi korban, dan yang paling menderita dari semua itu adalah wanita, anak-anak dan lanjut usia. Jutaan warga Arfghan masih menderita sampai sekarang, bom bunuh diri terjadi dimana-mana bahkan setelah Amerika secara resmi menarik pasukannya dari Afghanistan. Afghan negeri muslim, menjadi negeri yang gagal, sampai sejauh ini.

Tidak bisa dibayangkan, Saudi yang dielu-elukan sebagai Negara islam, pemelihara dua kota suci Islam, justru terlibat konspirasi paling busuk dan menjadi aktor utama dalam peristiwa pengeboman WTC 9/11 yang dilanjutkan dengan penghancurkan Afghanistan.

Sebagai sebuah pretext, peristiwa 9/11 kemudian menjadi dalih bertahun-tahun Amerika untuk menghancurkan Negara lain, dengan alas an melindungi warga Negara Amerika dan asset amerika di seluruh dunia.

Perisitiwa memilukan berikutnya adalah dihancurkan negeri Irak, dilengserkannya Saddam Hussein dengan dalih terlibat peristiwa 911 yang kemudian dituduh pula menyimpan senjata pemusnah massal.

Seperti dilaporkan Christian Science Monitor, Maret 2003 :

In his prime-time press conference last week, which focused almost solely on Iraq, President Bush mentioned Sept. 11 eight times. He referred to Saddam Hussein many more times than that, often in the same breath with Sept. 11.

 

Bush never pinned blame for the attacks directly on the Iraqi president. Still, the overall effect was to reinforce an impression that persists among much of the American public: that the Iraqi dictator did play a direct role in the attacks. A New York Times/CBS poll this week shows that 45 percent of Americans believe Mr. Hussein was “personally involved” in Sept. 11, about the same figure as a month ago.

Tuduhan yang kemudian terbukti palsu. Saddam tidak terbukti memiliki senjata massal dan tidak terlibat pula dengan Osama bin Laden, Alqoida, yang dituduh sebagai dalang peristiwa 9/11.

Tapi Irak yang indah sudah keburu dihancurkan. Lebih dari 500 ribu warga sipil Irak tewas, 1 juta anak-anak balita harus mati kelaparan karena embargo tidak adil Amerika, dan Irak, sampai saat  ini masih diguncang bom bunuh diri setiap hari. Kekerasan sektarian terjadi dimana-mana, ISIS merajalela, penyembelihan dan pemenggalan kepala adalah pemandangan sehari-hari warga Irak. Irak yang merupakan Negara kaya di jaman Saddam Hussein, sekarang menjadi Negara gagal, miskin, terbelakang, hancur, dan semuanya bermula dari peristiwa 9/11 dimana Saudi menjadi salah satu aktor utamanya.

Saudi, negara  yang dielu2kan sebagai Negara Islam, Negara yang tidak boleh dikritik karena memelihara dua kota Suci, negeri dengan julukan 1000 ulama, ternyata tidak lebih dari sebuah Negara bajingan yang jauh lebih banyak membunuh umat islam!

Sumber Berita :

  1. We Still Don’t Know What Really Happened On 9/11’ – Survivor
  2. How US covered up Saudi role in 9/11
  3. Saudi Arabia Warns of Economic Fallout if Congress Passes 9/11 Bill
  4. Saudi Arabia wants US to kill 9/11 bill, threatens to dump US assets worth $750 bn – report
  5. Obama: ‘If we let Americans sue Saudis for 9/11, foreigners will begin suing US non-stop’
  6. Hijackers in the September 11 attacks
  7. Civilian casualties in the war in Afghanistan (2001–present)
  8. The impact of Bush linking 9/11 and Iraq
  9. Casualties of the Iraq War