Membaca Ulang Farag Fouda

Membaca Ulang Farag Fouda
oleh : Subbhan A, blogger

kebenaran yang hilang
Setelah 20 tahun, saya akhirnya bertemu kembali kawan dekat saya semasa SMA. Dia dulu pemalu tapi cerdas. Dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga NU bahkan semasa SMP dia dibesarkan dalam pondok pesantren.

Yang kemudian mengagetkan (dan mengecewakan) adalah, dia tiba-tiba mengaku menjadi aktivis Hizbut-tahrir. Seperti yang kemudian diduga, kami terlibat perdebatan intens tentang topik syariat islam dan kekhalifahan. Ini adalah kesekian kali saya berdebat dengan kawan HTI. Mungkin karena itu saya begitu percaya diri.

Tetapi tidak ada argumen baru dari kawan saya karena semuanya adalah pengulangan dari argumen-argumen kawan2 saya HTI yang lain. Argumen saya pun sama, tidak ada hal baru dan juga merupakan pengulangan  karena saya selalu mendapatkan jawaban yg sama. Mungkin karena kawan-kawan HT sudah terindoktrinasi sedemikian rupa. Mereka seperti robot, hanya menjawab sesuai script program yang ditanamkan kepada mereka.

Dan seperti aktivis HTI saya lainnya, kawan saya sangat mengidolakan khalifah. Seakan-akan kekhalifahan adalah produk sejarah tanpa cacat dan tanpa cela. Rumusnya sederhana, apapun masalahnya, khalifah solusinya.

Dan gara-gara berdebat dengan kawan HTI saya, saya tiba-tiba ingat Farag Fouda dengan karya monumentalnya: Kebenaran yang Hilang. Farag Fouda adalah amunisi yang pas untuk melawan para aktivis HTI. Mengingat topik yang dibahas Fouda adalah sejarah gelap khalifah dan sisi manusiawi dari para khalifah. Dan karenanya, kita perlu membaca ulang Farag Fouda.

Fouda adalah seorang penggiat hak asasi manusia, liberalis dan pemikir Mesir. Sesuai spesalisnya, mudah diduga jika Fouda tidak mendapatkan nama harum dikalangan islamist termasuk HTI, karena sasaran kritik Fouda justru kekhilafahan yang menjadi pijakan dan kebanggaan golongan islamist.

Fouda adalah raja satir dan ironi, kata Syamsu Riza Panggabean dalam pengantar Fouda. Fouda dihukumi murtad oleh universitas islam paling terkemuka di mesir, Al-Azhar. Darahnya dihalalkan, dan artinya Fouda layak dihukum mati. Beliau dihukum mati, dengan alasan, Fouda menghina teks sejarah tentang khalifah dan karena itu dianggap menghina islam.

Padahal, ketika menggambarkan sejarah gelap kekhalifahan, Fouda tidak mengambil argumennya  dari kaum orientalis barat atau pemikir non-muslim. Semua argumen Fouda juga tidak bersumber dari imajinasinya atau pemikirannya. Seperti yang dikatakan Fouda, semua argumen-nya justru diambil dari sumber otentik islam sendiri, dari Thabari sampai Ya’kubi, dari Ibnu Katsir sampai Assuyuti. Sangat aneh, jika Fouda yang mengutip dari sejarawan islam dan dihukumi murtad, sedangkan sumber islam sendiri yang jadi pijakan Fouda, malah diagungkan.

Membaca ulang Fouda tidak saja penting tetapi juga faktual. Penting ditengah maraknya organisasi trans-nasional yang gemar mengafirkan dan berniat mengubah NKRI menjadi negara khalifah yang berpotensi menghancurkan keragaman Indonesia. Dan tetap faktual karena isu syariat islam dan kekhalifahan seperti tidak lekang di hantam waktu di tengah isu sektarian yang mengeras di berbagai belahan dunia.

Bila kaum islamist menganggap periode salaf terutama khulafaur rasyidin sebagai masa keemasan, maka bagi Fouda tidak. Bagi Fouda, seperti yang ditulis Syamsu Riza Panggabean, zaman itu zaman biasa. Bahkan banyak jejak memalukan.

Contoh paling tajam yang dikemukakan Fouda adalah masa Utsman Bin Affan ra. Utsman yang memerintah selama 12 tahun, akhirnya bernasib tragis. Beliau dibunuh. Dan pembunuhnya bukan orang murtad, bukan majusi dan bukan pula kaum kafir. Pembunuhnya justru orang islam sendiri. Sejarawan Thabari menceritakan bahwa salah satu pembunuh Utsman  malah anak Abu Bakar sahabat karib Utsman yaitu Muhammad bin Abu Bakar saudara kandung Aisyah ra.

Mereka tak sekedar membunuh Utsman. Jenazahnya bertahan dan tidak dikubur selama 3 malam. Ketika mayat hendak disemayamkan, siapaun dilarang men-sholatinya. Bahkan jenazahnya diludahi dan persendiannya di patahkan. Karena ditolah para pemberontak untuk disemayamkan dipekuburan islam, jenazahnya terpaksa di pekuburan Yahudi.

Kaum islamist tak pernah menceritakan kisan pilu ini. Dan tentu saja peristiwa terbunuhnya Utsman, menggambarkan bahwa ada satu hal yang kurang dalam praktek kekhalifahan: tidak ada aturan untuk mencegah para khalifah dari penyelewengan dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.

Utsman sendiri berkali-kali menolak turun tahta walau banyak masyarakat madinah meminta beliau turun karena kurangnya kepercayaan dan karena tuduhan menyeleweng. “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju yang disematkan Allah kepadaku”, kata Utsman. Masyarakat islam menemui jalan buntu. Para pemuka islam mencari kaidah dari masa lalu untuk memecahkan masalah suksesi. Mereka juga mencari dari kaidah islam. Tapi mereka gagal, tulis Fouda. Dan akhirnya masyarakat islam mengepung Utsman dan membunuhnya.

Tidak lupa Fouda menunjukkan contoh-contoh penyelewangan para khalifah setelahnya, penindasan terhadap para ulama oposan dan menggunakan ulama untuk justifikasi kekuasaan absolut dan korup. Diceritakan Fouda, khalifah kesembilan Umayyah, Yazid bin Abdul Malik malah gemar mengumbar nafsu, dan puluhan ulama mengeluarkan fatwa bahwa Yazid tidak akan diadili di hari kiamat dan tidak diazab.

Dalam fikih siyasah disebutkan bahwa para khalifah haruslah dari suku Qurays. Fouda menilai hadits ini tidak lebih bentuk justifikasi terhadap kekuasaan dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Terhadap islamist yang bercita2 menegakkan kekhalifahan dan menggunakan hadits ini sebagai sebagai syarat khalifah, dengan nada satir Fouda menulis:

Ada baiknya mereka yang mendukung konsep khilafah dijaman modern ini menunjukkan kepada kita bagaimana cara kita menentukan nasab. Siapa tahu kita adalah termasuk suku Quraisy tanpa sengaja. Dan dengan modal itu, kita dapat berkecimpung dalam bidang politik, mengincar kekuasaan dan mencampakkan akal pikiran.

Fouda memang menganut prinsip pemisahan agama dan negara, semata-mata demi kebaikan negara dan agama. Agama terlindungi dari manipulasi para politisi dan pemerintahan dapat terlaksana tanpa beban partikulisme keagamaan. Bagi Fouda, ketika agama dicampurkan dengan negara maka yang ada adalah absurditas dan kekejaman absolut.

Alangkah baiknya kita dengarkan Fouda bercerita tentang kisah yang membuatnya bercucuran air mata. Kisahnya terjadi di Mesir, pada saat pemakaman Yusuf Wahbah. Yusuf Wahbah, adalah seorang kristen koptik, menjabat perdana Menteri Mesir. Karena faktor agama, Yusuf Wahbah mendapat penentangan rakyat mesir yang mayoritas muslim. Aryan Saad lalu membunuh Yusuf Wahbah. Yang mengejutkan, Aryan Saad adalah juga penganut kristen koptik juga. Ketika ditanya mengapa ia melakukan perbuatan criminal tersebut,  Aryan menjawab bahwa ia sengaja membunuh Wahbah agar dia tidak dibunuh Muslim dan menimbulkan konflik sosial ditengah masyarakat. Dan tatkala lonceng gereja berdentang untuk menghormati jenazah Wahbah, tulis Fouda, tiba-tiba dari sebelahnya terdengar suara azan yang menggelegar. Kontan semua yang hadir mencucurkan air mata. Semua yang hadir menyesalkan babak terakhir penghormatan terhadap Yusuf Wahbah.

Aku bersumpah untuk Aryan, kata Fouda, azan dan lonceng akan selalu berpelukan ditanah ini. Setiap orang seharusnya menjadi hamba Allah yang setara. Duhai Aryan, Mesir akan tetap utuh sebagaimana engkau dan kami inginkan. Terjauh dari perpecahan. Terhindar dari malapetaka dan tak kami biarkan terbelah.

Bersama semangat Fouda, saya juga ingin bertanya kepada saudara sebangsa:

Wahai orang-orang Indonesia yang sehat jiwanya, apakah kita masih dapat berjalan beriringan?

8-Januari-1992, Fouda akhirnya mati. Beliau diberondong peluru islamist yang mengaku dari Jamaah Islamiyah. Orang seperti Fouda ini, dimata kaum islamist, memang pantas dibunuh. Ia menggangu keabsahan posisi khalifah bahkan dianggap menghina syariat. Ia penggagu kemutlakan. Tapi itu terjadi di mesir, 23 tahun lalu. Dan yang mengagumkan ciri muslim disini, tulis Gunawan Muhammad, justru departemen agama yang menerbitkan Kebenaran yang Hilang.

Download buku Kebenaran yang Hilang

Advertisements