Nestapa Kristen Suriah

Nestapa Kristen Suriah
oleh: Subbhan A, blogger

145466_p
[keterangan Foto: sebuah gereja di Homs dihancurkan teroris.  Teroris Syria telah menghancurkan 60 gereja dan Monastri, dan mengusir lebih dari 70 ribu penduduk Kristen Orthodox Homs dan separo penduduk Kristen Aleppo, seperti dilaporkan Interfax]

Natal 2015 seharusnya menjadi hari membahagiakan buat saudara-saudara kita yang beragama kristen. Tapi tidak bagi mereka yang tinggal di Syria ataupun Iraq. Natal tahun ini berarti neraka. entah berapa banyak dari mereka yang tewas, disembelih secara sadis atau diusir dari kampung halaman mereka.

Para teroris wahabi ekstrim itu menyembelih kepala para pendeta.
Mereka juga menyembelih bayi dan wanita kristen.
Mereka memperkosa para wanita kristen dan menjualnya dipasar budak.
Mereka membunuh banyak orang kristen dan menghancurkan banyak gereja.
Mereka memutilasi mayat sipil dan membuangnya dijalanan.
Mereka membantai penduduk satu kampung termasuk wanita dan anak-anak.
Mereka melakukan bomb bunuh diri di pasar-pasar dan pusat keramaian dengan satu tujuan: membunuh sebanyak mungkin rakyat sipil.
Mereka menghancurkan kota kristen tertua didunia, Maloula dan Kessab.
Mereka mengepung kota dan membiarkan warganya mati kelaparan.
Mereka mematikan pasokan air minum supaya warganya kehausan.
Mereka menghancurkan statisun thermal dan membiarkan rakyat kedinginan.

[Dan sebenarnya bukan hanya kristen yang menderita karena kebengisan dan kebiadaban para teroris wahabi, tetapi juga muslim sunni dan shia]

dan semakin ironis, para -teroris wahabi- yang didukung pasokan dana dari negeri wahabi saudi-turki-qatar dan menggunakan senjata yang justru dari negara-negara yang mengklaim sebagai negara kristen: USA-Nato.

dan Barack Hussein Obama, presiden Amerika, tanpa rasa malu menyebut para pembantai ini sebagai oposisi moderat dan bukannya teroris !!!

sebagai muslim, saya ikut merasakan sakit menyaksikan penderitaan yang dihadapi saudara-saudara kristen di timur-tengah. Mereka seharusnya tidak terlibat dengan segala kekacauan yang muncul, tapi mereka dipaksa terlibat karena nafsu serakah pemimpin2 USA-Nato.

Nafsu serakah pemimpin neokon USA-Nato, demi melayani kepentingan zionis israel dan menjaga perasaan rezim saudi, sangat berambisi menjatuhkan pemimpin sekuler Timur Tengah. Langkah ini tidak saja membahayakan keselamatan minoritas kristen, tetapi berpotensi menghabisi eksistensi kristen di Timur- Tengah.

Pertama, kita mulai dari Irak. Betapapun diktatornya seorang Saddam Hussein, dia masih menjadi pemimpin terbaik di kawasan yang membendung pengaruh teroris Al-Qaida. George Bush dan Tony Blair yang begitu gencar bernafsu menghabisi AlQaida, malah membuat tuduhan palsu mengenai persenjataan mematikan yang dikembangkan Saddam. Irak diembargo, 500 ribu anak-anak tewas akibat embargo, dan nasib Saddam berakhir di tiang gantungan.

Hasil invasi Bush dan Blair dapat diprediksi. Irak porak poranda di telan perang saudara. Kristen yang aman semasa Saddam, menjadi sasaran kekerasan terencana dan mematikan oleh teroris wahabi ekstrim. Dan salah satu kejadian terburuk adalah pembantaian 60 orang kristen ketika menghadiri misa gereja di Baghdad, Oktober 2010.

Kini nasib kristen semakin tidak jelas di Irak, selepas Isis menguasai banyak kota besar Irak. Sebagian besar dari mereka mengungsi ke negeri asing atau ke kantong2 syiah yang masih aman dari jarahan Isis.

Kedua, Libya. Intervensi USA-Nato dengan no fly zone dan alasan kemanusiaan secara efektif menjatuhkan Moammar Qaddafy dan memberikan nasib libya ketangan para teroris wahabi ekstrim. Pasca jatuhnya Qaddafy, libya ditelan kekerasan tak berujung. Bom bunuh terjadi setiap saat. Sama seperti irak, nasib kristen yang relatif aman dan dilindungi semasa Qaddafy, sekarang menjadi suram. Mereka menjadi pengungsi di negeri asing. Angkanya tidak jelas, karena memang negara neokon USA-Nato tidak peduli dengan nasib mereka. Kekerasan terbaru yang mematikan yang menimpa kristen, terjadi Februari 2015 ketika 21 kristen koptik disembelih oleh ISIS.

Dan sasaran berikutnya adalah Syria..

Inilah Syria, satu2nya negara di timur tengah yang menjadikan hari raya umat kristen sebagai hari libur nasional. Syria juga mengijinkan warganya yg beragama kristen utk pergi ke gereja terlebih dahulu setiap minggu sebelum mereka pergi bekerja.

Inilah syria, dimana anda dapat menemui sebuah tempat yang masih menggunakan bahasa aramic, bahasa asli Yesus as.

Inilah syria, dimana anda dapat melihat masjid dan gereja berdiri berdampingan harmonis tanpa konflik.

Inilah syria, Negara yang konsisten melawan para teroris fundamentalis wahabi ekstrim yang seringkali menjadikam kaum kristen sebagai sasaran.

Apa yang dilakukan para pemimpin neokon barat yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin kristen terhadap syria? Mereka justru menghancurkan syria dan menjadikan syria sebagai penyumbang pengungsi terbesar di dunia.

Saat ini ada sekitar 700 ribu umat kristen syria yang dipaksa menjadi pengungsi. Dibeberapa area yang dikuasai para teroris, mereka dipaksa mengganti agama mereka, membayar uang keamanan atau disembelih. Pilihan yang teramat sulit.

Vladimir Putin, presiden Russia dan satu-satunya pemimpin kristen di dunia, yang datang ke syria untuk menghabisi para teroris serta melindungi nasib kristen syria, secara ironis malah digambarkan sebagai agressor oleh media neokon.

Tiada henti kampanye hitam menyerang Putin. Berbagai cara kotor dilakukan untuk menggagalkan upaya Putin yang berupaya keras membersihkan syria dari kebengisan teroris. Dari memprovokasi Putin melalui tangan jahat turki dengan dijatuhkanya pesawat pembom Russia Su-24, hingga penurunan pasukan USA di wilayah syria utara yang sejatinya melindungi para teroris.

Tapi ada satu hal yang cukup membesarkan hati saya. Saat ini, terdapat peningkatan kesadaran masyarakat eropa mengenai standard ganda pemimpin-pemimpin eropa. Yang terbaru adalah penolakan besar2an masyarakat inggris tentang rencana pengeboman Inggris ke kantong-kantong syria. Bagi masyarakat inggris, keterlibatan inggris di syria, tidak saja membahayakan nyawa masyarakat sipil di inggris, tetapi lebih dari itu, mereka justru meragukan komitmen pemerintah Inggris dalam kampanye perang melawan teroris.

Saya teringat, ada seeorang pembaca russian todays, mengaku kristen menulis sebuah kalimat: “Saya lelah melihat kemunafikan Obama dan pemimpin eropa. Saya melihat tentara-tentara syria yang berusia sangat muda, dan jelas mereka seorang muslim, mengorbankan jiwanya hanya untuk melindungi masyarakat kristen, melindungi kota kristen maloula dan kessab dan merenovsi banyak gereja yang dihancurkan para teroris. Dan saya merasa sakit, melihat koalisi USA justru membom tentara SAA”

Sebagaimana kesadaran pembaca kristen di russian todays, saya berharap, kesadaran masyarakat kristen eropa dan USA akan bangkit secara nyata. Karena hanya merekalah yang saat ini yang mampu menghentikan keserakahan nafsu para pemimpin neokon USA-Nato yang ingin menghancurkan dunia. Saya bermimpi, melihat masyarakat eropan dan USA memenuhi setiap sudut jalan di new york, washington, paris, madrid, london, dan berlin. Dan lalu berteriak kencang bersama-sama: “Cukup sudah kalian menghancurkan kemanusiaan di afghanistan, libya dan Irak. Jangan kalian hancurkan lagi syria”

Setidaknya, jika mereka melakukan itu bukan karena alasan kemanusiaan, saya harap mereka mau melakukan itu sebagai persaudaraan sesama pengikut kristiani.

Karena satu hal yang bisa saya pastikan, jika Bashar Assad jatuh dan Irak dikuasai ISIS maka tidak ada yang mencegah para teroris wahabi ekstrim menghabisi eksistensi kristen di syria dan irak.

Bagaimana dengan Indonesia?
Apa yang bisa kita ambil dari pelajaran di syria-Iraq?

Momentum Natal 2015 dan Mawlid Nabi Muhammad SAW yang kebetulan jatuh hampir bersamaan pada tahun ini, semoga meningkatkan kesadaran dibenak kita bahwa perang, apapun motivasinya, akan menjadi sangat dahsyat dan mematikan jika dibumbui faktor sektarian.

Perang syria-iraq yang sejatinya adalah perang karena alasan politik dan ekonomi, yang kemudian ditarik menjadi perang sektarian, isu sunni-syiah, dan isu kekhalifahan.

Episode syria-irak, mengajarkan satu hal, dimata para politikus dan kaum neokon, agama semua orang sama. Mereka tidak peduli agama anda. Nyawa hanyalah angka-angka. Faktanya, kita melihat disana, muslim justru dibunuh oleh muslim dan kisten dibunuh oleh kristen.

Episode syria-irak juga mengajarkan kepada kita bahwa ekstrimisme dan radikalisme atas nama agama, adalah tentara yang paling efektif dan paling mematikan dalam menghancurkan kemanusiaan dan peradaban.

Di syria dan irak, saya melihat pemandangan yang begitu indah, ketika tentara2 muslim sunni-syiah dan kristen bersatu membela tanah air melawan musuh yang sama: teroris wahabi ekstrim.

Sebagaimana rakyat syria-irak yang berjuang membela tanah-airnya, Semoga muslim dan kristiani di indonesia, dapat mengambil palajaran, bahwa membela Tanah air adalah kewajiban dan NKRI adalah harga mati!

Jangan biarkan kedamaian Indonesia direnggut secara paksa oleh kaum radikalis ekstrimis. Dengan alasan apapun.

Sumber :

  1. Over 60 churches and monasteries destroyed in Syria
  2. The Battle of Maaloula in the Land of Jesus: US Sponsored Rebels Destroy Syria Christian Heritage
  3. Maloula destroyed by Militant after Assad drive rebels out
  4. Dispatch: Syria rebels ‘burned down churches and destroyed Christian graves’ in Kessab
  5. Baghdad Church Massacre
  6. 2015 kidnapping and beheading of Copts in Libya
Advertisements