Kemajuan Kampanye Militer Putin di Syria, Pusingkan Koalisi USA

Lebih dari 13 bulan koalisi USA membombardir militan pemberontak di syria dan Irak. Koalisi USA melakukan 9000 serangan mendadak selama kampanye militernya.

Hasilnya: ISIS malah mengusai provinsi Anbar Irak, Mosul Irak,  Palmyra Syria, Yarmouk Syria, sebagian Aleppo dan banyak pedesaan Syria. Belum lagi kemajuan faksi teroris syria lainnya di banyak kota syria.

Padahal, ketika USA menyerbu Irak, USA melakukan 9000 serangan mendadak hanya dalam waktu 48 jam. Dan hanya dalam tempo 2 minggu, pasukan koalisi USA sudah sampai didepan gerbang istana Saddam di Baghdad.

Dan jika sampai hari ini masih banyak simpatisan teroris mengkhayal betapa hebatnya para teroris wahhabi dalam melawan koalisi USA, saya cuma bisa bilang: Fuck!

Kalian mungkin bisa membodohi makhluk-makhluk cingkrang otak, tapi jangan coba-coba bodohi kami. Idola kalian -para teroris wahabi- tidak sehebat yang kalian pikirkan, dan jika bukan karena dukungan tanpa batas Turki, Saudi, Qatar, USA dan Nato, maka sejak lama tentara arab Syria dapat mengusir bahkan menghabisi para teroris.

Dan kebohongan kampanye militer USA dan dukungan diam-diam kepada para teroris mulai terekspose ketika Russia memulai operasi militer di syria, 30-september-2015.

Hanya dalam waktu sebulan, tentara Arab Syria (SAA) dibantu Hezbollah dapat mengambil kembali wilayah syria seluas 500 km2. Dan 3 bulan setelah kampanye militer Russia, SAA dan hezbollah dapat merebut Homs sepenuhnya, membebaskan kuwaeres yg telah dikepung teroris wahabi selama lebih dari 2 tahun, membebaskan banyak desa di selatan dan barat aleppo (dan hanya soal waktu utk merengsek hingga kota Aleppo), membebaskan banyak kota di syria utara yg berbatasan dengan Turki, Lattakia hampir bebas sepenuhnya dan mengalami banyak kemajuan di Damaskus Timur, Daraa, Idlieb, Hama dan Palmyra.

Dan jika Russia, SAA dan hezbollah dapat menjaga momentum ini, paling tidak sampai pertengahan tahun depan, mereka dan rakyat syria dapat mengusir para teroris wahabi  dari bumi tercinta Syria. Allahu Akbar! Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad.

Amerika tahu hal ini, Obama tahu hal ini, Kerry mengetahui dengan jelas fakta ini dan para Elite Amerika yang mengendalikan perang syria, juga tahu hal ini.

Karena itu, mereka tergopoh-gopoh mendatangi Putin meminta gencatan senjata untuk menyelamatkan para teroris wahabi dukungannya. Sangat aneh jika Amerika meminta gencatan senjata, sementara yang sedang Russia dan Syria perangi adalah para teroris dan bukannya sebuah negara. Kecuali karena alasan Amerika mengkuatirkan kekalahan para teroris binaanya, maka tidak alasan lainnya.

Untuk itu, saya sertakan artikel dari Mike Whitney, seorang kontributor “AK-Press” dan berbasis di Washington. Mike Whitney dengan sangat bagus membongkar motif sebenarnya Kerry dan pemerintahan Obama ketika menemui Putin.

Selamat menikmati!

Kemajuan Kampanye Militer Putin di Syria, Pusingkan Koalisi USA
oleh : MIKE WHITNEY

kerryputinmoscow-510x321

Sangat luar biasa bahwa pemimpin Barat hanya ingat mengenai gencatan senjata ketika para teroris (wahhabi) kehilangan banyak wilayah (di syria). Kenapa mereka tidak membawa perdamaian di tanah syria sebelum operasi militer Russia dimulai?

-Iyad Khuder, analyst politik Damaskus

Bayangkan jika rakyat Amarika memilih presiden yang jauh lebih buruk dari George W Bush atau Barack Obama. Seorang diktator tulen. Apakah hal tersebut cukup untuk menjustifikasi bagi seseorang seperti Vladimir Putin mempersenjantai dan melatih para tentara bayaran Kanada dan Meksiko untuk menginvasi Amerika, membunuh rakyat sipil, menghancurkan kota dan infrastrukture, menguasai ladang minyak dan pipa gas, menyembelih pegawai pemerintahan dan para tawanan yang ditangkap, mendeklarasikan negara sendiri dan melakukan segala cara untuk menjatuhkan presiden terpilih?

Tentu tidak, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan bodoh. Tidak peduli seberapa buruknya presiden Amerika, itu bukanlah alasan untuk menginvansi amerika menggunakan tentara bayaran asing. Dan ya, kebijakan bodoh itulah yang dipertahankan John Kerry, sekretaris Negara USA, didepan sidang PBB jumat 18-Desember-2015. Dengan alasan omong kosong “Jalan menuju perdamaian”, Kerry diam-diam mempertahankan kebijakan USA di syria yang menyebabkan kematian lebih dari 250 ribu rakyat syria dan menghancurkan negara syria.

Dan ingat, Kerry tidak membawa kasus ini ke Sidang PBB karena Amerika serius untuk mencapai perdamaian. Itu omong kosong. Apa yang Kerry inginkan adalah sebuah resolusi yang dapat melindungi para teroris wahhabi dari kekalahan akibat gempuran Russia. Pemerintahan Obama melihat dengan jelas akan kekalahan para teroris wahhabi dukungannya dan kemenangan Russia, jadi mereka berupaya merancang rencana untuk melindungi para teroris dilapangan. Karena itu mereka begitu ngotot untuk meminta gencatan senjata. Itulah alasan kenapa Kerry menginginkan “Perpanjangan waktu” agar diantara para teroris wahabi yang bertikai dapat bersatu membentuk group yang lebih kuat atau mundur.

Mari kita lihat ringkasan keputusan PBB dan anda akan melihat maksud dari keinginan Kerry:

Resolusi pertama akan memfokuskan pada upaya politik untuk mengakhiri perang yang telah berjalan selama 5 tahun, maka Dewan Keamanan hari ini akan memberikan peran lebih kepada PBB untuk mengawal pihak oposisi berunding mengenai transisi politik, penjadwalan gencatan senjata, konstitusi baru dan pemilu dibawah naungan PBB.

(Dewan Keamanan) mengakui hubungan erat antara gencatan senjata dan proses politik secara paralel, dan memberlakukan sesegera mungkin bagi semua pihak untuk memulai langkah awal menuju transisi politik di bawah naungan PBB

Resolusi itu meminta kepada Ban Ki-Moon melalui kantor Utusan Khusus, Staffan de Mistura, untuk menentukan segala hal yang berkaitan dengan gencatan senjata dan rencana untuk mendukung pelaksanaannya, sementara mendesak negara-negara anggota, khususnya anggota ISSG, untuk mempercepat semua upaya untuk mencapai gencatan senjata , termasuk menekan semua pihak yang terkait untuk mematuhinya.

[baca : Dewan Keamann berikan peran lebih kepada PBB]

Untuk memastikan keperluan monitoring gencatan senjata dan mekanismenya, Dewan akan meminta Ban Ki-Moon untuk melaporkan kembali hasil opsi tersebut dalam satu bulan dan meminta negara2 anggota untuk memberikan ‘pengalamannya sebagai bentuk kontribusi’ untuk mendukung mekanisme tersebut’. “

Lihat apa yang saya maksudkan: gencatan senjata, gencatan senjata dan gencatan senjata. Semuanya tentang gencatan senjata. Kerry ingin gencatan senjata. Obama ingin gencatan senjata. Pihak Elite Amerika Serikat ingin gencatan senjata. Bukan, bukan neokon, bukan intervensi liberal dan bukan petualang politik seperti Ash Carter di Pentagon, tapi sejumlah Elite puncak (the Elite) -yang mengendalikan amerika- yang sejak awal merancang krisis syria  dan mengetahui ke arah mana krisis akan berjalan. Mereka sekarang beralih ke plan B yang mana mereka fokus menekan kerugian akibat kalah perang dan menyelamatkan sebanyak mungkin para teroris yang mereka dukung. Biasanya, mereka yang mendanai, mempersenjatai, melatih dan mengirim para teroris wahhabi akan merasa bertanggung jawab akan keselematan mereka sehingga para Elite akan melakukan apapun yang dirasa perlu untuk menyelamatkan mereka.

Itulah kenapa ada Kerry. Tugas Kerry adalah terbang menuju Moskow, memberitahu Putin bahwa Obama mengubah pendiriannya mengenai perubahan Rezim (Syria) dan membawa hasil pertemuan dengan pihak Kremlin ke dewan PBB. Tujuan utama semua kebohongan ini adalah menggalang dukungan internasional untuk menjadikan kelompok teroris wahhabi sebagai “oposisi moderat” dan bergerak ke arah gencatan senjata dibawah mandat PBB yang dapat menghentikan serangan Rusia terhadap para teroris!

Tapi bukankah itu yang diinginkan semua orang, mengakhiri permusuhan?

Sama sekali tidak. Perang melawan teroris sangat berbeda dengan perang antar negara atau perang saudara. Sebuah kelompok teroris seperti Jabhat al-Nusra atau Ahrar al-Sham, misalnya, tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama sebagaimana mempelakukan oposan politik. Mereka adalah kaum fanatik agama yang bertekad mendirikan kekhalifahan dengan menggunakan segala cara. Kita tidak bisa berdialog dengan para teroris seperti ini; mereka harus ditangkap atau dilenyapkan. Inilah yang Rusia sedang lakukan. Rusia sedang melakukan pembersihan secara progresif dari ancaman teroris di Syria yang beresiko mengancam kepentingan Russia dan kepentingan sekutu Russia – Iran, Hezbolah dan Tentara Arab Syria.

Apa yang Kerry lakukan adalah sebuah bentuk kampanye untuk menggagalkan dan menghambat kemajuan anti-teror yang dikomandoi Rusia. Dan Kerry bersedia berbohong untuk melakukannya.

Inilah yang Kerry katakan di Moskow, Selasa 16-Desember-2015:

“Saya tekankan sekarang bahwa Amerika Serikat dan sekutu kami tidak menginginkan apa yang disebut perubahan Rezim (Syria)”

Dan persis sehari setelahnya, Kerry mengulang kembali perubahan dramatis dari kebijakan Obama:

“Kita tidak mencoba melakukan perubahan rezim. Kita tidak terlibat dalam revolusi berwarna (Syria). Kita tidak sedang mencoba mengintervensi negara lain. Kita sedang mencoba membuat perdamaian”

Okay, sampai disini apakah Amerika benar-benar tulus mengenai Syria?

Tidak. Kerry berbohong seperti biasanya. 24 jam kemudian, terjadi perubahan dramatis dalam kata-kata Kerry:

Rusia tidak dapat menghentikan perang bersama Assad karena Assad adalah alasan semua pejuang asing datang (ke Syria). Assad adalah magnet para teroris karena mereka datang untuk memerangi Assad. Jadi jika kalian ingin menghentikan perang di Syria dan kita juga, jika kalian ingin memerangi Isis dan menghentikan berkembangnya teroris, anda harus menyelesaikan masalah terkait Assad. Itu tidak berarti kita ingin mengganti semua aspek dari pemerintahan (Syria)

[baca: USA tidak meminta perubahan rezim Syria tapi Assad harus pergi]

Dapat idenya? Jadi, Amerika tidak mendukung perubahan rezim Syria tetapi pada saat yang sama bersikukuh dengan pendapat: Assad harus pergi.

Kemunafikan yang luar biasa.

Kebenarannya adalah tujuan pemerintahan Obama hanyalah menjatuhkan Assad. Kerry berniat membohongi Putin, mendapatkan persetujuannya dan membawa hasilnya untuk mendukung resolusi bodohnya di PBB. Dan sebagai hasilnya, nama Assad tidak pernah disebutkan sekalipun dalam semua resolusi. Kerry berpikir bahwa ini adalah kemenangan besar bagi Amerika Serikat. Tapi itu bukan kemenangan. Faktanya, semua permintaan Russia dikabulkan melalui resolusi PBB nomer 2254 yang berisi semua permintaan Putin yang pernah diajukan pada Komunike Genewa 2012.

Assad tidak pernah disebut dalam resolusi 2254 karena penyebutan nama presiden  tidak diperlukan untuk menetapkan kondisi:

1. pemerintahan transisi
2. pembentukan konstitusi baru dan negara sekuler syria
3. pemilu yang bebas dan adil untuk memastikan rakyat Syria dapat mengontrol masa depan mereka sediri.

Pada 2012, pemerintah USA menolak semua kondisi ini kecuali Assad dikeluarkan dari partisipasi dalam pemerintahan transisi. Sekarang USA mengubah posisinya terhadap Assad yang berarti semua permintaan Moskow telah disetujui. Resolusi 2254 merupakan bentuk kapitulasi pemerintahan USA. Ini adalah kekalahan diplomatik memalukan yang tidak ada satupun orang di media bersedia mengakui.

Jadi apa yang Kerry dapatkan dengan semua kebohongan dan manuver liciknya?

Tidak ada. Bahkan, ia menyerahkan semua yang dia punya dengan membuat sejumlah konsesi demi mendapatkan dukungan Russia.

Apa “konsesi” yang kita bicarakan?

Berikut adalah daftar singkat-nya:

Kerry bertemu dengan Putin di Moskow pada 15 Desember 2015. Pada tanggal 16 Desember, IMF memutuskan mendukung Rusia atas klaimnya sebesar $3 milyar melawan Ukraina:

“Dewan eksekutif IMF telah mengakui bahwa utang Ukraina sebesar $3 milyar kepada Rusia adalah sah dan diakui”

“Dalam kasus Eurobond, pemerintah Rusia secara resmi mewakili kasus ini. Informasi yang tersedia mengenai  sejarah klaim ini, mendukung tuntutan (russia)”

[baca: IMF akui Ukraina utang $3 milyar kepada Russia]

Syarat apa saja yang anda pikir harus dipenuhi Washington agar tercapai kesepakan ini?

Masih tanggal 16-Desember-2015, pemerintah USA mengumumkan bahwa mereka menarik pesawat F-15 dari pangkalan Turki dengan segera. Cerita seperti ini  :

12 pesawat tempur F-15 yang sejatinya di kirim ke pangkalan militer Incirlik Turki untuk menjaga wilayah udara Turki, tiba-tiba ditarik kembali menuju Inggris. Pemindahan pesawat tempur tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik dan negosiasi militer di wilayah tersebut dengan Rusia.

Sehari sebelum penarikan pesawat tempur F-15, Kerry berada di Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York pada hari jumatnya mengenai Suriah dan upaya USA untuk keluar dari masalah Presiden Bashar al-Assad.

[baca : Angkatan Udara USA mulai tarik pesawat tempur F-15 dari Turki]

Kebetulan lain?

Sepertinya tidak.

Lalu ada ini: Pada tanggal 17 Desember, Obama mengijinkan tuntutan Rusia untuk meng-golkan resolusi PBB yang mengungkap rahasia pendanaan ISIS dan “memperkuat langkah hukum terhadap mereka yang melakukan bisnis dengan kelompok teroris”. Menurut RT.com :

Resolusi ini merupakan upaya bersama USA dan Russia yang keduanya memimpin kampanye anti-ISIS di syria. Kata kunci dari resolusi ini adalah “membuat kerangka untuk mengungkap dan menggagalkan upaya-upaya ilegal dalam rangka membantu pendanaan ISIS dan kelompok teroris terkait, melalui perdagangan minyak, artefak sejarah dan sumber-sumber ilegal lainya”

Resolusi tersebut disebutkan dalam piagam PBB pasal VII dan bersifat mendesak segera serta meminta kepada anggotanya “untuk bergerak dengan penuh semangat dan tegas untuk memotong aliran dana ISIS”.

[baca: Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menerima resolusi yang menargetkan keuangan ISIS]

Tapi apakah resolusi tersebut benar-benar diinginkan Obama, untuk mengekpose aliran keuangan ISIS dan para teroris lainya dan yang jelas-jelas mendapatkan dukungan utama dari sekutu utama Washington di Teluk (turki, qatar dan saudi)?

Jelas tidak. Kerry berharap dengan dukungannya terhadap resolusi tersebut akan membantunya mengadakan gencatan senjata (dan mendapat persetujuan Russia).

Akhirnya, pada tanggal 18-Desember-2015, Obama memberi tahu Erdogan agar dia menarik tentaranya dan tank dari wilayah Irak:

Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mendesak sekutunya Turki, Erdogan, untuk menarik dengan segera para tentaranya dari wilayah Irak dan menghormati kedaulatan negara Irak. Pada percakapan telepon hari Jumat, Obama mendesak Erdogan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menurunkan tensi tegangan dengan Irak termasuk penarikan pasukan militer Turki

Obama juga meminta kepada Erdogan untuk menghormati kedaulatan dan intergritas territorial Irak

300 kontingen Turki yang didukung 20-25 tank telah ditempatkan di pinggiran Mosul, ibu kota propinsi Nineveh, 4-December-2015.

[baca : Obama meminta Erdogan menarikan pasukannya dari Irak]

Dengan lain kata, sejak pendudukan Turki tanggal 4-Desember-2015, Obama tidak pernah merespons-nya sampai 2 hari setelah pembicaraan Kerry dengan Putin di Moskow.

Kebetulan lain?

Mungkin tidak. Disetiap peristiwa, USA selalu melakukan upaya serius untuk membujuk Putin menyetujui usulan Kerry di dewan Keamanan PBB (catatan: Obama mengetahui sebelumnya rencana Turki untuk menyerang Irak, faktanya: pejabat penting Turki mengkonfirmasi klaim ini dengan mengatakan bahwa semua negara yang relevan telah diberitahu tentang penyebaran pasukan. lihat disini)

Seperti yang saya katakan sebelumnya: Kerry memberikan apapun yang dia punya demi tercapainya kesepakatan yang tidak memiliki dampak apapun terhadap hasil akhir perang. Hal yang tragis, mengingat segala upaya kebohongan diplomatik (yang dilakukan Kerry) tapi tidak mengubah apapun. Masa depan Syria akan tetap diputuskan di medan laga dan tidak di PBB atau meja perundingan. Washington sejak lama telah memilih opsi penggunaan kekuatan senjata untuk mencapai ambisi geopolitiknya. Dan sekarang para oposan terorganisir (koalisi Rusia) telah muncul yang secara terbuka menantang proxy yang didukung AS dan meninggalkan Washington dengan hanya dua pilihan: melawan atau mundur.

Tetapi, bukankah hasilnya selalu seperti itu? Jika anda mendesak seseorang sedemikian rupa, maka mereka akan mendesak anda kembali.

Artikel asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca disini

Erdogan, Ikhwanul Muslimin dan Ambisi Kekuasaan

Erdogan, Ikhwanul Muslimin dan Ambisi Kekuasaan
oleh : Subbhan A, blogger

sharon-and-erdogan-jerusalem-1-may-2005-55bef1d812977305050abbf5

Selepas pesawat Russia Bomber SU-24 ditembak pesawat Fighter F16 Turki ada tanggal 24-November-2015, dengan nada marah Putin berkata:

Turki telah menusuk kami dari belakang. Kami pikir turki adalah teman kami, ternyata mereka tidak lebih dari kaki tangan para teroria (ISIS).

Entah mengapa saya tidak kaget. Sejak kampanye militer Russia di syria 30-Sep-2015 di syria, hanya soal waktu bagi Turki untuk memukul Russia dari belakang. Erdogan adalah presiden yang berasal dari partai AKP. Dan AKP merupakan kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin. Dan Ikhwanul Muslimin, memiliki sejarah panjang dalam pengkhianatan dan kekerasan.

Didirikan pada tahun 1928 di Mesir oleh Syaikh Hasan AlBanna, Ikhwanul Muslimin justru terlibat serangkaian kekerasan yg berujung pada pembunuhan PM Fahmy Nokhrasy tahun 1948. Tidak cukup dengan itu, Ikhwanul Muslimin juga terlibat percobaan pembunuhan terhadap Presiden Gamal Abdel Nasser pada tahun 1954, yang berujung pada penangkapan besar-besaran anggota IM. Banyak anggota IM yang terusir dari Mesir dan mencoba peruntungan di luar negeri.

Tidak beda dengan di Mesir, Ikhwanul Muslimin Syria memiliki kegemaran yang sama. Ikhwanul muslimin Syria melakukan serangkaian kekerasan demi kekerasan dalam rangka memberontak kepada pemerintah sah syria sejak 1976 hingga berakhir dalam dalam pembantaian Hama Februari 1982. Milisi ikhwanul muslimin menyerbu gedung pemerintahan di Hama, menguasai kantor polisi dan barak militer, membunuh rakyat sipil, yang kemudian dibalas dengan pengepungan kota oleh loyalis Pemerintahan. Lebih dari 20 ribu milisi ikhwanul muslimin dihabisi pasukan Hafeez Assad.

Pengkhianatan Ikhwanul Muslimik syria tidak berhenti sampai disini. Hamas, organisasi perlawanan Palestina yang berdiri pada medio 1980-an, dan berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin, ditolak di banyak negara arab. Mereka di tolak di turki, qatar, saudi, jordan dan bahkan Mesir. Negara-negara tersebut menolak Hamas dengan alasan sederhana, karena tekanan Israel yang merupakan musuh tradisional Hamas. Tidak ada yang mau menerima Hamas kecuali Syria.

Apa yang dilakukan Hamas kepada Syria?

“Mereka telah mengkhianati Syria berkali-kali” kata Bashar Asaad. Alih-alih membela Syria yang dikepung teroris wahhabi dari 140 negara di seluruh dunia, Hamas malah mengangkat senjata melawan rakyat Syria yang berakhir kepada pengusiran Hamas dari Damascus. Pejabat2 Hamas sangat beruntung hanya diusir dari Syria, seharusnya mereka juga dihabisi seperti pendahulu2 mereka di Mesir maupun Hama, atas pengkhianatan mereka.

Ambisi kekuasaan Ikhwanul Muslimin

Kenekataan Turki menembak pesawat Russia tidak lain karena ambisi Erdogan membentuk kembali apa yang disebut dengan kekaisaran Ottoman Turki yang meliputi wilayah syria dan irak utara. Hal tersebut dapat dirunut kembali pada satu kejadian September-2012.

Kongres partai AKP Turki yang dilaksanakan September-2012, dihadiri para tamu istimewa: Khaled Meshal pempimpin Hamas, Mohammad Morsi pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir sekaligus presiden Mesir, Rashi al-Ghannusi pemimpin partai Ennahda yang memenangi pemilu Tunisia dan Tariq al-Hashimi pemimpin Ikhwanul Muslimin Irak. Dengan kekuatan ikhwanul Muslimin yang membentang dari Tunisia ke Turki, dalam pikiran Erdogan, sepertinya hanya hitungan bulan bagi rezim Syria, Bashar Assad untuk jatuh ketangan Turki.

Erdogan, sebelumnya, bahkan berani sesumbar dalam pidatonya didepan petinggi partai AKP, 5-Augustus-2012, ketika mengecam ketua partai Republik Rakyat yang berani mengkritisi kebijakan Erdogan di Syria:

Partai Republik Rakyat (partai oposisi Turki) tidak akan berani pergi ke Damaskus. Tetapi kita akan kesana dalam waktu dekat, insyaAllah, dan merangkul saudara-saudara kita. Hari-hari kememangan sudah dekat. Kita bahkan dapat melaksanakan sholat disamping makam Salahuddin Al-Ayyubi dan di dalam masjid Umayya. Dan kita akan dengan bebas mendoakan saudara-saudara kita Ikhwanul Muslim di stasiun Kereta Api Hejaz.

Kita adalah keturunan kaisar Ottomman, tuan Kilicdaroglu (ketua Partai Republik Rakyat). Ijinkan saya bertanya, keturunan siapakan anda? “

Kemudian dalam kongres partai AKP, satu persatu tamu yang hadir memenuhi podium dengan puja-puji kepada Erdogan. Meshal menyebut Erdogan sebagai pemimpin dunia Islam. Dan Erdoğan meyakini bahwa pada akhirnya Turki akan mewujudkan cita-citanya untuk kembali menguasai panggung dunia dan mewujudkan kekhalifahan Islam dalam satu negara.

Tetapi dua tahun kemudian, semua impian Erdogan runtuh. Ikhwanul Muslimin Mesir dirontokkan rakyat mesir dan Morsi menanti hukuman mati atas kejahatannya. Partai Ennahda kalah dalam pemilu Tunisia. Al-Hashimi, sekutu utama Turki di Irak, malah lari dari Irak dan mengungsi ke Turki.

Dengan demikian, mimpi Erdogam untuk menyatukan gerakan Ikhwanul Muslimin dari Tunisia, Libya, Turki, Syria, dan Irak Utara hanya tinggal 2 pemain : AKP dan Hamas. Mimpi Erdogan untuk memujudkan kekhalifahan ikhwanul Muslimin pun menemui jalan buntu. Paling tidak untuk saat ini. Penerbangan Turki menuju Libya dibatalkan setelah pemerintahan Libya di Tobruk mengancam akan menjatuhkan setiap pesawat Turki. Hubungam Turki dengan Mesir, Syria dan Irak juga memanas setelah Turki terbukti secara meyakinkan mendukung para teroris wahhabi bahkan mendukung ISIS. Alih-alih mewujudkan impiannya sholat di masjid Umayya Syria, Turki sekarang malah disibukkan dengan 2 juta pengungsi syria. Belum lagi kemarahan Russia kepada Turki dan dukungan Russia serta Syria kepada separatis Kurdi di syria Utara, mengancam Turki dalam perang saudara.

Dan seperti biasanya, daripada melakukan intropeksi diri, Erdogan lebih senang menuduh Iran, Arab Saudi dan Barat sebagai penyebab kegagalan Turki mencapai impiannya. Kebijakan sectarian yang dianut Iran, menurut Erdogan, adalah penyebab kerusuhan di Syria dan Irak, walaupun faktanya Turki malah mengijinkan negaranya sebagai transit para teroris untuk membanjiri Syria Irak. Turki juga menuduh Arab Saudi dan negara2 teluk turut andil dalam menghancurkan gerakan Ikhwanul Muslimin di berbagai kawasan Timur Tengah. Dan terakhir, Turki mengecam kemunafikan barat yang mendukung pelengseran Morsi dari jabatan Presiden Mesir sementara tidak berupaya keras untuk meruntuhkan kekuasaan Bashar Assad di Syria. Menurut kacamata Erdogan, kecuali Turki-Qatar-Hamas, semua negara adalah munafik dan bertindak diluar batas.

Sementara itu, Erdogan menggambarkan dirinya yang berkuasa di Turki selama 13 tahun, telah menjadikan Turki sebagai negara demokrasi. Walaupun kenyataanya, indeks kebebasan pers Turki menduduki peringkat 154 dari 180 negara. Penegakkan hukum juga ditiadakan, tuduhan korupsi yang dilakukan para kroni Erdogan ditutup-tutupi, dan Turki perlahan-lahan berubah menjadi negara otoriter tunggal yang menggunakan polisi dan badan intelejen untuk menahan oposan.

Apapun itu, pasca Turki menantang Russia dan terekspose-nya dukungan Turki kepada ISIS dan faksi teroris di syria-irak, kini nasib Turki berada di tangan barat. Kita akan mengetahui segera.

Masih berpikir Edogan memperjuangkan Islam?

sumber :
1. Erdogan bersumpah akan sholat di masjid Umayya Damaskus
2. Bashar Assad : Hamas mengkhianati kami berkali-kali
3. Pemberontakan Hama 1982
4. Sejarah Ikhwanul Muslimin
5. Indeks Kebebasan Pers

Membaca Ulang Farag Fouda

Membaca Ulang Farag Fouda
oleh : Subbhan A, blogger

kebenaran yang hilang
Setelah 20 tahun, saya akhirnya bertemu kembali kawan dekat saya semasa SMA. Dia dulu pemalu tapi cerdas. Dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga NU bahkan semasa SMP dia dibesarkan dalam pondok pesantren.

Yang kemudian mengagetkan (dan mengecewakan) adalah, dia tiba-tiba mengaku menjadi aktivis Hizbut-tahrir. Seperti yang kemudian diduga, kami terlibat perdebatan intens tentang topik syariat islam dan kekhalifahan. Ini adalah kesekian kali saya berdebat dengan kawan HTI. Mungkin karena itu saya begitu percaya diri.

Tetapi tidak ada argumen baru dari kawan saya karena semuanya adalah pengulangan dari argumen-argumen kawan2 saya HTI yang lain. Argumen saya pun sama, tidak ada hal baru dan juga merupakan pengulangan  karena saya selalu mendapatkan jawaban yg sama. Mungkin karena kawan-kawan HT sudah terindoktrinasi sedemikian rupa. Mereka seperti robot, hanya menjawab sesuai script program yang ditanamkan kepada mereka.

Dan seperti aktivis HTI saya lainnya, kawan saya sangat mengidolakan khalifah. Seakan-akan kekhalifahan adalah produk sejarah tanpa cacat dan tanpa cela. Rumusnya sederhana, apapun masalahnya, khalifah solusinya.

Dan gara-gara berdebat dengan kawan HTI saya, saya tiba-tiba ingat Farag Fouda dengan karya monumentalnya: Kebenaran yang Hilang. Farag Fouda adalah amunisi yang pas untuk melawan para aktivis HTI. Mengingat topik yang dibahas Fouda adalah sejarah gelap khalifah dan sisi manusiawi dari para khalifah. Dan karenanya, kita perlu membaca ulang Farag Fouda.

Fouda adalah seorang penggiat hak asasi manusia, liberalis dan pemikir Mesir. Sesuai spesalisnya, mudah diduga jika Fouda tidak mendapatkan nama harum dikalangan islamist termasuk HTI, karena sasaran kritik Fouda justru kekhilafahan yang menjadi pijakan dan kebanggaan golongan islamist.

Fouda adalah raja satir dan ironi, kata Syamsu Riza Panggabean dalam pengantar Fouda. Fouda dihukumi murtad oleh universitas islam paling terkemuka di mesir, Al-Azhar. Darahnya dihalalkan, dan artinya Fouda layak dihukum mati. Beliau dihukum mati, dengan alasan, Fouda menghina teks sejarah tentang khalifah dan karena itu dianggap menghina islam.

Padahal, ketika menggambarkan sejarah gelap kekhalifahan, Fouda tidak mengambil argumennya  dari kaum orientalis barat atau pemikir non-muslim. Semua argumen Fouda juga tidak bersumber dari imajinasinya atau pemikirannya. Seperti yang dikatakan Fouda, semua argumen-nya justru diambil dari sumber otentik islam sendiri, dari Thabari sampai Ya’kubi, dari Ibnu Katsir sampai Assuyuti. Sangat aneh, jika Fouda yang mengutip dari sejarawan islam dan dihukumi murtad, sedangkan sumber islam sendiri yang jadi pijakan Fouda, malah diagungkan.

Membaca ulang Fouda tidak saja penting tetapi juga faktual. Penting ditengah maraknya organisasi trans-nasional yang gemar mengafirkan dan berniat mengubah NKRI menjadi negara khalifah yang berpotensi menghancurkan keragaman Indonesia. Dan tetap faktual karena isu syariat islam dan kekhalifahan seperti tidak lekang di hantam waktu di tengah isu sektarian yang mengeras di berbagai belahan dunia.

Bila kaum islamist menganggap periode salaf terutama khulafaur rasyidin sebagai masa keemasan, maka bagi Fouda tidak. Bagi Fouda, seperti yang ditulis Syamsu Riza Panggabean, zaman itu zaman biasa. Bahkan banyak jejak memalukan.

Contoh paling tajam yang dikemukakan Fouda adalah masa Utsman Bin Affan ra. Utsman yang memerintah selama 12 tahun, akhirnya bernasib tragis. Beliau dibunuh. Dan pembunuhnya bukan orang murtad, bukan majusi dan bukan pula kaum kafir. Pembunuhnya justru orang islam sendiri. Sejarawan Thabari menceritakan bahwa salah satu pembunuh Utsman  malah anak Abu Bakar sahabat karib Utsman yaitu Muhammad bin Abu Bakar saudara kandung Aisyah ra.

Mereka tak sekedar membunuh Utsman. Jenazahnya bertahan dan tidak dikubur selama 3 malam. Ketika mayat hendak disemayamkan, siapaun dilarang men-sholatinya. Bahkan jenazahnya diludahi dan persendiannya di patahkan. Karena ditolah para pemberontak untuk disemayamkan dipekuburan islam, jenazahnya terpaksa di pekuburan Yahudi.

Kaum islamist tak pernah menceritakan kisan pilu ini. Dan tentu saja peristiwa terbunuhnya Utsman, menggambarkan bahwa ada satu hal yang kurang dalam praktek kekhalifahan: tidak ada aturan untuk mencegah para khalifah dari penyelewengan dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.

Utsman sendiri berkali-kali menolak turun tahta walau banyak masyarakat madinah meminta beliau turun karena kurangnya kepercayaan dan karena tuduhan menyeleweng. “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju yang disematkan Allah kepadaku”, kata Utsman. Masyarakat islam menemui jalan buntu. Para pemuka islam mencari kaidah dari masa lalu untuk memecahkan masalah suksesi. Mereka juga mencari dari kaidah islam. Tapi mereka gagal, tulis Fouda. Dan akhirnya masyarakat islam mengepung Utsman dan membunuhnya.

Tidak lupa Fouda menunjukkan contoh-contoh penyelewangan para khalifah setelahnya, penindasan terhadap para ulama oposan dan menggunakan ulama untuk justifikasi kekuasaan absolut dan korup. Diceritakan Fouda, khalifah kesembilan Umayyah, Yazid bin Abdul Malik malah gemar mengumbar nafsu, dan puluhan ulama mengeluarkan fatwa bahwa Yazid tidak akan diadili di hari kiamat dan tidak diazab.

Dalam fikih siyasah disebutkan bahwa para khalifah haruslah dari suku Qurays. Fouda menilai hadits ini tidak lebih bentuk justifikasi terhadap kekuasaan dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Terhadap islamist yang bercita2 menegakkan kekhalifahan dan menggunakan hadits ini sebagai sebagai syarat khalifah, dengan nada satir Fouda menulis:

Ada baiknya mereka yang mendukung konsep khilafah dijaman modern ini menunjukkan kepada kita bagaimana cara kita menentukan nasab. Siapa tahu kita adalah termasuk suku Quraisy tanpa sengaja. Dan dengan modal itu, kita dapat berkecimpung dalam bidang politik, mengincar kekuasaan dan mencampakkan akal pikiran.

Fouda memang menganut prinsip pemisahan agama dan negara, semata-mata demi kebaikan negara dan agama. Agama terlindungi dari manipulasi para politisi dan pemerintahan dapat terlaksana tanpa beban partikulisme keagamaan. Bagi Fouda, ketika agama dicampurkan dengan negara maka yang ada adalah absurditas dan kekejaman absolut.

Alangkah baiknya kita dengarkan Fouda bercerita tentang kisah yang membuatnya bercucuran air mata. Kisahnya terjadi di Mesir, pada saat pemakaman Yusuf Wahbah. Yusuf Wahbah, adalah seorang kristen koptik, menjabat perdana Menteri Mesir. Karena faktor agama, Yusuf Wahbah mendapat penentangan rakyat mesir yang mayoritas muslim. Aryan Saad lalu membunuh Yusuf Wahbah. Yang mengejutkan, Aryan Saad adalah juga penganut kristen koptik juga. Ketika ditanya mengapa ia melakukan perbuatan criminal tersebut,  Aryan menjawab bahwa ia sengaja membunuh Wahbah agar dia tidak dibunuh Muslim dan menimbulkan konflik sosial ditengah masyarakat. Dan tatkala lonceng gereja berdentang untuk menghormati jenazah Wahbah, tulis Fouda, tiba-tiba dari sebelahnya terdengar suara azan yang menggelegar. Kontan semua yang hadir mencucurkan air mata. Semua yang hadir menyesalkan babak terakhir penghormatan terhadap Yusuf Wahbah.

Aku bersumpah untuk Aryan, kata Fouda, azan dan lonceng akan selalu berpelukan ditanah ini. Setiap orang seharusnya menjadi hamba Allah yang setara. Duhai Aryan, Mesir akan tetap utuh sebagaimana engkau dan kami inginkan. Terjauh dari perpecahan. Terhindar dari malapetaka dan tak kami biarkan terbelah.

Bersama semangat Fouda, saya juga ingin bertanya kepada saudara sebangsa:

Wahai orang-orang Indonesia yang sehat jiwanya, apakah kita masih dapat berjalan beriringan?

8-Januari-1992, Fouda akhirnya mati. Beliau diberondong peluru islamist yang mengaku dari Jamaah Islamiyah. Orang seperti Fouda ini, dimata kaum islamist, memang pantas dibunuh. Ia menggangu keabsahan posisi khalifah bahkan dianggap menghina syariat. Ia penggagu kemutlakan. Tapi itu terjadi di mesir, 23 tahun lalu. Dan yang mengagumkan ciri muslim disini, tulis Gunawan Muhammad, justru departemen agama yang menerbitkan Kebenaran yang Hilang.

Download buku Kebenaran yang Hilang

Syria in Pain : Before and After

Syria in Pain : Before and After
oleh : Subbhan A, blogger

Assad membuka negaranya untuk perdagangan luar negeri, mengundang touris2 dari seluruh dunia datang ke Syria, memberikan kebebasan kepada lelaki dan wanita dan hak2 mereka sama. Sebelum revolusi yang dipaksakan, jumlah wanita professional meningkat signifikan, universita terbuka bagi semua kalangan, dan tak ada diskriminasi gender.

Negara dalam keadaan aman sentosa, kesejahteraan meningkat, dan hak asasi dihargai. Sebuah Negara multetnis dan memiliki 23 kepercayaan yang berbeda, Syria selalu menjadi Negara yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang mereka sukai dan hidup dalam martabat. Semua kerjasama atas dasar sukarela dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Dan para teroris secara nyata telah mengambil semua itu dari kami

Itu adalah ucapan Pastor Nazaro, ketua Persekutuan Pendata di Timur Tengah, depan sidang Genewa, 16-September-2015. PBB atas tekanan Amerika dan NATO selama ini berusaha dengan sangat keras menghancurkan Syria dan menjatuhkan Assad. Dan tidak ada pembelaan yang terbaik selain dari penganut kristiani untuk pemimpin2 barat yang mengaku sebagai penganut kristiani.

Syria, adalah surga-nya timur tengah. Walaupun mereka arab, cara bicaranya tidak meledak2 khas arab, Sebaliknya, mereka berbicara sangat lembut dan tertata. Wanitanya sangat cantik, perpaduan arab, eropa dan asia tengah. Walaupun sering kali dilanda perang, terutama melawan Israel, tapi Negara ini relative aman. Di ceritakan, bahkan anda dapat meletakkan sepeda anda diluar rumah, tanpa dikunci semalaman, dan tidak hilang. Para wanitanya, mereka aman bepergian keluar rumah malam hari, tanpa takut gangguan.

70pct warganya adalah sunni, sisanya alawite, syiah imamiyah, druze, kristiani, Armenia, kurdi, dan kaum minoritas lainnya. Walaupun demikian, Syria tetap hidup harmonis.

Syria yang aman, kini luluh lantak. Sejak teroris Wahhabi membanjiri Syria, Maret 2011, lebih dari 380 ribu rakyat Syria tewas, 4 juta internally displaced dan 4 juta externally displaced.

Dan saksikan sebagian kecil dari kerusakan infrastrukture yang teroris Wahhabi timpakan kepada rakyat Syria.

Homs tahun 2011, sebelum pemberontak merengsek dan menghancurkannya.

homs syria 2011

Homs yang hancur tahun  2014, setelah para teroris wahhabi membanjiri Syria. Kita layak bertanya, siapa yang membangun gedung-gedung tersebut dan siapa yang menghancurkanya?

homs syria 2014

Masjid Umar, Daraa. Atas pada tahun 2011, bawah pada tahun 2013

Omari Mosque in Deraa

Masjid Umayya Damaskus, gambar atas pada tahun 2012, dan gambar bawah pada tahun 2013. Para teroris Wahhabi selalu menipukan isu syiah menindas sunni untuk mengundang para teroris seluruh dunia membanjiri Syria. Mereka seharusnya bertanya, kenapa ada masjid bernama Umayya di Syria? Apakah ada orang shia yang mencintai Umayya? Kita juga patut bertanya, siapa yang kemudian menghancurkan masjid umayya yang sebelumnya baik-baik saja di jaman Bashar Assad?

Masjid Umayya, 2012 (atas) dan 2013 (bawah)

Pemandangan di sebuah sudut pasar Aleppo 2007 (atas), dan bawah (2013)

The Old Souk in Aleppo

Lagi, pemandangan di sebuat sudut pasar Aleppo, atas (2009), bawah (2012)

Souk Bab Antakya in Aleppo

Rumah Sakit Al-Kindi Aleppo, atas (2012), bawah (2013)

Al-Kindi hospital in Aleppo

Aleppon yang hancur luluh lantak, Mar 17, 2014. Aleppo yang indah dijaman Assad kini tak berbentuk.

Aleppo hancur luluh, March 17, 2014

Homs, nyaris tak terbentuk, Jan 27, 2014

Homs Jan 27, 2014

Pemandangan dramatis ketika penduduk Palestina di Yarmouk mengungsi menuju Damaskus, menghindari serangan mematikan ISIS dan AlQoida, jan 31, 2014. Lihat foto gedung-gedung yang sebagai latarnya. Dulu dibangun Bashar Assad untuk menampung para pengungsi Palestina yang terlunta. Lebih dari 2 juta pengungsi palestina di tampung Syria, diberika perumahan yang layak, pendidikan dan kesehatan. Hak-hak mereka sama dengan rakyat Syria. Mungkin kita harus bertanya, siapa yang membangun gedung2 tersebut dan siapa yang menghancurkannya?

Penduduk Yarmouk mengungsi ke damaskus, Jan 31, 2014

Seorang pemberontak FSA merenung didalam rumahnya yang hancur luluh lantak akibat Perang, Feb 19, 2014. Mungkin sekarang dia menyesal bergabung bersama pemberontak FSA dan mengundang para teroris asing membanjiri Syria dan justru menghancurkan Syria.

Foto FSA di Aleppo, Feb 19, 2014